Mengenal Kepribadian Ganda
Apa Itu Kepribadian Ganda?
Kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif adalah suatu kondisi kesehatan mental, ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Pengidap gangguan ini mengalami kepribadian yang berubah-ubah tanpa ia sadari.
Ciri gangguan ini berupa masalah memori, kesadaran, atau kepribadian. Semua kondisi tersebut muncul akibat stres atau kejadian traumatis yang pengidapnya alami pada masa kecilnya.
Bentuk trauma ini dapat berupa kekerasan fisik atau emosional yang terjadi secara berulang-ulang.
Ciri-ciri Kepribadian Ganda
Berikut adalah ciri-ciri orang yang terkena penyakit kepribadian ganda.
Merasa asing dengan diri sendiri.
Seseorang yang mengalami kepribadian ganda, mungkin akan merasa seakan-akan dia sedang mengamati dirinya sendiri. Atau, seperti tidak terhubung dengan diri mereka sendiri. Baik secara fisik, rasa, ataupun pikiran.
Hilang ingatan (Amnesia).
Pengidap DID akan mengalami kehilangan ingatan, seperti lupa dengan kejadian penting dalam hidup mereka. Contoh: tanggal ulang tahun, dan lain sebagainya. Ini disebabkan karena kepribadian lain tengah mengambil alih tubuhnya.
Perubahan suasana hati (mood) yang sangat drastis.
Suasana hatinya bisa berubah dengan cepat. Dan secara tiba-tiba atau tidak terduga. Dari sedih, kemudian menjadi bahagia tanpa alasan.
Perasaan seperti sedang "menonton" diri sendiri.
Merasa seolah sedang menonton dirinya sendiri ketika kepribadian yang lain sednag mengambil alih.
Tidak sadar akan apa yang telah dia lakukan.
Dia mungkin, tidak sadar akan perbuatan dan ucapannya ketika kepribadian yang lain sedang aktif.
Tidak mampu mengingat waktu dengan jelas.
Mereka akan merasa bahwa waktu berjalan lebih cepat, atau lebih lambat. Atau bahkan merasa bahwa waktu hilang sama sekali.
Merasakan sakit saat sedang berpindah kepribadian.
Beberapa orang pengidap DID mungkin akan merasakan nyeri fisik ataupun emosional saat sedang berpindah dengan kepribadian yang lain.
Memiliki keterampilan yang berbeda-beda.
Orang yang mengidap gejala DID bisa memiliki keterampilan yang berbeda-beda, tergantung dari kepribadian mana yang sedang aktif. Seperti kemampuan berbahasa, mekanik, atau musik.
Selera yang berubah-ubah.
Beberapa dari mereka akan memiliki selera yang berbeda-beda terhadap makanan, pakaian, musik, dan lain sebagainya. Hal ini, tergantung pada kepribadian mana yang sedang aktif.
Perubahan perilaku yang signifikan.
Perilaku mereka bisa berubah secara drastis, dari yang sebelumnya tenang, bisa menjadi agresif. Ataupun sebaliknya.
Penyebab Kepribadian Ganda
Hingga saat ini penyebab pasti dari kepribadian ganda belum jelas.
Namun, ada beberapa kondisi yang diduga menjadi penyebabnya, yaitu:
Trauma berat.
Pernah mengalami trauma fisik, seksual, atau emosional yang parah pada masa kanak-kanak ataupun remaja, dapat memicu kondisi ini.
Ketidakstabilan lingkungan sekitar.
Lingkungan yang tidak stabil atau disfungsional juga dapat berperan dalam pembentukan kepribadian ganda.
Genetik.
Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa faktor genetik mungkin juga memainkan peran dalam pembentukan kepribadian ganda.
Tidak mampu menangani stres.
Orang-orang yang kurang mampu dalam memanajemen stres, akan lebih rentan terhadap perkembangan kepribadian ganda.
Faktor Risiko Kepribadian Ganda
Terdapat beberapa pengalaman traumatis yang bisa memicu kepribadian ganda, antara lain:
Kecelakaan.
Bencana alam.
Pelecehan seksual.
Tindak kekerasan.
Sebagai upaya mengatasi peristiwa traumatis, secara tidak sadar, otak pengidap kepribadian ganda berusaha untuk memisahkan memori buruk tersebut dengan kehidupan normal sehari-hari.
Istilah medis untuk menggambarkan kondisi tersebut, yaitu disosiasi.
Mekanisme disosiasi ini yang menimbulkan gejala kepribadian ganda.
Kondisi ini bisa terjadi ketika ada pengabaian atau pelecehan emosional yang terus-menerus, bahkan meskipun tidak ada pelecehan fisik atau seksual.
Cara Mencegah Kepribadian Ganda
Pencegahan kepribadian ganda yang paling utama yakni dengan menghindari faktor pencetusnya.
Upaya lain yang bisa dilakukan, yaitu:
Mendapatkan edukasi kesehatan mental agar bisa memahami gejala-gejala gangguan mental.
Mengatasi trauma sejak dini dengan meminta dukungan dan menjalani terapi atau konseling.
Menciptakan lingkungan yang aman, mendukung, dan stabil dalam keluarga.
Melatih keterampilan pengelolaan stres. Caranya dengan berlatih meditasi, yoga, dan olahraga
Menambah jaringan dukungan sosial yang kuat agar bisa menghadapi stres dan trauma dengan lebih baik. Keluarga, teman, atau kelompok dukungan bisa menjadi sumber dukungan yang penting.
Hindari penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang, karena penyalahgunaan zat dapat memperburuk gangguan kepribadian

Komentar
Posting Komentar