Aku Baik-Baik Saja


Hujan masih turun di luar jendela ketika aku menatap pantulan wajahku sendiri di kaca yang berembun. Aku menarik napas panjang, berusaha mengusir sesak di dada. Kata-kata yang sama terus menggema di kepalaku: “Aku baik-baik saja.” Kalimat sederhana yang terdengar meyakinkan jika diucapkan, tetapi terasa rapuh saat bergema dalam pikiran.

Aku sering melatih ekspresi itu di depan cermin. Senyum kecil, tatapan mata yang seolah penuh keyakinan, bahu yang tegak. Semua itu kulakukan agar orang lain percaya. Agar saat aku melangkah keluar, mereka tak akan melihat betapa retaknya diriku sebenarnya. Aku ingin dunia melihatku sebagai seseorang yang kuat, tidak terguncang, tidak rapuh. Tapi di dalam diriku, badai terus berputar, menelan sisa-sisa kepercayaan diri yang pernah kumiliki.

Sejak ia pergi, rumah ini menjadi terlalu besar. Terlalu sunyi. Aku masih mengingat setiap langkahnya saat menutup pintu itu terakhir kali, suara ketukan sepatunya di lantai kayu, dinginnya udara yang tiba-tiba merayap masuk begitu pintu tertutup rapat. Tidak ada perpisahan panjang, tidak ada pertengkaran besar. Hanya keheningan yang berat dan mata yang tak sanggup saling menatap. Mungkin itu lebih menyakitkan daripada teriakan atau air mata.

Aku duduk di kursi rotan dekat jendela, mendengarkan suara hujan memukul genting. Di luar sana, dunia seakan berjalan seperti biasa. Orang-orang bergegas dengan payung mereka, kereta melintas, suara lonceng gereja sesekali terdengar. Dunia tetap bergerak, bahkan ketika hidupku berhenti di satu titik. Itu membuatku merasa kecil, tak berarti, seperti serpihan daun yang hanyut terbawa arus sungai.

Teman-temanku bilang waktu akan menyembuhkan. Mereka berkata aku hanya perlu melangkah, keluar, mencari hal-hal baru yang bisa membuatku lupa. Mereka mengajakku pergi, ke kafe, ke pesta kecil, ke tempat-tempat di mana tawa bertebaran di udara. Aku ikut, kadang, sekadar untuk menunjukkan bahwa aku bisa berbaur. Dan setiap kali seseorang bertanya, “Bagaimana kabarmu?” aku akan menjawab dengan senyum: “Aku baik-baik saja.”

Jawaban itu keluar begitu lancar, seperti sudah terprogram. Tidak ada yang tahu bahwa setelah itu aku akan pulang, melepas sepatu di depan pintu, lalu membiarkan diriku roboh di lantai ruang tamu. Tidak ada yang tahu betapa sulitnya aku mengatur napas agar tidak terdengar seperti isak. Tidak ada yang tahu betapa aku ingin percaya pada kata-kata itu, tapi semakin sering kuucapkan, semakin terasa hampa.

Aku ingat suatu malam, sekitar dua bulan setelah ia pergi. Aku duduk sendirian di bar kecil di pinggir kota. Musik pelan mengalun, orang-orang tertawa di meja lain. Di depanku, segelas minuman yang tak habis-habis. Seorang pria asing duduk di sampingku, mencoba membuka percakapan. Aku menatapnya lama, lalu tersenyum sambil berkata, “Aku baik-baik saja.” Kalimat itu begitu otomatis, padahal tak seorang pun bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak. Aku mengatakannya hanya untuk meyakinkan diriku sendiri. Pria itu tertawa kecil, mungkin mengira aku mabuk atau hanya bercanda. Aku ikut tertawa, padahal rasanya seperti sedang menangis di dalam.

Hari-hari berikutnya aku mulai terbiasa dengan peran itu. Pagi hari aku akan bangun, menyeduh kopi, membaca koran, lalu memulai rutinitas seolah-olah tidak ada yang hilang. Aku bekerja, menulis laporan, menghadiri rapat, tersenyum pada rekan kerja. Aku menanggapi obrolan ringan tentang cuaca, politik, atau film terbaru. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang salah. Setidaknya, dari luar.

Di dalam, aku menyimpan luka itu seperti menyembunyikan pecahan kaca dalam kotak kayu. Aku tahu itu berbahaya, aku tahu itu bisa melukainya sendiri kapan saja, tapi aku tidak berani membukanya. Lebih mudah berpura-pura bahwa semuanya terkendali.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah ia juga merasakan hal yang sama? Apakah ia juga menatap jendela di tempat barunya, mengingat saat-saat kecil yang pernah kami jalani bersama? Atau mungkin, ia benar-benar sudah melupakanku, sudah melanjutkan hidupnya tanpa menoleh ke belakang. Aku tidak punya jawaban, dan mungkin tidak akan pernah.

Musim berganti. Hujan perlahan digantikan langit cerah dan udara hangat. Bunga-bunga bermekaran di taman kota, orang-orang berjalan sambil membawa es krim, anak-anak tertawa berlarian di lapangan. Aku mencoba ikut tertawa, mencoba ikut menikmati perubahan itu. Aku berjalan ke pasar, membeli buah segar, bahkan sesekali duduk di bangku taman sambil membaca buku. Di mata orang lain, aku mungkin terlihat benar-benar baik-baik saja.

Namun ada momen-momen kecil yang selalu mengkhianatiku. Saat aku membuka lemari dan menemukan baju yang pernah ia pilihkan untukku. Saat aku mencium aroma parfum di udara, mengingatkanku pada pelukan terakhir. Saat sebuah lagu diputar di radio, memaksa ingatan kembali ke malam-malam panjang yang kami habiskan berbicara tentang mimpi. Pada momen itu, semua dinding pertahanan runtuh. Aku kembali menjadi seseorang yang rapuh, seseorang yang tidak baik-baik saja.

Aku sering berdialog dengan diriku sendiri. “Kau harus kuat,” kataku dalam hati. “Kau harus melanjutkan hidup. Kau tidak bisa terjebak selamanya.” Dan suara lain dalam diriku menjawab: “Tapi aku lelah. Aku ingin menyerah. Aku ingin berhenti berpura-pura.”

Malam-malamku diisi dengan keheningan yang menusuk. Aku menyalakan lilin kecil, duduk di meja kerja, mencoba menulis sesuatu. Kata-kata berhamburan di kertas, tapi tak pernah selesai. Seakan-akan setiap kalimat hanya berputar pada satu tema: kehilangan.

Ada kalanya aku merasa bangga pada diriku sendiri. Aku bisa bangun setiap hari, bisa tetap bekerja, bisa tetap tersenyum meski hatiku compang-camping. Itu bentuk kekuatan, bukan? Bukankah itu berarti aku benar-benar baik-baik saja? Tapi di sisi lain, aku tahu aku hanya menjadi aktor dalam panggung besar bernama kehidupan. Dan aku mulai lupa bagaimana rasanya menjadi diriku sendiri, tanpa topeng itu.

Suatu sore, aku duduk di balkon dengan secangkir teh. Matahari perlahan tenggelam, langit berubah oranye, lalu ungu. Aku memperhatikan burung-burung kembali ke sarang, orang-orang pulang kerja, suara langkah kaki yang ramai di jalan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa damai. Ada keindahan sederhana yang bisa kurasakan, meski hanya sebentar.

Aku berbisik pada diriku sendiri, “Mungkin aku memang baik-baik saja.” Kalimat itu tidak terdengar kosong kali ini. Tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya dusta. Seperti langkah kecil yang membawaku keluar dari kabut tebal.

Hari demi hari, aku terus mencoba. Terkadang aku masih jatuh, masih menangis diam-diam di malam gelap. Terkadang aku masih merasa hampa. Tapi aku juga mulai bisa tertawa sungguh-sungguh, meski hanya sekejap. Aku mulai bisa menghargai hal-hal kecil: aroma roti hangat, suara biola di jalan, tawa seorang anak.

Aku tahu luka ini tidak akan hilang sepenuhnya. Tapi mungkin itu tidak masalah. Luka ini adalah bagian dari diriku, bagian dari perjalanan yang membentukku. Aku tidak harus terus berpura-pura. Aku bisa mengakui bahwa aku terluka, tapi juga bisa bangkit perlahan.

Ketika seseorang bertanya lagi, “Bagaimana kabarmu?” aku masih akan tersenyum dan berkata, “Aku baik-baik saja.” Tapi kali ini, aku akan mengatakannya bukan hanya untuk meyakinkan mereka, atau menipu diriku sendiri. Aku akan mengatakannya sebagai pengingat bahwa meski retak, aku masih berdiri. Meski hancur, aku masih mencoba. Meski kehilangan, aku masih hidup.

Dan itu, pada akhirnya, sudah cukup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah