Langit Yang Tak Bisa Mereka Rebut

 


Di antara puing-puing beton dan debu yang terus beterbangan, di suatu pagi yang tak membawa janji apa pun selain deru drone dan letusan mortir, Mariam bangun dari tidur-tidur ayamnya. Ia tidur di sudut ruangan yang setengah hancur—sebuah rumah sakit yang pernah berdiri megah di Khan Younis, kini hanya tinggal kerangka. Ibunya telah tiada. Ayahnya menghilang entah ke mana sejak serangan terakhir. Yang tersisa hanya adiknya, Nabil, bocah empat tahun yang belum sepenuhnya mengerti kenapa dunia seperti ini.

Hari ini kita dapat roti, Kak?” tanya Nabil, mengucek mata kecilnya yang merah karena debu.

Mariam menatap kantong plastik kosong di sudut. Ia menahan napas dan tersenyum kecil, meski senyum itu serupa luka terbuka. “Insya Allah. Kita coba ke barat, ke sekolah tua itu. Katanya hari ini ada distribusi bantuan.”

Ada susu juga?”

Senyum Mariam retak. Ia mengangguk pelan, “Iya. Mungkin.”

Lalu mereka melangkah, menembus reruntuhan dan jalan-jalan penuh kawah bekas ledakan. Langit Gaza biru seperti biasa, terlalu indah untuk menjadi latar dari semua yang sedang terjadi. Tapi Mariam tahu, biru langit di atas mereka bukanlah tanda damai. Itu adalah ruang kosong tempat peluru kendali melesat dan drone tak terlihat memantau siapa yang akan jadi angka berikutnya di laporan korban sipil.

Sudah lima bulan sejak blokade total diumumkan. Tak ada listrik, tak ada air bersih, dan makanan menjadi sesuatu yang diperebutkan dengan rasa bersalah. Dunia menonton dari layar kaca, mengutuk dari balkon demokrasi yang jauh, lalu kembali tidur nyenyak di bawah atap yang utuh.

Tapi di Gaza, mimpi bahkan tak punya tempat.

Saat mereka sampai di sekolah, antrean sudah panjang. Anak-anak, ibu hamil, orang tua. Semua dengan mata cekung dan pipi tirus. Di ujung antrean, seorang relawan muda berteriak bahwa bantuan hanya cukup untuk seratus orang pertama.

Mariam merangkul Nabil. “Kita tunggu saja. Mungkin ada yang menyerah.”

Tiba-tiba, suara raungan memenuhi udara. Sebuah tank melintas di kejauhan. Semua orang diam, tubuh mereka menegang seperti kawat. Beberapa anak kecil menangis. Tank itu tak menembak, hanya melewati jalan utama, seperti mengingatkan bahwa hidup mereka bukan milik mereka sendiri.

Nabil menatap tank itu, lalu menatap kakaknya. “Kenapa mereka bawa itu? Kita gak punya senjata.”

Mariam tidak menjawab. Ia terlalu sibuk menahan air mata.

Dari reruntuhan, ada satu tempat yang masih bertahan: perpustakaan kecil di Rafah. Dulu itu adalah perpustakaan umum, kini berubah menjadi tempat belajar darurat dan kadang klinik. Di sana, Mariam bertemu dengan Fadel, pemuda yang dulu ingin jadi guru sejarah. Kini ia mencatat jumlah korban di dinding dan memberi pelajaran pada anak-anak dengan papan tulis bekas.

Kita harus tetap mengajar mereka. Sejarah kita tidak boleh hilang,” kata Fadel.

Bagaimana caramu bertahan, Fadel? Listrik tak ada. Makanan hanya cukup untuk dua hari. Kenapa kamu tetap di sini?”

Fadel menatap langit-langit yang bolong. “Karena mereka ingin kita pergi. Dan aku ingin tetap di sini. Di tanah yang sama tempat ibuku dikuburkan. Jika mereka ambil semua, setidaknya aku masih punya tanah untuk mati.”

Kata-katanya membekas di hati Mariam. Malam itu, di antara suara ledakan jauh di utara, mereka duduk berdua di bawah senter kecil bertenaga baterai terakhir. Nabil tertidur di pangkuannya. Dan Fadel membacakan puisi Mahmoud Darwish dengan suara lirih.

Kita akan tetap di sini,
meski akar ditarik,
meski pohon dibakar,
meski langit dibungkam.”

Suatu sore, seorang anak laki-laki berlari ke perpustakaan sambil menangis. Ia membawa sesuatu di tangannya—secarik kertas dengan darah di ujungnya. Surat. Dari ayahnya yang baru saja terbunuh. Surat itu tak sempat dikirim, tapi ditemukan di sakunya.

Isi suratnya sederhana.

Untuk anakku, jangan benci. Jangan biarkan mereka mencuri hatimu. Bertahanlah, bahkan saat dunia berpaling. Karena bumi Palestina tidak akan selamanya berdarah. Suatu hari, kamu akan lihat, bahwa langit tetap ada untuk kita—dan mereka takkan bisa merebutnya.”

Tak seorang pun bisa membaca surat itu tanpa menangis. Bahkan Fadel yang biasanya kuat. Bahkan Mariam yang sudah terlalu sering kehilangan.

Malam itu mereka membacakan surat itu ulang-ulang, kepada siapa saja yang datang. Beberapa mulai menyalinnya di kertas kecil, menempelnya di dinding atau menggenggamnya seperti doa.

Di Gaza, surat yang belum sempat dikirim bisa menjadi warisan terakhir seorang ayah.

Lalu datanglah malam itu. Malam ketika suara jet begitu dekat hingga dinding perpustakaan bergetar. Serangan udara menghantam blok perumahan dua kilometer dari tempat mereka. Langit memerah. Orang-orang berlarian. Fadel langsung keluar membantu evakuasi. Mariam berteriak, melarang, tapi ia hanya sempat melihat punggung Fadel menghilang dalam asap.

Ia tak kembali.

Tubuhnya ditemukan keesokan harinya, hangus sebagian, masih memeluk seorang anak perempuan yang ia lindungi saat ledakan terjadi. Di sakunya, ada catatan kecil: “Sejarah akan mengenang kita bukan karena kita kuat, tapi karena kita memilih tetap manusia.”

Mariam menangis tanpa suara. Nabil memegang tangannya erat, dan berkata lirih, “Dia pergi ke langit, ya?”

Iya,” jawab Mariam, “ke tempat yang mereka tak bisa capai.”

Hari-hari berlalu. Jumlah korban terus bertambah. Tapi Mariam kini meneruskan perpustakaan itu. Ia mengajar anak-anak, membacakan surat dari ayah yang tak dikenal, dan memutar rekaman puisi dari Fadel. Ia tidak lagi bertanya kenapa ini terjadi. Ia hanya tahu, ini harus dilalui.

Kenapa Kakak gak pergi dari sini?” tanya Nabil suatu malam.

Karena ini rumah kita. Jika kita pergi, siapa yang akan bercerita pada dunia bahwa kita pernah ada?”

Di luar, drone masih berputar. Tapi perpustakaan tetap menyala, walau hanya dengan lilin. Anak-anak tertawa, meski nyaringnya dibayangi trauma. Mariam tahu, tawa mereka adalah bentuk paling radikal dari perlawanan.

Bukan senjata, bukan roket, tapi keberanian untuk tetap hidup.

Cerita Gaza bukan hanya tentang kematian. Ini tentang kehidupan yang menolak tunduk. Tentang anak-anak yang belajar membaca di bawah gemuruh tank. Tentang ibu-ibu yang memasak roti dari tepung terakhir. Tentang Mariam, Fadel, dan jutaan yang tak dikenal namanya.

Mereka tidak menyerah, bukan karena tidak takut. Tapi karena tanah ini lebih dari sekadar wilayah—ini warisan, ini jiwa, ini cinta yang ditanam di antara luka.

Dan langit, sebagaimana pun mereka mencoba merebutnya, tetap menjadi milik orang-orang yang berani menatapnya dengan harapan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah