Revolusi Tidak Disiarkan
Aku menulis surat wasiat bukan
karena ingin didengar,
tapi agar ketika kelak namaku jadi
abu,
ada yang bersedia membaca dengan kepala menunduk,
bukan
menertawakan dari balkon kekuasaan.
Kepada Tuan yang
Mulia,
Aku mati hari ini.
Tenang saja, bukan karena kau
suruh.
Bukan karena senapanmu.
Bukan karena peraturanmu
yang membungkus tirani dalam selimut demokrasi.
Aku mati karena
aku muak.
Karena kalian terlalu sibuk berbicara tentang
negara,
hingga lupa kalau negara ini isinya manusia.
Kota ini penuh
dengan lampu dan doa-doa palsu.
Gedung-gedung berdiri seperti
dewa-dewa batu yang menatap ke bawah,
menghakimi rakyat kecil
yang tak bisa membayar sewa.
Aku hidup di gang
sempit,
diapit oleh jendela yang tak pernah ditutup
dan
suara televisi yang selalu bicara tentang pemilu,
sementara
perut kami keroncongan tanpa undangan debat.
Setiap malam aku
bermimpi,
bahwa dunia ini terbakar dan semua birokrat berubah
jadi abu.
Aku bangun dengan senyum.
Tapi realita lebih
panas daripada api.
Namaku Sani.
Tapi
di mata penguasa, aku cuma statistik.
Angka di tabel.
Nama
di KTP yang salah eja.
Aku kerja
serabutan.
Kadang jaga parkir, kadang tukang antar.
Kadang
jadi hantu: ada tapi tak diakui.
Aku ikut
demo.
Berteriak sampai suara habis.
Melempar batu ke pagar
istana.
Lalu dipukuli aparat, dan diseret seperti anjing kurap.
Berita berkata,
“Kelompok Anarko Ditangkap.”
Lucu. Mereka bahkan tak tahu
namaku.
Tapi dengan enteng menyebutku bahaya.
Bahaya untuk siapa?
“O, Tuan,”
begitu
kami memanggil kalian—
para pemilik dasi, pembaca naskah,
pemotong pita.
Kalian tanya kami
apa kabar,
dari balik podium yang tinggi.
Tapi kalian tak
pernah mau turun
dan lihat bau mayat yang kami kubur di tengah
gang,
karena rumah sakit tak punya ruang,
dan ambulans
minta uang muka.
Kalian bilang
“ekonomi tumbuh,”
tapi yang tumbuh hanya gedung
perkantoran
dan lubang di perut kami.
Kalian tertawa di
kafe elit,
saat kami mengantri sembako busuk dari truk kampanye.
“O, Tuan,”
kau
dengar suara kami?
Atau sudah terlalu banyak noise-cancelling di
telinga kiri kalian?
Aku pernah jatuh
cinta.
Namanya Dira.
Ia tertawa seperti sumbu api—pendek,
menyala, cepat habis.
Kami tidur di kamar
petak,
berbagi nasi dan keresahan.
Kami saling mengukur
denyut nadi,
takut salah satu dari kami tak bangun esok hari.
Dira suka menulis
puisi,
tentang mimpi sederhana:
piring penuh nasi,
tidur
tanpa nyamuk,
negara yang tidak mencurigai rakyatnya sendiri.
Suatu malam ia
pulang dengan lebam.
“Kau tahu,” katanya,
“cinta
bukan senjata. Tapi sering dipatahkan dengan peluru.”
Negara ini seperti
wanita misterius:
bercadar hukum,
berlipstik
moralitas,
berparfum agama,
tapi tidur dengan para
konglomerat.
Keadilan sudah
mati.
Makamnya di bawah gedung Mahkamah.
Kami taruh bunga
setiap kali orang miskin dihukum karena mencuri roti.
Negara menangis,
katanya.
Tapi tangisan itu hanya ditayangkan saat iklan
kampanye.
Aku ingin sekali
bertanya:
Tuan,
apa kalian tidak pernah merasa takut
kalau
suatu hari rakyat bangun dan membakar seluruh istana?
Tapi kurasa
tidak.
Karena kalian punya air mata buatan dan pasukan
bersenjata.
Malam itu kami
turun ke jalan.
Dira menggenggam tanganku.
Kami bukan
pasukan. Kami bukan serdadu.
Kami hanya anak-anak kelaparan yang
bosan diam.
Mereka bilang kami
bodoh.
Mereka bilang kami ditunggangi.
Padahal kami cuma
ingin hidup tanpa takut.
Batu kami
dilempar.
Poster kami dibakar.
Dira ditangkap.
Aku
lari.
Dan sejak malam
itu, aku tahu satu hal:
revolusi tidak akan pernah
disiarkan.
Karena mereka yang punya kamera,
juga punya
saham di korporasi yang membunuh kami perlahan.
Hari ini aku
mati.
Entah karena peluru, atau kelaparan, atau patah harapan.
Tapi sebelum aku
mati,
aku ingin dunia tahu:
kami bukan angka.
kami
bukan “oknum.”
kami bukan benalu.
Kami adalah
rakyat.
Yang kalian kencingi dengan kebijakan.
Yang kalian
umpan dengan janji.
Yang kalian buang setelah pemilu usai.
“Dira,”
aku
menulis di dinding, karena kertas terlalu mahal.
“Kalau nanti
kau baca ini, jangan menangis. Aku sudah bebas.”
Mereka mungkin akan
bilang aku teroris.
Atau pengacau.
Atau pemalas.
Tapi aku hanya
ingin hidup.
Dan kalau hidup terlalu mahal,
maka biar aku
mati sebagai pengingat:
bahwa negara ini tidak baik-baik saja.
Kami mati satu per
satu.
Tapi kami tumbuh dalam nyanyian.
Dalam mural di
dinding yang kalian cat ulang.
Dalam lagu yang tak bisa kalian
sensor.
“O, Tuan,”
kami
akan datang lagi.
Dalam mimpi buruk kalian.
Dalam suara
gaduh dari lorong-lorong sempit.
Dalam nama-nama yang tak
tercantum di buku sejarah.
Kami tidak takut
mati.
Kami hanya lelah hidup seperti ini.
*Terinspirasi dari lagu-lagu buatan band Feast.

Komentar
Posting Komentar