Kutukan Sang Pemimpi


Di malam sunyi tanpa bintang,
ia berjalan dalam bayang bayang.
Matanya terbuka, hatinya tertutup,
memburu harapan yang selalu luput.

Ia pemimpi di negeri siaga,
bermimpi tinggi tapi tak pernah tiba.
Kata-katanya bagai doa yang patah,
terbang ke langit, jatuh di tanah.

Setiap langkah adalah luka,
setiap harapan jadi tanya.
“Mengapa mimpi terasa nyata,
hanya saat dunia terlelap sepenuhnya?”

Ia membangun istana dari debu,
menulis takdir di atas peluh.
Namun pagi selalu menghapusnya,
menyisakan getir di ujung dada.

Dibilang gila karena percaya,
padahal yang waras pun pura-pura.
Ia tersenyum pada kehancuran,
karena di situ kadang mimpi bersembunyi diam-diam.

Mereka menertawakan langkahnya yang pincang,
tak tahu luka itu pemberian bintang.
Mereka menyebutnya terkutuk,
padahal ia hanya terlalu jujur pada takdir yang pelik.

Wahai pemimpi yang malang,
kutukanmu adalah berkah yang jarang.
Meski tak sampai ke ujung dunia,
kaulah yang mengingatkan dunia untuk bermimpi semestinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah