Namanya Leman . Ia dilahirkan di tengah barisan pohon meranti dan ulin, di sebuah dusun kecil yang bahkan tak masuk peta. Sejak kecil, Leman tak mengenal kata “properti”—tanah adalah tubuh mereka, hutan adalah ibu mereka, dan sungai adalah tempat mereka mencuci luka dan cerita. Ayahnya seorang pembuat rakit. Ibunya memintal tikar dari daun pandan. Mereka hidup dari hasil hutan tanpa merusaknya. Ketika Leman tumbuh besar, ia mulai mengenali suara-suara hutan lebih akrab dari suara radio: burung rangkong di pagi hari, siamang yang bersahutan, dan ranting yang patah perlahan jika dipijak binatang besar. Namun semua itu tinggal kenangan. Kini, Leman berdiri di atas tanah yang dulu hutan—kini lapang, panas, dan berbau oli. Di belakangnya berdiri ekskavator kuning seperti hewan purba. Di depannya, terbentang kebun sawit yang baru saja ditanam. Lurus, steril, seperti barisan pasukan. Ia mengingat malam itu, saat mereka dibangunkan deru mesin. Sebuah perusahaan datang, mengantongi izin dar...
Komentar
Posting Komentar