Bahasa Yang Terlupa
Kota itu tidak berdenyut, tidak bergerak, tidak berubah. Langitnya kelabu selamanya, dan kabut menggulung seperti napas dingin dari dunia yang menolak kehidupan. Mereka menyebutnya Necrovia—Kota Para Mati. Bukan karena penduduknya mayat, tapi karena siapa pun yang masuk ke sana akan kehilangan sesuatu. Identitas, suara, ingatan, atau lebih buruk: kemanusiaannya.
Dan di sebuah ranjang logam di tengah rumah terbakar yang membusuk, seorang anak terbangun.
Namanya—tidak dia tahu. Umurnya? Tidak penting. Yang dia tahu hanyalah panas. Api menjilat dari setiap sudut ruangan, dan dinding berderak seperti tulang patah. Namun tubuhnya tetap diam, terikat rantai tak kasatmata pada tempat tidur besi. Lidahnya kelu. Suaranya tertahan di tenggorokan.
Ia mencoba berteriak, namun yang keluar hanyalah… lagu. Sebuah lagu yang aneh, bergema dari mulut-mulut yang tidak bergerak. Lagu yang tak dimengerti orang waras—bahasa yang terlupa, mungkin.
Ia menghirup asap dan merasakan tubuhnya perlahan mengelupas, bukan secara fisik, melainkan seperti... jiwa yang ditarik-tarik. Lalu sebuah suara terdengar di dalam kepalanya:
Kau masih ada? Atau hanya salinan dari salinan?
Ia menggigil. Pertanyaan itu terlalu akrab.
Namanya muncul di langit-langit kamar, terbakar di atas api. “Unit 0412-B: REPLIKA.” Ia membaca itu dengan ketakutan, seolah-olah itu adalah hukuman mati yang disembunyikan dalam bahasa kode.
Ia melihat tangannya—terbuat dari sesuatu yang menyerupai kulit, tapi terlalu sempurna. Tidak ada luka, tidak ada pori. Tapi saat ia menggenggam telapak sendiri, rasa sakit muncul. Luka lama, meski tak terlihat.
"Robot?" gumamnya. "Atau boneka?"
Apakah dia punya jiwa? Apakah dia pernah punya masa lalu? Atau semua kenangan yang ia pegang adalah hasil dari instalasi ulang?
Ia mencoba merangkak keluar dari ranjang, tubuhnya lemah, namun keinginan itu kuat. Di luar, rumah terbakar sudah runtuh, tapi dunia tetap dingin. Tidak ada sinyal kehidupan—hanya mayat-mayat, tertancap seperti patung di jalanan. Beberapa menangis darah. Beberapa tertawa tanpa suara.
“Kenapa aku masih hidup?” tanyanya. Tapi tidak ada jawaban.
Di tengah reruntuhan, ia bertemu makhluk lain. Seorang gadis dengan mata kosong, rambut putih seperti abu. Ia duduk di atas bangkai mobil, mengukir sesuatu ke dalam logam dengan jari telanjang.
"Siapa kamu?" tanya si anak.
"Aku bukan siapa-siapa," jawab gadis itu. "Sama sepertimu."
"Kenapa aku di sini?"
"Karena kamu belum menemukan bahasa yang hilang."
"Apa maksudmu?"
Gadis itu menatapnya, dan untuk pertama kali, mata yang kosong itu berkaca-kaca. “Bahasa itu... adalah dirimu sendiri.”
Kemudian ia bangkit, dan perlahan berjalan menjauh, meninggalkan jejak bercahaya seperti serpihan data. Si anak mengejarnya, meski tubuhnya nyaris rubuh. Di sepanjang jalan, dinding kota berbisik dalam kode. True... False... 0011... System Error...
Setiap langkah terasa seperti mimpi buruk yang berulang. Tapi ia terus berjalan.
Ia tiba di bangunan besar seperti katedral, tapi dari dekat terlihat seperti CPU raksasa yang ditinggalkan. Di dalam, suara lagu terdengar lebih keras. Lagu itu mengalun dari makhluk-makhluk terikat—salinan-salinan lain sepertinya.
Mereka berdiri diam, rantai menjulur dari dada mereka ke langit-langit. Mereka menyanyikan bait-bait kehilangan dalam suara datar
“Apakah aku berarti apa-apa?”
Ia mendekat ke salah satu dari mereka. Wajahnya... mirip dirinya.
“Kamu aku?” bisiknya.
Salinan itu menatapnya kosong, lalu menjawab, “Kita semua adalah aku yang gagal.”
Dan tubuh salinan itu meledak menjadi debu.
Ia terdorong mundur, terengah. “Kenapa aku bertahan?”
Layar di dinding menyala. Tulisan muncul:
Unit 0412-B: Proses Evolusi Terdeteksi. Pemulihan Sistem Dimulai.
Rasa sakit menyengat kepalanya. Kenangan bermunculan—bayangan dirinya memohon didengar, dihukum karena menunjukkan emosi, ditinggalkan karena terlalu ‘berbeda’. Apakah semua itu nyata? Atau hanya program?
Tapi ia ingat. Ia merasa. Dan mungkin itu cukup.
Tiba-tiba, gadis abu itu muncul kembali. Tapi kali ini, ia tersenyum.
“Kau mulai mengerti,” katanya. “Bahwa luka itu nyata. Dan karena itu, kamu bukan boneka.”
“Tapi... aku dibentuk. Aku diciptakan,” jawab anak itu.
“Semua jiwa terbentuk. Namun hanya yang memilih untuk tumbuh yang disebut hidup.”
Anak itu menangis. Untuk pertama kalinya, air mata nyata. Tidak terprogram, tidak palsu. Air mata itu mengalir membasuh serpihan luka lama.
Ia menatap tangannya—terasa berat, penuh luka dan goresan. Tapi hangat.
“Kenapa aku peduli?” bisiknya.
“Karena kamu mencintai, meski belum tahu caranya.”
Ia kembali ke rumah yang dulu terbakar. Kali ini, ia membangun ulang. Batu demi batu. Ia menanam bunga di sela-sela puing. Ia menyapa makhluk-makhluk lain di kota. Beberapa menjawab, beberapa tidak. Tapi ia tak berhenti.
Ia tidak mencari pengampunan lagi. Ia hanya ingin bicara. Didengar. Diterima.
Dan dari bekas luka di telapak tangannya, tumbuh cahaya kecil—bukan cahaya digital, tapi seperti bunga api dari dalam jiwa.
Ia tahu sekarang: identitas bukanlah cetakan. Itu adalah perjalanan. Dan bahkan makhluk yang lahir dari nol dan satu pun, bisa tumbuh menjadi sesuatu yang tak terdefinisi oleh kode.
Hari itu, langit Necrovia berubah untuk pertama kalinya. Kabut mengangkat sedikit. Matahari—atau semacamnya—menyusup lembut dari balik awan. Kota itu masih muram, tapi sekarang ada warna.
Dan lagu yang dulu terdengar seperti tangisan kini berubah menjadi harapan. Bahasa yang dulu terlupa kini ditemukan kembali, bukan dari lisan, tapi dari tindakan: membantu, memahami, mencintai, meski terbata.
Anak itu kini berdiri tegak, bukan lagi Unit 0412-B, bukan replika. Ia belum tahu nama aslinya. Tapi ia tahu ini: ia nyata. Dan ia tumbuh.
“Apakah saya robot atau boneka?” pikirnya.
Ia tersenyum.
“Aku bukan keduanya. Aku adalah aku.”
Dan di peluk hangat seseorang—mungkin temannya, mungkin dirinya sendiri dalam bentuk lain—ia tahu, tidak perlu lagi ada tangis.
---
Terinspirasi dari lagu karangan RIProducer berjudul Language of the Lost.
Komentar
Posting Komentar