Tidak Terlihat

Ethan Carter tidak pernah benar-benar hadir di mata orang lain.

Bukan karena dia pendiam, atau karena dia aneh, atau karena dia miskin. Tapi karena dia membuat orang lain tidak nyaman. Mereka tak tahu kenapa, hanya merasa bahwa kehadiran Ethan seperti kabut yang busuk dan dingin: pelan, melekat, dan menusuk hingga ke tulang.

Ia duduk di paling belakang kelas 5B, SD Westbrook. Tak ada yang mau duduk dengannya. Tak ada yang bicara padanya, kecuali untuk menghinanya. Bahkan Mr. Reynolds, wali kelas mereka, seolah bersyukur karena Ethan tidak pernah mengangkat tangan, tidak pernah membuat keributan, dan tidak pernah "mengganggu".

Tapi mereka semua tetap memperhatikannya. Bukan karena rasa peduli—melainkan karena rasa ingin menghancurkan.

Ethan menggambar hal-hal yang membuat perut mual. Sosok-sosok manusia tanpa mata. Bayi dengan wajah meleleh. Sekolah mereka dalam kobaran api. Setiap gambar diberi judul kecil di bawahnya: “Yang Mereka Layak Dapatkan”.

Suatu hari, saat istirahat siang, Logan dan Max menangkap Ethan di koridor belakang. Tyler sudah menunggu. Tak ada guru. Tak ada kamera.

“Lu pikir lu jenius, ya? Ngegambar kita kayak orang mati?” Tyler mendesis.

Ethan tidak menjawab.

Maka pukulan pertama mendarat di perutnya. Ethan terjatuh, menggeliat di lantai ubin. Max menendang punggungnya, Logan menahan tangannya sambil menertawakannya.

“Sekarang gambar ini!” teriak Tyler, menghantam wajah Ethan dengan buku sketsanya sendiri. Suara sobekan kertas bercampur dengan darah dari bibir Ethan yang pecah.

Mereka menyeretnya ke gudang olahraga. Mengikat tangannya dengan tali skipping. Mereka menulisi tubuhnya dengan spidol merah: FREAK, WEIRDO, WASTE OF SPACE.

Lalu Tyler mengambil paku kecil dari papan gantung, dan menusukkannya ke lengan Ethan. “Cuma goresan,” katanya, tertawa.

Jeritan Ethan hanya terdengar oleh rak-rak bola tua dan lantai yang dingin.

Setelah satu jam, mereka pergi. Membiarkannya tergeletak berdarah, memar, dan dingin.

Tidak ada yang mencarinya sampai senja tiba.

---

Di rumah sakit, dokter menjahit luka di lengan dan pelipis Ethan. Ayahnya datang sambil mabuk dan menyalahkannya karena "bikin malu".

Polisi datang. Sekolah diam. Ethan ditanya-tanya. Tapi ia hanya diam. Matanya kosong.

Setelah dua hari, ia keluar dari rumah sakit. Tak satu pun dari anak yang menyiksanya diberi hukuman. Karena, katanya, "tidak ada bukti kuat".

Tiga hari kemudian, Ethan menghilang.

---

Pagi hari, setiap meja di kelas 5B memiliki satu amplop. Di dalamnya, foto masing-masing murid, dengan wajah dicoret tinta merah dan satu kata tercetak besar:

"SEGERA."

Polisi dipanggil. Sekolah diliburkan. Tapi anak-anak tahu. Mereka tahu.

Di rumah Tyler, seseorang menyelipkan sebuah gambar di bawah pintu. Gambar dirinya sendiri. Terikat di pohon belakang sekolah. Matanya tercungkil. Di bagian bawah tertulis:

“Versi Lebih Jelas.”

Tyler muntah di dapur malam itu. Ibunya histeris. Tapi gambar itu hilang sebelum polisi datang.

Sementara itu, loker Ethan masih tertutup. Tapi seminggu sekali, selalu muncul kertas baru di dalamnya—seolah ditaruh oleh udara.

Kertas terakhir hanya satu kalimat:

“Aku belum selesai dengan mereka. Tapi mungkin aku mulai dengan diriku sendiri.”

---

Di tepi sungai belakang hutan kota, ditemukan pakaian anak laki-laki. Sepatu bolong. Buku gambar sobek.

Dan noda darah. Banyak.

Tapi tidak ada tubuh.

Para petugas bilang ia mungkin terseret arus. Tapi arus sungai itu lambat. Terlalu lambat untuk menelan seseorang tanpa jejak.

Di sekolah, tak ada yang bicara keras lagi. Tak ada yang tertawa.

Logan berhenti masuk. Max tidak pernah tidur nyenyak. Tyler... hanya duduk dan menatap papan tulis kosong selama jam pelajaran.

Mereka takut.

Bukan karena Ethan mungkin sudah mati.

Tapi karena kemungkinan yang lebih menakutkan:

Ethan masih hidup.
Dan dia sedang menunggu giliran mereka.

[Tamat?]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah