Tanah yang Menangis di Bawah Langit Yang Tertembus

 


Di tanah yang disiram darah setiap pagi,
ada doa-doa yang tak sempat menjadi bisik.
Langit retak oleh dentuman baja,
dan bumi menelan anak-anak yang belum sempat dewasa.

Gaza—kau bukan hanya nama di peta,
kau luka yang menganga di hati manusia.
Kota yang menahan nafas,
di antara reruntuhan dan puing-puing cinta yang disayat paksa.

Mereka tidak mati karena ajal,
mereka dibunuh oleh diamnya dunia.
Rumah-rumah berubah jadi abu dan serpih,
lantai tidur digantikan debu dan tangis.

Anak kecil bermain di kuburan ayahnya,
menyebut nama yang dulu membacakan doa tidur.
Ibu mengunyah rumput demi menyusui bayi,
karena dapur kini hanya berisi kenangan pahit.

Laut pun menjadi saksi,
bagaimana nyawa lebih murah dari peluru.
Langit Palestina tak lagi biru,
ia kelabu oleh bom yang jatuh seperti hujan tak berbelas.

Israel datang bukan sebagai musafir,
tapi sebagai penjagal dengan seragam diplomasi.
Mereka menanam bendera di atas jenazah,
dan menyebutnya "hak warisan nenek moyang."

Tapi tak semua bisa dihancurkan.
Mereka tak bisa membakar harapan yang tumbuh dari luka.
Tak bisa merobek nadi yang terus mengalirkan "kami akan kembali."
Tak bisa memadamkan zikir yang terus menggema di lorong sunyi.

Karena Gaza bukan hanya tanah,
ia nyala yang tak bisa dipadamkan.
Palestina bukan hanya korban,
ia jiwa yang belum menyerah.

Suatu hari mentari akan menyentuh pipimu, Gaza,
bukan dengan api, tapi cahaya yang menghangatkan.
Anak-anakmu akan berlari di ladang zaitun,
tanpa perlu menoleh ke langit dengan takut.

Kami akan menyambut pagi itu bersamamu,
saat Palestina berdiri bukan dalam duka,
tapi dalam damai yang telah lama dijanjikan—
dan dunia akhirnya membuka mata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah