Di Bawah Langit Merdeka
Matahari pagi menembus celah dedaunan rambutan di pekarangan rumah tua itu. Di beranda, duduk seorang lelaki renta dengan sorban lusuh dan tongkat kayu cendana. Namanya Haji Ramlan, dahulu dikenal sebagai guru kampung, tetapi bagi sebagian orang tua di desa, ia lebih dari sekadar guru—ia penjaga kisah tentang arti merdeka yang tak bisa dilihat dari bendera semata.
"Pak Haji," ujar seorang pemuda sambil menaruh baki berisi kopi, "hari ini upacara kemerdekaan di lapangan. Bapak tak ingin datang?"
Haji Ramlan tersenyum, wajahnya keriput seperti peta sejarah. “Anak muda, tahukah engkau bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara dan bendera berkibar?”
Pemuda itu—Rahman namanya—mengangguk ragu.
"Merdeka itu bukan pula sekadar bebas bicara atau bebas memilih presiden. Ia lebih dalam dari itu, seperti sungai yang mengalir dari hulu pengorbanan."
Hening sejenak.
Rahman duduk di sampingnya. Ia tahu, ketika Pak Haji mulai berkata seperti itu, akan lahir kisah-kisah lama yang lebih tajam dari peluru.
“Dulu,” kata Haji Ramlan memulai, “kami tidak mengenal listrik. Jalan-jalan hanyalah tanah becek. Kalau hujan, tak ada yang bisa sekolah. Tapi kami tetap menulis. Di daun pisang kering, dengan arang sisa dapur. Karena kami tahu: yang paling pertama harus merdeka adalah pikiran.”
Rahman menunduk.
“Bapak ikut perang?”
“Tidak semua pejuang angkat senjata,” ujar Haji Ramlan. “Ada yang mengajar diam-diam, menyelundupkan buku ke balik sajadah, menulis puisi untuk membakar semangat. Aku memilih jalan itu. Tapi jangan salah, darah juga pernah tumpah.”
“Untuk apa semua itu, Pak?”
Haji Ramlan menatap jauh ke lembah yang kini hijau dan damai. “Untuk kamu, untuk cucu-cucuku. Supaya kalian tak perlu menunduk di negeri sendiri. Supaya kalian bisa menuntut ilmu tanpa rasa takut. Supaya kalian bisa berteriak bahwa kalian punya harga diri.”
Rahman tercekat.
“Tapi, Pak,” lanjutnya lirih, “sekarang orang mencuri demi jabatan, menindas demi kekuasaan. Apa arti merdeka jika yang berkuasa malah memperbudak?”
Angin siang menggesek dedaunan, seperti ikut mendengar.
“Kau benar,” kata Pak Haji, “kemerdekaan bisa dirampas kembali, bukan oleh penjajah luar, tapi oleh kerakusan dalam diri sendiri. Tapi itu tak berarti kemerdekaan dulu sia-sia. Justru sekaranglah waktunya kalian berjuang kembali.”
“Berjuang dengan apa?”
“Dengan kejujuran. Dengan ilmu. Dengan tidak menjual suara. Dengan tidak memukul lemah. Kemerdekaan hari ini bukan tentang mengusir Belanda, tapi mengusir sifat-sifat penjajah yang kini bersemayam di dalam negeri—korupsi, ketamakan, kebodohan.”
Rahman terdiam.
“Dan ingat,” ujar Pak Haji menatapnya dalam, “perjuangan tak pernah selesai. Hanya bentuknya saja yang berubah. Dulu kami memanggul bambu runcing. Sekarang kalian harus memanggul tanggung jawab.”
---
Di tanah yang dulu bersimbah darah,
Kita berdiri di pagi merdeka yang cerah.
Tak terdengar lagi deru peluru,
Hanya suara anak negeri menuntut ilmu.
Apa arti bebas jika lidah masih tertawan?
Jika nurani dijual demi jabatan?
Kemerdekaan bukan hadiah dari langit,
Ia adalah peluh yang tak pernah sedikit.
Bambu runcing telah jadi pena,
Namun perang tetap ada—dalam jiwa.
Lawan kini bukan serdadu bersembunyi,
Tapi nafsu yang bercokol dalam diri.
Bangkitlah, wahai anak tanah surga,
Merdeka itu bukan selesai, tapi janji yang terus dijaga.
Tanamlah jujur di ladang hati,
Sirami ilmu, panenlah harga diri.
Dan bila suatu hari kau bertanya,
"Untuk apa kita merdeka?"
Jawablah lirih sambil menatap langit:
"Agar kita bisa mencintai negeri ini... tanpa takut,
dan tanpa perlu menjual nurani."
---
Penutup
Cerpen dan puisi ini adalah seutas seruan: bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan dari dalam diri. Seperti kata Buya Hamka, “Kemerdekaan yang sejati ialah kemerdekaan jiwa, bukan sekadar tubuh.”
Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia
Komentar
Posting Komentar