8:07 PM
Aku selalu mengingatnya pada pukul 8:07 malam. Jam itu seakan terpatri dalam hidupku, di angka raksasa yang menempel di Menara Big Ben.
London, awal tahun 2000-an, dipenuhi hiruk pikuk lampu kota dan riuh bus merah bertingkat. Namun di balik semua itu, ada aku, berdiri mematung di tepi Sungai Thames, menatap jarum jam yang nyaris tak pernah meleset. Setiap kali berdentang di angka itu, aku kembali ke satu wajah, satu momen, satu rasa yang tak pernah benar-benar selesai.
Aku bertemu Clara pada musim gugur tahun 2002, tepat di depan Big Ben. Aku baru saja keluar dari kantor pengacara tempatku magang, kepalaku penuh berkas kasus yang membosankan. Lalu ada seorang perempuan berambut cokelat kemerahan berdiri di bawah jam, menatap langit yang berkabut.
Aku tidak tahu bagaimana ia menyadari kehadiranku. Tapi ketika matanya menoleh, aku merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama.
“Jam ini selalu tepat,” katanya, menunjuk Big Ben. “Tapi aneh, hidup kita justru penuh keterlambatan.”
Itu kalimat pertama yang kudengar darinya, sederhana tapi menusuk. Kami lalu berjalan bersama, menyusuri tepian sungai, membicarakan hal-hal remeh: teh sore, hujan London, buku yang tak pernah selesai dibaca. Aku tahu, saat itu, aku telah bertemu seseorang yang akan merubah hidupku.
Hari-hari berikutnya menjadi serpihan kebahagiaan kecil. Bersamanya, bahkan London yang kelabu terasa seperti kanvas penuh warna. Kami duduk di bangku kayu dekat Westminster Bridge, berbagi payung kecil saat hujan rintik turun.
Clara punya kebiasaan aneh: ia selalu melihat jam pada pukul 8:07 malam.
“Kau tahu?” katanya suatu malam. “Ibuku selalu pulang kerja jam segitu, dulu. Aku kecil, menunggu dentang jam, lalu berlari ke pintu. Itu kebiasaan yang kubawa sampai sekarang. Jam itu selalu berarti pulang.”
Aku tersenyum, lalu menjadikannya ritual kami. Setiap 8:07 malam, kami akan saling menatap, tertawa, atau diam. Tak penting di mana kami berada. Itu momen kecil, tapi indah.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.
Ambisiku, pekerjaanku, kesombonganku—semua menggerogoti kami. Aku sering pulang terlambat, melewatkan 8:07, melewatkan tatapan matanya yang sabar namun semakin meredup.
“London memberimu segalanya,” kata Clara suatu malam, “tapi perlahan ia mencuri aku darimu.”
Aku diam. Kata-katanya benar, tapi aku tak pernah mengakuinya. Saat itu aku lebih sibuk mengejar promosi, kontrak, dan nama di papan firma hukum. Clara hanya tersenyum getir, lalu menatap Big Ben. “Kau bahkan lupa jam kita.”
Malam itu aku membiarkannya pulang sendiri.
Beberapa minggu kemudian, aku mendapat kabar bahwa Clara meninggalkan London. Tak ada pesan, tak ada catatan. Hanya kabar samar dari seorang teman: ia pindah ke Paris, mengejar mimpinya sebagai penulis.
Aku merasa kosong. Pukul 8:07 malam di Big Ben berdentang dengan suara yang sama, tapi kali ini menusuk telingaku. Tak ada lagi tatapan mata, tak ada lagi senyum, hanya dentang logam yang terasa dingin.
Sedih itu menempel, seperti kabut yang tak mau hilang. Aku berdiri di bawah jam, menatap jarum panjang yang terus berputar, menyadari bahwa aku telah kehilangan sesuatu yang takkan kembali.
Tahun-tahun berlalu. Aku mendapat semua yang kuinginkan: posisi tinggi, apartemen mewah, pengakuan. Tapi setiap kali Big Ben berdentang pukul 8:07, aku menutup mata, membayangkan Clara.
Aku teringat bagaimana ia tertawa ketika aku salah menyeduh teh. Bagaimana ia mengusap mataku saat aku kelelahan. Bagaimana ia menatap jam, seolah itu kawan lamanya. Bersamanya, aku pernah bahagia dengan cara yang paling sederhana.
Kini, setiap kali mengenangnya, aku merasakan penyesalan yang dalam. Mengapa aku tak pernah menahannya malam itu? Mengapa aku membiarkannya pergi, seakan waktu masih memberiku kesempatan?
Aku tahu jawabannya: aku bodoh.
Suatu malam di tahun 2007, lima tahun setelah ia pergi, aku kembali berdiri di bawah Big Ben. Pukul 8:07 mendekat. Orang-orang berkerumun, turis mengambil foto, suara lalu lintas bising.
Lalu aku melihat siluet. Rambut cokelat kemerahan, berdiri di sisi lain jalan, menatap jam. Hatiku berhenti berdetak sejenak.
Aku berlari, menyeberangi jalan, tapi kerumunan terlalu padat. Saat aku tiba, bayangan itu sudah hilang. Entah nyata, entah hanya permainan pikiranku.
Yang tersisa hanya dentang jam, dan rasa bahwa waktu sedang mengejekku.
Aku menulis surat panjang untuk Clara, berkali-kali, tapi tak pernah kukirimkan. Surat itu penuh kata-kata tentang sedih dan bahagia, tentang betapa aku menyesali semua keterlambatan, semua keegoisan.
“Jika waktu bisa kembali ke 8:07 malam itu, aku akan memelukmu erat, dan tidak akan melepas.”
Surat itu kini hanya tersimpan di laci meja, lusuh, penuh noda kopi.
Sekarang, setiap kali jarum jam mendekati angka itu, aku berhenti bekerja, berdiri, dan menatap ke arah Big Ben. 8:07 malam bukan lagi tentang pulang, bukan tentang ritual kecil, melainkan tentang luka yang terus berulang.
Sedih karena kehilangan, bahagia karena pernah memilikinya, dan getir karena semua itu hanya ada bersamanya—yang kini jauh, entah di mana.
London terus berdentang, orang-orang terus berjalan, waktu terus bergulir. Hanya aku yang tetap terjebak, mengulang kenangan di bawah menara tua itu.
8:07 PM. Selalu.

Komentar
Posting Komentar