Nafas Terakhir, di Jurang Dalam
Dalam kubangan jiwa yang membusuk,
aku tenggelam, terjerat dalam sunyi pekat.
Darah kering menetes dari luka yang tak terlihat,
setiap helaan napas adalah jeritan tanpa suara.
Mati saja—bisik angin yang menggila di relung kalbu,
menghancurkan serpihan harap yang pernah tumbuh.
Tubuh ini hanyalah mayat hidup,
terperangkap dalam lorong gelap tanpa ujung.
Keping jiwa terpecah, terlempar ke dasar jurang,
berderai dalam dingin yang melumat nurani.
Tiada cahaya, tiada belas kasihan,
hanya kegelapan, memaksa aku menyatu dengan kehampaan.
Luka ini bukan lagi rasa,
melainkan neraka yang merayap perlahan,
menjilat setiap inci harapan yang tersisa,
hingga aku hanya ingin lenyap, tanpa jejak.
Jiwa ini, makhluk yang terluka tanpa nama,
menangis dalam diam, menjerit tanpa gema.
Mati saja, kataku, lepaskan aku dari neraka tubuh ini,
biarkan aku hanyut dalam sunyi yang paling abadi.

Komentar
Posting Komentar