Delapan Huruf


Hujan sore itu turun dengan malas, seakan setetes demi setetes ingin menunda perpisahan yang sudah ditentukan. Di sebuah café kecil di sudut kota, Arka duduk menghadap jendela. Matanya menatap keluar, pada butir air yang berlomba jatuh di kaca. Tangan kanannya menggenggam cangkir kopi yang sudah kehilangan panas, sementara di kepalanya berkecamuk ribuan kalimat yang tak pernah bisa ia ucapkan.

Delapan huruf.
Tiga kata.
Satu makna.

Tapi mengapa terasa lebih berat dari ribuan kalimat lain yang pernah ia lontarkan seumur hidupnya?

---

Kenangan itu bermula setahun lalu.

Arka dan Nadira bertemu di perpustakaan kampus, tempat yang sama-sama mereka anggap suci. Arka sedang mencari buku filsafat yang sudah lama tidak tersedia, sementara Nadira sibuk menata catatan kuliahnya dengan pulpen warna-warni. Entah bagaimana, percakapan kecil tentang buku yang tak ditemukan berubah menjadi diskusi panjang soal hidup, mimpi, hingga luka masa lalu.

Hari berganti hari, kedekatan mereka tumbuh begitu alami. Nadira dengan senyumnya yang selalu hangat, sering membuat Arka lupa bagaimana rasanya sunyi. Dan Arka, dengan kalimat-kalimatnya yang jujur tapi sering kaku, justru membuat Nadira merasa aman.

Mereka bukan pasangan. Tidak ada pengakuan, tidak ada janji. Hanya pertemuan-pertemuan sederhana yang perlahan mengikat hati lebih dalam daripada yang mereka sadari.

Hingga malam itu.


---

Arka masih ingat, malam festival kampus. Lampu-lampu berkilauan, musik mengalun, dan suara tawa memenuhi udara. Nadira berdiri di sampingnya, mengenakan gaun sederhana warna biru muda, wajahnya bercahaya meski tanpa riasan berlebihan.

Di tengah keramaian, Nadira berbisik lirih, seakan hanya ingin suaranya didengar oleh Arka.
“Kadang aku merasa… kita ini lebih dari sekadar teman, Ark. Tapi aku nggak tahu apakah aku salah ngerasainnya.”

Arka terdiam. Bibirnya kaku, hatinya berdegup. Ia tahu inilah saatnya, saat yang ditunggu. Ia hanya perlu mengucapkan tiga kata itu.

I love you.
Aku cinta kamu.

Delapan huruf. Sesederhana itu.

Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Seperti ada dinding yang tak bisa ia runtuhkan.

Ia hanya tersenyum canggung, menatap Nadira yang menunggu.
“Dir, aku… aku senang punya kamu.”

Jawaban itu terdengar terlalu ringan, terlalu dangkal dibanding perasaan yang sebenarnya. Dan Arka tahu dari sorot mata Nadira: ia kecewa, meski ia berusaha menyembunyikannya.


---

Sejak malam itu, jarak di antara mereka tumbuh. Nadira tak lagi sering mengirim pesan larut malam. Ia masih tersenyum, masih hadir, tapi ada ruang kosong yang tidak pernah kembali. Arka menyadarinya, tapi ia tak punya keberanian untuk memperbaikinya.

Hari-hari berlalu, dan waktu terus berlari menuju akhir yang tak bisa dihindari. Nadira mendapat kabar ia diterima beasiswa ke luar negeri. Satu tahun.

“Arka, aku pamit ya. Besok aku berangkat,” kata Nadira sore itu di café yang kini menjadi saksi bisu perpisahan mereka.

Arka menggenggam cangkir kopinya erat-erat, seolah panas yang telah hilang bisa menghangatkan hatinya. Ia menatap Nadira, yang tetap cantik dalam kesederhanaannya. Ada cahaya rindu yang tersimpan di matanya, tapi juga ada tekad untuk melangkah pergi.

Ia ingin menghentikan waktu. Ia ingin berkata, jangan pergi, aku butuh kamu.
Ia ingin berteriak, aku mencintaimu.

Tapi lagi-lagi, mulutnya terkunci.

Nadira tersenyum, kali ini dengan getir yang nyaris tak terlihat. “Aku tahu kamu nggak pandai ngomong perasaan, Ark. Tapi aku juga nggak bisa terus-terusan nebak. Jadi… terima kasih ya, buat semuanya.”

Ia berdiri, membawa payung, lalu melangkah keluar menembus hujan.

Arka hanya bisa menatap punggungnya, semakin menjauh, semakin kabur ditelan gerimis.

Dan di dalam dirinya, suara itu terus bergaung:
Kenapa aku nggak bisa bilang delapan huruf itu?


---

Malam itu, Arka duduk sendiri di kamar, menatap layar ponsel yang kosong. Jari-jarinya gemetar di atas papan ketik, menuliskan pesan yang berkali-kali ia hapus.

"Aku cinta kamu."

Delapan huruf. Tiga kata.
Ia menulisnya, menghapusnya, menulis lagi, lalu kembali menghapus.

Ketika akhirnya ia memberanikan diri menekan tombol kirim, layar ponselnya hanya menampilkan notifikasi otomatis: Nomor ini sudah tidak aktif.

Nadira sudah benar-benar pergi.


---

Sejak hari itu, Arka hidup dengan penyesalan. Ia menjalani rutinitas, tertawa dengan teman, bahkan melanjutkan kuliah dengan prestasi yang baik. Tapi di dalam hatinya, ada ruang kosong yang tak bisa ia isi.

Ia sering bermimpi. Dalam mimpinya, Nadira masih ada di sana, duduk di sampingnya di perpustakaan, atau berjalan bersamanya di bawah langit malam kampus. Dalam mimpi, Arka selalu berhasil mengucapkan tiga kata itu. Dan Nadira selalu tersenyum, memeluknya, dan berkata, “Aku juga.”

Tapi begitu ia terbangun, kenyataan kembali mengirisnya.

Delapan huruf yang tak pernah terucap telah mengubah segalanya.


---

Setahun kemudian, pada malam hujan yang sama, Arka kembali ke café itu. Ia duduk di kursi yang sama, memesan kopi yang sama, dan menatap jendela yang sama.

Di meja, ia menulis surat. Hanya satu kalimat:

"Aku cinta kamu, Nadira. Selalu."

Ia melipat kertas itu, menyelipkannya di antara halaman buku yang dulu sering mereka baca bersama. Buku itu ia titipkan ke rak café, berharap suatu hari Nadira kembali dan menemukannya.

Mungkin terlalu terlambat.
Mungkin tak akan pernah terbaca.
Tapi setidaknya, kali ini ia tak lagi membiarkan delapan huruf itu membusuk di tenggorokannya.

Arka menatap langit yang menangis di luar jendela. Dalam hening, ia berbisik, nyaris tanpa suara:

“Aku cinta kamu, Dir.”

Dan meski tak ada jawaban, ia merasa hatinya sedikit lebih ringan.

---

Ada delapan huruf yang tak pernah terucap,
Tiga kata sederhana yang tertahan di tenggorokanku.
Mereka menari di ujung lidah,
Lalu runtuh sebelum sempat terbang.

Aku melihatmu tersenyum,
Senyum yang bisa menenangkan badai dalam dadaku.
Tapi aku hanya membalas dengan diam,
Padahal hatiku menjerit ingin menggenggammu.

Malam menelan semua kesempatan,
Hujan mencatat semua penyesalan.
Kau pergi membawa cahaya,
Aku tinggal bersama bayangan.

Delapan huruf itu kini jadi doa,
Menyusup pelan di setiap hembusan napas.
Meski kau tak lagi mendengar,
Aku masih berbisik di ruang hampa.

Jika suatu hari takdir berbaik hati,
Dan kau membaca surat yang tertinggal ini,
Ketahuilah aku selalu mencintaimu,
Dalam delapan huruf yang terlambat lahir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah