Tentang Kesepian

 

Kesepian bukan sekadar ketiadaan orang di sekelilingmu. Ia lebih kejam dari itu. Ia seperti bayangan yang terus mengikutimu, bahkan saat kau berpura-pura tertawa. Ia tak bersuara, tapi berteriak di dalam kepala. Tak berbentuk, tapi menyesakkan dada seperti dinding yang semakin menyempit. Kau bisa berada di tengah keramaian, namun merasa tak lebih dari bayang-bayang transparan yang dilupakan dunia.

Kesepian menggerogoti dari dalam—perlahan, sabar, dan tak pernah terburu-buru. Ia membisikkan padamu bahwa tidak ada yang benar-benar peduli. Bahwa jika kau menghilang esok pagi, dunia akan tetap berputar tanpa jeda, tanpa duka. Bahwa rindu yang kau simpan tak akan pernah dijawab. Bahwa tak ada yang akan datang, bahkan ketika kau menyalakan semua lampu dan membiarkan pintu terbuka.

Kesepian membuat waktu melambat. Jam demi jam berlalu seperti menunggu kematian yang tak kunjung datang. Makan tanpa rasa. Tidur tanpa mimpi. Hidup tanpa arah. Kau mulai meragukan nilai keberadaanmu sendiri. Kau bertanya-tanya apakah pernah ada saat di mana kau benar-benar dibutuhkan, atau semuanya hanya ilusi yang kau ciptakan agar tak gila.

Dan pada akhirnya, kesepian bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia adalah hasil dari dunia yang terus berjalan tanpa memandang ke belakang, dari hati-hati yang terlalu sibuk untuk menyapa, dari janji-janji yang terlupakan, dan dari luka-luka kecil yang tak pernah sembuh. Ia adalah bukti bahwa manusia bisa dikelilingi oleh segalanya—dan tetap merasa tak punya siapa-siapa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah