Langkah Kecil Menuju Rumah
Aku tak tahu dari mana asalku, selain dari lorong-lorong basah dan tempat sampah yang selalu ramai di malam hari. Aku hanya tahu bahwa aku lahir di dunia yang dingin, keras, dan tidak pernah benar-benar menginginkanku.
Sejak kecil, aku hidup di antara suara klakson dan langkah manusia yang terburu-buru. Tak satu pun dari mereka pernah menoleh ke arahku. Tak satu pun berhenti. Tanganku pernah diinjak tanpa sengaja, tubuhku pernah dilempar batu hanya karena aku mendekat saat lapar. Bahkan sesama kucing pun berebut makanan dan saling mencakar. Aku tumbuh dengan belajar diam, menjauh, dan tidak berharap.
Aku tidak tahu apa itu rumah. Aku tidak tahu apa artinya dielus. Yang kutahu, hidup adalah bertahan. Tidur di bawah kontainer saat hujan. Mencuri ikan dari pasar saat lapar. Lari sebelum diseret pergi oleh manusia dengan suara keras dan benda panjang di tangannya. Kadang, aku berharap hari esok tidak datang. Kadang aku bertanya dalam diam—untuk apa aku ada?
Lalu suatu sore, saat hujan turun pelan dan perutku belum terisi sejak kemarin, aku menemukan pintu kayu terbuka. Rumah tua. Jendela kaca berembun. Dari dalamnya keluar cahaya kekuningan yang hangat. Aku tak ingin masuk. Tapi tubuhku menggigil. Dan bau roti panggang entah bagaimana membawa kakiku melangkah lebih dekat.
Saat itulah aku melihatnya. Seorang perempuan tua dengan rambut perak bergelombang dan mata keriput yang seperti laut yang tenang. Ia tidak terkejut melihatku. Ia tidak mengusir. Ia hanya berkata pelan, “Apa kau tersesat, Nak?”
Aku diam.
Ia melangkah perlahan, membungkuk, dan mengulurkan tangannya. Aku sempat mundur, takut. Tapi ia tetap diam. Tidak memaksa. Tangannya hanya diam di udara, menunggu, seakan berkata, "Kau boleh memilih."
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendekat. Perlahan, penuh ragu. Tangannya menyentuh buluku yang kotor dan basah. Hangat. Lembut. Tidak ada rasa sakit.
Ia tersenyum. “Namamu… Pudding, ya? Kau terlihat manis sekali.”
Aku tidak tahu artinya diberi nama. Tapi saat ia mengucapkannya, seolah aku ada. Seolah aku bukan hanya sepotong bayangan yang tak pernah dianggap.
Sejak malam itu, aku tinggal di sana.
Rumah itu tidak besar. Tapi ia penuh. Penuh suara ketel mendidih, suara radio tua yang kadang cempreng, dan tawa pelan Nona May saat membaca buku di kursi rotannya. Aku belajar duduk di pangkuannya. Belajar memejam dengan damai. Belajar bahwa tidak semua sentuhan berarti bahaya.
Hari-hari diisi kehangatan. Ia akan bicara padaku setiap pagi. Kadang tentang masa mudanya, tentang suaminya yang telah lama tiada, atau tentang anak perempuannya yang tinggal jauh di kota. Ia akan mengelusku sambil berbisik, “Aku tak punya siapa-siapa lagi… tapi kau di sini, Pudding. Terima kasih, ya.”
Dan aku akan membalasnya dengan membalutkan tubuhku di kakinya. Aku belum tahu apa itu cinta. Tapi kupikir... inilah rasanya.
Aku menjadi bagian dari rumah itu. Kursi rotan jadi singgasanaku. Jendela kaca jadi tempatku menonton dunia luar. Mangkuk keramik biru selalu penuh makanan. Kadang ia memberiku sisa krim atau sepotong ayam dari supnya. “Karena kamu anak baik,” katanya. Kata-kata yang aneh, tapi membuatku ingin terus tinggal.
Musim pun berganti. Salju turun, menutupi atap rumah dan jalan setapak. Tapi perapian selalu menyala. Dan kami—dua makhluk kesepian—menghangatkan satu sama lain.
Lalu, suatu malam, ia batuk cukup keras hingga membuatku terbangun. Nafasnya berat. Tubuhnya gemetar. Aku naik ke ranjangnya, melingkari tubuhnya seperti selimut kecil yang bisa kuberikan.
Ia memandangku. “Jika suatu hari aku tak bisa bangun lagi, kamu harus janji, ya? Cari rumah baru. Jangan bertahan sendirian.”
Aku tidak tahu maksudnya. Tapi aku menjilat tangannya yang keriput dan dingin. Dalam diam, aku berjanji.
Dan pagi itu… ia tidak bangun.
Aku menunggunya. Menepuk lembut dengan cakarku. Menyelipkan kepala ke dadanya. Tidak ada gerakan. Tidak ada suara.
Aku tidak menangis—kucing tidak menangis. Tapi aku duduk di sampingnya sepanjang hari. Sampai malam, sampai pagi lagi, sampai orang-orang datang dengan suara yang tak kukenal.
“Dia sudah tua... meninggal dalam tidur, katanya.”
“Lihat, kucingnya terus nempel. Mungkin itu satu-satunya temannya.”
Mereka membungkus tubuhnya dan membawanya pergi. Mereka tidak menoleh ke arahku. Mereka tidak tahu... aku kehilangan dunia.
Rumah itu dikosongkan. Foto-foto dilepas dari dinding. Meja makan dilipat. Bahkan bau roti pun tak ada lagi. Aku tetap tinggal di sana beberapa malam, berharap ia kembali. Tapi saat pintu ditutup dan dikunci dari luar, aku tahu—aku tak punya pilihan.
Aku kembali ke jalan.
Kali ini tidak hanya lapar. Tapi hampa.
Taman yang dulu kulihat dari jendela, kini dingin dan sepi. Bangku rotan yang dulu jadi tempatnya membaca kini hanya benda mati. Dunia ini bising, penuh warna, tapi tidak punya suara yang kucari.
Beberapa orang memperhatikanku. Ada yang melempar makanan. Ada yang mencoba menangkapku. Tapi tak satu pun terasa seperti "rumah."
Aku tidur di bawah mobil. Di balik kardus. Dihalau dari depan toko. Aku hampir lupa bagaimana rasanya dielus. Bagaimana suara lembut menyebut namaku.
Sampai suatu sore, aku melihat seorang gadis duduk di halte. Ia memegang buku sketsa dan menangis. Angin meniupkan aromanya padaku. Wangi sedih.
Aku mendekat. Ia melihatku.
“Pudding…?”
Aku menoleh. Bagaimana ia tahu?
“Aku dulu punya kucing… dia hilang. Tapi kamu mirip sekali...”
Ia membungkuk. Aku mendekat. Ia menggendongku. Tubuhnya bergetar. Tapi bukan karena takut. Tapi karena menangis.
Ia membawaku pulang ke apartemennya. Memberiku selimut. Makanan. Dan—lagi-lagi—nama yang sama: “Pudding.”
Untuk beberapa minggu, aku berpikir mungkin aku telah menemukannya lagi: rumah.
Kami tidur bersama. Ia menggambar wajahku, menyuapiku biskuit kecil, tertawa sambil berkata, “Terima kasih sudah datang lagi.”
Tapi rumah itu tidak bertahan.
Suatu malam, pintu diketuk. Orang-orang datang. Gadis itu berteriak. Nama ayahnya disebut-sebut. Ia pergi esoknya, dengan koper dan mata merah. Tak kembali.
Aku ditinggalkan lagi.
Dan aku kembali ke jalan.
Aku melewati musim baru. Melewati hari-hari yang semakin kabur. Bertemu manusia-manusia yang baik dan buruk. Tapi tidak ada yang tinggal. Tidak ada yang mengatakan “kau boleh di sini.”
Sampai suatu hari, aku tiba di toko buku tua di sudut kota.
Dari luar, tampak sepi. Tapi di dalamnya, ada pria tua yang membaca. Ia melihatku dan membuka pintu.
“Datang dari mana kau, kawan kecil?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya duduk. Diam.
Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya memberi susu hangat dan membiarkanku masuk. Tidak mencoba mengelus, tidak mengusir. Hanya menerima.
Toko itu menjadi tempatku berteduh. Aku tidur di atas tumpukan majalah tua. Duduk di jendela saat hujan. Anak-anak yang datang memelukku, menyapaku. Aku belajar bahwa cinta bisa tumbuh dari tanah yang berbeda.
Pria tua itu tidak memberiku nama baru. Ia tetap memanggilku “Pudding”, seperti ia tahu—aku membawa cerita dari masa lalu.
Setiap malam, ia membaca buku dengan suara lembut, dan meski aku tak paham isinya, aku selalu mendengarkan. Suara itu tidak sama dengan milik Nona May, tapi mengandung sesuatu yang serupa.
Aku belum tahu berapa lama aku akan tinggal di sini.
Aku tahu suatu hari nanti, aku mungkin harus berjalan lagi.
Tapi sekarang, aku tahu satu hal yang pasti:
Rumah bukan tempat yang tetap. Ia bisa berubah bentuk, berganti wajah. Tapi selama ada tangan yang terbuka, suara yang hangat, dan kehadiran yang tulus... aku akan tahu, aku telah sampai.
Aku hanyalah seekor kucing yang dulu tak pernah tahu apa itu cinta.
Tapi kini, aku tahu rasanya dicintai.
Dan selama dunia masih menyisakan satu jendela terbuka, satu mangkuk kecil, satu suara yang memanggil dengan lembut…
Aku akan terus mencari.
Langkah kecil, menuju rumah.
Terinspirasi dari sebuah game, Copycat.

Komentar
Posting Komentar