Tempat Persembunyian
Di dunia yang tak pernah benar-benar terang atau gelap, ada sebuah tempat yang hanya muncul saat hujan turun. Orang-orang menyebutnya Tempat Persembunyian. Bukan karena tempat itu tersembunyi secara fisik, melainkan karena hanya mereka yang ingin bersembunyi yang bisa menemukannya.
Eira pertama kali menemukan tempat itu saat berusia sembilan tahun. Saat itu, hujan mengguyur kota dengan muram yang sempurna. Ia berlari dari rumah, membawa selembar surat yang belum sempat ia kirimkan kepada ibunya yang telah pergi tiga bulan lalu. Ia tidak tahu ke mana hendak melangkah—hanya mengikuti suara hatinya yang lirih. Dan di persimpangan yang basah, di antara toko roti yang tutup dan gedung kosong yang berlumut, ia menemukannya—sebuah gang sempit yang sebelumnya tak ada, dengan cahaya temaram yang mengundang masuk.
Di dalam gang itu, dunia berubah.
Udara menjadi hangat. Suara hujan menghilang. Lantai yang ia injak bukan lagi aspal, tapi rumput halus yang membelai kaki. Di depannya terbentang sebuah padang kecil dengan bunga biru pucat, dan sebuah rumah kayu tua berdiri anggun di tengahnya, jendelanya memancarkan cahaya keemasan yang hangat.
Di situlah ia bertemu Sol.
“Selamat datang di Tempat Persembunyian,” kata anak laki-laki itu, berdiri di ambang pintu rumah. Rambutnya keperakan seperti sinar bulan, dan senyumnya mengandung ketenangan yang tak lazim bagi anak seusianya.
Eira mengangguk ragu. “Apa ini tempat persembunyian?”
“Bukan dari dunia,” kata Sol. “Tapi dari rasa kehilangan.”
Tahun-tahun berlalu, dan Tempat Persembunyian menjadi satu-satunya tempat di mana Eira merasa dirinya utuh. Ia datang setiap kali hidup terasa terlalu berat: ketika ayahnya menikah lagi dan ia merasa seperti bayangan di rumah sendiri, ketika teman-teman sekolah mengolok-olok ketidakmampuannya berbicara di depan umum, atau ketika suara ibunya hanya bisa ia dengar dalam mimpi. Di dunia nyata, ia merasa transparan. Tapi di tempat itu, ia nyata. Ia adalah Eira, bukan gadis yang ditinggalkan.
Dan Sol selalu ada. Ia tak pernah berubah. Wajahnya tetap sama, suaranya tetap lembut. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus menghibur. Ia tak pernah menanyakan tentang dunia luar, hanya mendengarkan dan sesekali menggenggam tangan Eira, seperti jangkar yang menahan agar gadis itu tidak tenggelam terlalu dalam dalam duka.
“Aku tak tahu harus bagaimana lagi,” ucap Eira saat usianya enam belas tahun. Ia baru saja gagal audisi beasiswa seni. Dunia serasa runtuh.
Sol menatap langit yang selalu kelabu di Tempat Persembunyian. “Dunia tidak pernah berhenti mencoba menjatuhkanmu, Eira. Tapi kau belum menyerah. Itu sudah lebih dari cukup.”
Eira ingin bertanya, mengapa ia selalu tahu kata-kata yang tepat. Tapi ia takut jawaban Sol akan membuat semuanya hancur. Jadi ia diam.
Sampai suatu hari, Tempat Persembunyian tak muncul lagi.
Hujan turun deras, seperti biasanya. Eira yang kini berusia dua puluh tahun berjalan ke gang yang selalu menuntunnya ke tempat itu. Tapi gang itu tidak ada. Hanya tembok kusam dan toko-toko yang mati. Ia menunggu hingga malam, berharap gang itu akan muncul dengan magisnya. Tapi yang datang hanya dingin, dan keputusasaan.
Ia mencoba keesokan harinya, dan keesokan setelahnya. Tetap tak ada. Tempat Persembunyian lenyap seperti mimpi yang terlupakan.
Dan di dalam dirinya, ruang yang selama ini terisi oleh Sol—oleh ketenangan, oleh pelarian kecil dari dunia—mulai kosong. Hari-hari terasa lebih berat, lebih keras. Ia mulai menulis surat-surat kepada Sol, tapi tak pernah mengirimkannya. Ia tahu tidak ada alamat untuk tempat itu.
Lima tahun berlalu.
Eira belajar menyesuaikan diri. Ia lulus dari akademi seni. Ia mulai mengajar anak-anak menggambar di sebuah studio kecil. Ia bahkan menjalin hubungan singkat dengan seorang pria yang suka membaca puisi di kafe. Tapi tak ada yang mengisi ruang itu. Tidak sepenuhnya.
Sampai hujan turun lagi—bukan gerimis, bukan geruh, tapi hujan yang benar-benar menghapus batas antara dunia nyata dan mimpi. Dan saat Eira melangkah ke persimpangan tua, gang itu ada di sana.
Jantungnya berdebar kencang saat ia masuk. Ia tidak berharap apa-apa, tapi seluruh tubuhnya berharap.
Tempat Persembunyian menunggunya, tetap seperti dulu.
Rumput yang lembut. Bunga biru pucat. Dan rumah kayu tua yang hangat. Tapi Sol tidak ada di ambang pintu.
Ia mengetuk. Pintu terbuka perlahan, dan untuk pertama kalinya, rumah itu kosong.
“Sol?” panggilnya. Hanya gema yang menjawab.
Ia melangkah masuk. Meja bundar di tengah ruangan, buku-buku tua, cangkir teh di rak. Semuanya masih ada. Tapi tak ada jejak kehidupan.
Ia duduk di lantai, merasa seperti anak kecil lagi. Matanya panas.
Dan saat itu, ia melihatnya—sebuah buku catatan kecil tergeletak di meja. Di sampulnya tertulis satu kata: Eira.
Tangannya gemetar saat membukanya.
Di dalamnya ada gambar-gambar. Sketsa dirinya saat kecil, saat remaja, saat dewasa. Di setiap halaman, ada catatan kecil:
“Hari ini ia menangis dalam tidur.”
“Ia tersenyum meski hatinya remuk.”
“Ia mencintai dunia, bahkan ketika dunia tidak mencintainya kembali.”
Air mata Eira jatuh, membasahi halaman.
Halaman terakhir hanya berisi satu kalimat:
“Saat ia tak lagi membutuhkanku, aku akan pergi.”
Eira menutup buku itu perlahan.
Tempat Persembunyian bukan tempat untuk selamanya. Itu hanyalah pelarian sementara, sebuah ruang aman yang ia ciptakan bersama ingatannya, dengan cinta dan luka sebagai fondasinya. Dan Sol—mungkin Sol bukan nyata. Atau mungkin ia adalah bagian dari dirinya yang paling tulus. Bagian yang mendengarkan, yang memahami, yang menenangkan. Bagian yang menuntunnya melewati badai.
Ia berdiri. Rumah itu tetap hangat, tapi tidak lagi terasa seperti tempat pelarian.
Ia melangkah keluar, menatap langit kelabu yang sekarang tampak lebih terang.
Dan ia tahu: Tempat Persembunyian tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk. Kini, ia ada dalam dirinya.
Tiga tahun kemudian, Eira duduk di kursi studio seninya. Di sekelilingnya, anak-anak menggambar bebas. Di sudut ruangan, seorang gadis kecil menangis pelan. Tak ada yang memperhatikan, kecuali Eira.
Ia mendekat, duduk di samping si gadis.
“Kenapa kamu sedih?”
“Aku kangen Ibu,” katanya. “Ibu udah nggak di rumah…”
Eira tersenyum lembut. Ia menyentuh pundak gadis itu. “Kadang... ada tempat yang bisa kamu kunjungi saat kamu sedih. Tapi kamu harus menutup mata dan membayangkan tempat itu. Mungkin seperti taman bunga, atau rumah hangat.”
“Kayak dongeng?”
“Bukan dongeng. Tapi tempatmu sendiri. Tempatmu untuk sembunyi sebentar. Tapi hanya sebentar, ya. Karena dunia masih butuh kamu kembali.”
Anak itu mengangguk perlahan.
Eira menatap ke luar jendela. Langit mulai mendung lagi.
Dan jauh di dalam dirinya, ia tahu—Sol masih ada. Tidak di tempat itu, tapi dalam setiap kekuatan yang ia berikan pada orang lain.
Karena Tempat Persembunyian bukan pelarian.
Tempat Persembunyian adalah tempat untuk belajar kembali menjadi utuh.
Komentar
Posting Komentar