Tumbang di Ujung Paru-paru
Namanya Leman. Ia dilahirkan di tengah barisan pohon meranti dan ulin, di sebuah dusun kecil yang bahkan tak masuk peta. Sejak kecil, Leman tak mengenal kata “properti”—tanah adalah tubuh mereka, hutan adalah ibu mereka, dan sungai adalah tempat mereka mencuci luka dan cerita.
Ayahnya seorang pembuat rakit. Ibunya memintal tikar dari daun pandan. Mereka hidup dari hasil hutan tanpa merusaknya. Ketika Leman tumbuh besar, ia mulai mengenali suara-suara hutan lebih akrab dari suara radio: burung rangkong di pagi hari, siamang yang bersahutan, dan ranting yang patah perlahan jika dipijak binatang besar.
Namun semua itu tinggal kenangan.
Kini, Leman berdiri di atas tanah yang dulu hutan—kini lapang, panas, dan berbau oli. Di belakangnya berdiri ekskavator kuning seperti hewan purba. Di depannya, terbentang kebun sawit yang baru saja ditanam. Lurus, steril, seperti barisan pasukan.
Ia mengingat malam itu, saat mereka dibangunkan deru mesin. Sebuah perusahaan datang, mengantongi izin dari pusat. Katanya tanah ini “bukan hutan”—karena belum tercatat sebagai hutan negara. Padahal, katanya, pohon-pohon itu berdiri di sana sebelum republik ini punya presiden.
“Kalau tak punya sertifikat, artinya ini bukan milikmu,” kata orang kantor. Leman dan warga lainnya melongo. Seumur hidup, mereka tak pernah punya kertas. Mereka punya pohon warisan. Tapi di pengadilan, warisan lisan tidak sah.
Maka datanglah truk-truk. Menumbangkan, membakar, dan menanami kembali. Tapi bukan dengan rotan atau durian—melainkan sawit.
“Demi ketahanan pangan,” kata plang proyek besar. Tapi yang mereka lihat hanyalah toko kelontong yang tak lagi punya air bersih karena sungai keruh. Sekolah tak punya guru karena jalan rusak. Dan panas siang hari yang menggigit seperti tak pernah dulu.
Suatu malam, Leman mendengar ibunya batuk keras. Bukan karena flu, tapi karena kabut. Api dari ladang sebelah yang dibakar menyebar, menciptakan asap tebal selama seminggu. Anaknya—yang baru berusia 4 tahun—dirawat di klinik desa karena sesak napas.
“Tapi bukan perusahaan,” kata pejabat. “Itu ulah warga.”
Leman tertawa, getir. Tak ada warga yang punya uang beli bensin dan korek sebanyak itu. Tapi siapa yang mau mendengar logika seorang petani tak bersertifikat?
Pada musim penghujan berikutnya, banjir datang. Tanah tak lagi menyerap air seperti dulu. Akar-akar pohon telah dicabut, dan kanal-kanal drainase justru membawa lumpur ke pemukiman.
Banjir membawa lebih dari sekadar air: ia membawa berita. Wartawan datang, mengambil foto, dan mewawancarai Leman.
“Kami kehilangan semuanya,” katanya pelan.
Tapi ketika berita tayang, judulnya berbunyi: “Warga Kurang Edukasi, Tak Siap Hadapi Perubahan Iklim.”
Leman tertawa lagi. Edukasi macam apa yang mengubah pelindung hutan menjadi terdakwa?
Beberapa bulan kemudian, datang kabar bahwa akan ada program “penanaman satu juta pohon.” Mereka diundang untuk menanam bibit sengon di bekas lahan yang dulu hutan adat mereka. Tentu saja, kamera dan pejabat hadir.
Leman diminta tersenyum di depan kamera. Ia pegang cangkul, tanam pohon, dan ditepuk pundaknya.
“Tandanya pemerintah peduli,” kata seseorang berjas.
Tapi seminggu kemudian, hujan besar mengguyur. Tanah longsor. Bibit hanyut. Dan tak ada yang datang kembali.
Anaknya kini belajar di sekolah di kota kecil. Mereka tak lagi punya tanah untuk bercocok tanam, jadi Leman pindah ke pinggir kota, jadi buruh. Di malam hari, ia suka membuka foto-foto lama di ponsel—foto waktu dia berdiri di antara dua pohon besar, tinggi menjulang.
Dulu, ia percaya hutan akan menjaga mereka. Sekarang, ia tahu: yang menjaga hanyalah siapa yang punya izin.
Sebelum tidur, anaknya bertanya, “Ayah, kenapa hutan kita habis?”
Leman diam lama. Lalu menjawab, “Karena kami terlalu percaya bahwa pohon besar tak bisa ditebang hanya dengan selembar kertas.”
Dan malam itu, Leman bermimpi. Ia melihat siamang kembali ke pohon yang tak ada. Ia mendengar sungai memanggil dari bawah lapisan beton. Dan ia tahu—tak semua kehilangan berbunyi keras. Beberapa hilang perlahan, diam-diam, seperti dedaunan yang luruh. Seperti hutan yang ditukar janji.

Komentar
Posting Komentar