3 AM
Pukul tiga pagi. Lampu meja masih menyala redup, menyinari secarik foto usang di tangan Roman. Ia duduk di tepi ranjang, matanya sembab tapi tak menangis. Entah sudah berapa malam ia terbangun di jam yang sama, seakan tubuhnya tahu bahwa ada sesuatu yang belum selesai.
Foto itu menampilkan dua anak remaja tertawa di bawah pohon flamboyan. Roman dan Aluna. Dulu.
Dulu, sebelum mereka saling menjauh.
Dulu, sebelum Roman memilih diam daripada kejujuran.
Dulu, sebelum perpisahan jadi satu-satunya bahasa yang mereka mengerti.
Tiga tahun berlalu. Aluna telah pergi tanpa pamit, membawa seluruh cahaya yang dulu Roman pikir akan abadi. Mereka tak pernah bertengkar hebat, tapi juga tak pernah menyelesaikan apa pun. Kata-kata yang seharusnya diucapkan mengendap jadi abu. Dan setiap pukul tiga pagi, abu itu mengendap di dada Roman.
Ia bangkit pelan, menuju jendela yang berkeringat dingin. Kota tampak mati, sepi seperti hatinya. Di luar sana, lampu jalan berkedip malas, menyorot bangku taman tempat mereka biasa duduk. Sekarang kosong. Sama seperti Roman.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Roman menulis sesuatu yang tak akan pernah dikirim:
"Aluna, kalau saja waktu bisa mundur... Mungkin aku akan memilih jujur, meski harus kehilangan. Karena kini, aku kehilanganmu tanpa tahu kenapa."
Ia melipat kertas itu, menaruhnya di dalam kotak kayu tua—tempat semua surat-suratnya untuk Aluna bersemayam. Tak satu pun pernah terkirim.
Jam berdetak.
Pukul 3.01.
Roman menarik napas panjang, mematikan lampu meja.
Di kegelapan, ia tahu satu hal: ada masa lalu yang tak bisa disembuhkan. Hanya dikenang, setiap pukul tiga pagi.
Komentar
Posting Komentar