Rindu Itu Bernama Ayah


Langit sore itu berwarna oranye lembut, seperti lukisan yang baru saja disapu kuas. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara burung-burung yang hendak pulang ke sarangnya. Di beranda kecil rumah kayu yang sederhana, seorang gadis berusia tujuh belas tahun duduk diam. Namanya Lila.

Di tangannya tergenggam secarik foto yang warnanya mulai pudar. Seorang pria berkumis tipis tersenyum dalam foto itu, mengenakan seragam dinas kehutanan. Di sisinya, seorang gadis kecil duduk di pangkuannya, memeluk erat dengan mata berbinar.

“Lila kecil yang dulu selalu tertawa di pangkuan Ayah,” gumamnya lirih, seakan berharap angin akan menyampaikan kalimat itu ke tempat di mana Ayah berada kini.

Sudah enam tahun sejak kabar itu datang. Ayahnya, Pak Damar, hilang saat bertugas memadamkan kebakaran hutan di perbatasan Kalimantan. Tim SAR hanya menemukan sisa topi dinas dan ransel yang terbakar sebagian. Tidak ada jenazah. Tidak ada kepastian. Hanya satu kata: hilang.

Sejak saat itu, hidup Lila berubah. Hari-harinya seakan kehilangan warna. Ia yang dulu ceria, kini lebih banyak diam. Sekolah tetap ia jalani dengan baik, tapi hatinya selalu kosong. Tiap malam ia menatap langit, berharap satu bintang jatuh membawa Ayah kembali.

Ibunya, Bu Erna, pun tenggelam dalam duka yang panjang. Tidak lagi menjual sayur di pasar, tidak lagi tertawa di dapur. Hanya duduk di kamar, menatap langit, berharap Pak Damar akan kembali—entah dari mana, entah bagaimana.

Di dalam rumah sederhana itu, waktu berjalan lambat. Tapi Lila tumbuh, pelan-pelan, meski dengan separuh jiwanya hilang. Ia menjadi pendiam, namun tekun. Tak satu hari pun berlalu tanpa ia menulis di buku hariannya tentang Ayah: kenangan, mimpi, bahkan doa.

Hari ini adalah tanggal 20 Juli, ulang tahun Ayah.

Di kamar kecilnya, Lila duduk di meja belajar. Ia membuka buku harian yang sudah hampir penuh. Dengan pena berwarna biru, ia mulai menulis:

> Ayah,

Hari ini ulang tahun Ayah. Aku tidak tahu apakah Ayah bisa membaca tulisan ini dari tempat Ayah berada sekarang. Tapi aku tetap menulis, karena menulis tentang Ayah adalah caraku tetap merasa dekat.

Tadi sore aku duduk di beranda, seperti yang sering kita lakukan dulu. Tapi tidak ada cerita petualangan, tidak ada cerita tentang hutan dan binatang. Hanya sepi, Ayah…

Ibu masih sering melihat ke langit. Mungkin berharap Ayah pulang naik helikopter seperti di film-film. Tapi aku tahu, kalau pun Ayah kembali, mungkin bukan seperti dulu lagi.

Aku rindu. Sungguh rindu.

– Lila



Ia menutup buku itu perlahan, lalu berdiri dan membuka jendela. Angin malam masuk dengan lembut, membawa suara jangkrik dan harum tanah yang dingin. Ia menggantungkan harapannya pada bintang—bintang yang dulu Ayah katakan adalah “lampu-lampu kecil Tuhan untuk menuntun orang pulang.”

Malam itu, Lila bermimpi. Ia berada di tengah hutan, dikelilingi kabut. Suara burung enggang terdengar samar. Di depannya, seorang pria berdiri membelakanginya, mengenakan seragam kehutanan. Lila ingin berlari memeluk, tapi kakinya terasa berat. Saat pria itu berbalik, wajahnya samar, namun senyumnya hangat. Lalu ia berkata:

> “Jangan sedih terlalu lama, Nak. Ayah tidak pernah benar-benar pergi…”



Dan saat Lila hendak menjawab, semuanya menghilang.

Ia terbangun dengan air mata di pipi. Napasnya berat, tapi ada sesuatu dalam dadanya—bukan sedih, tapi hangat, seperti pelukan yang lama hilang dan tiba-tiba kembali. Ia berlari ke kamar Ibu dan menemukan Bu Erna duduk di lantai, menatap sebuah kotak kayu tua.

“Bu… itu apa?” tanya Lila dengan napas masih terengah.

Bu Erna menatapnya. Matanya sembab, tapi tidak segelap biasanya. “Ibu nemu ini di gudang. Isinya surat-surat dari Ayah buat kamu, yang belum pernah Ibu berikan…”

Lila mendekat. Di dalam kotak itu, terlipat rapi beberapa lembar kertas tua, ditulis dengan tangan. Aroma kertas yang menguning bercampur bau kayu tua. Ia mengambil satu, membuka perlahan, dan membaca:

> Untuk Lila,

Jika suatu hari Ayah tidak bisa pulang, jangan takut. Lanjutkan hidupmu dengan berani. Jangan biarkan dunia mematikan cahaya di hatimu. Jadilah terang, meski kecil.

Ayah akan selalu ada—di langit, di pepohonan, di dalam tawamu, dan terutama… di dalam hatimu.

– Ayah



Tangis Lila pecah. Ia tak bisa menahan air mata yang sejak lama ditahannya. Bu Erna memeluknya erat, dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, mereka menangis bersama, bukan karena kehilangan, tapi karena menemukan kembali jejak cinta yang tak pernah hilang.

Hari-hari berikutnya mulai berubah. Ibu perlahan kembali membuka diri. Ia mulai menanam sayur lagi di kebun kecil. Lila mulai tersenyum lebih sering. Surat-surat Ayah dibaca setiap malam, satu per satu, seolah setiap kalimatnya adalah pelita yang menuntun mereka keluar dari gelap.

Suatu pagi, Lila berdiri di depan kelas dan membacakan pidato kelulusannya. Suaranya tegas, tapi mata masih sembab.

“Ayahku adalah seorang penjaga hutan. Ia tidak pernah kembali secara fisik. Tapi aku yakin, dia masih di sini. Di setiap semangat yang kutumbuhkan, di setiap langkah yang kuambil. Rindu ini bukan luka. Ia adalah pengingat bahwa aku pernah dicintai begitu dalam.”

Semua orang di ruangan itu terdiam. Tak sedikit yang menitikkan air mata.

Di akhir pidatonya, Lila mengangkat kepalanya ke langit.

“Ayah, aku lulus. Aku akan melanjutkan ke jurusan kehutanan. Aku akan menjaga hutan seperti yang Ayah lakukan. Rindu ini tidak akan jadi beban. Rindu ini akan jadi sayapku.”

Langit hari itu cerah. Burung enggang melintas di kejauhan. Seorang gadis berdiri tegak dengan foto Ayah di tangannya.

Dan di langit, di antara bintang dan awan, mungkin seseorang tersenyum bangga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah