Pecandu


Aku masih ingat jelas hari pertama bertemu Raka. Saat itu aku duduk di sebuah kafe kecil di pinggir kota, menatap layar laptop yang penuh revisi pekerjaan. Hujan turun rintik-rintik di luar, membuat suasana seperti adegan pembuka film. Dia datang bersama dua temannya, tertawa keras seperti dunia ini memang miliknya. Entah kenapa dia memilih duduk di meja tepat di depanku.

“Boleh pinjam korek?” tanyanya sambil menunjuk rokok di tangannya. Aku bukan perokok, tapi tetap mengaduk-aduk tasku pura-pura mencari, lalu menggeleng. Dia tersenyum—senyum yang membuat pipi kirinya sedikit terangkat, ada lesung pipit yang nyaris tak terlihat. Seharusnya aku kembali menatap layar laptop, tapi ada sesuatu di matanya—campuran percaya diri dan misteri—yang membuatku ingin tahu lebih banyak. Kami mulai berbicara. Ringan saja. Tentang hujan, musik, dan alasan kenapa dia benci kopi tapi suka nongkrong di kafe.

Aku tidak melihat tanda bahaya. Hanya ada daya tarik yang aneh. Dan tanpa sadar, aku sudah berjalan menuju jurang.

Tiga minggu pertama seperti mimpi. Pesan selamat pagi darinya selalu datang lebih dulu, telepon tengah malam hanya untuk bilang “Aku nggak bisa tidur kalau belum dengar suara kamu,” dan tatapan yang membuatku merasa seperti satu-satunya orang di ruangan. Kami menghabiskan waktu di mana-mana—menonton film di bioskop sepi, berdebat soal rasa es krim di pinggir jalan, atau sekadar duduk di bangku taman sambil mendengarkan lagu. Hidupnya penuh warna, dan aku merasa terseret masuk.

Di balik semua itu, ada hal-hal kecil yang seharusnya membuatku waspada. Pesan yang kadang hilang seharian, alasan yang terdengar terlalu mulus, tatapan kosong yang sesekali muncul saat aku bicara. Aku mengabaikannya. Setiap kali dia kembali, dia membawa sesuatu yang membuatku lupa marah—pelukan erat, ciuman lama, atau sekadar kalimat, “Kamu nggak tahu betapa aku butuh kamu.” Itu cukup bagiku. Saat itu.

Retakan mulai muncul di bulan ketiga. Kami sedang makan malam di apartemennya ketika ponselnya berbunyi. Nama di layar bukan namaku, dan dia cepat-cepat mematikan nada deringnya. “Aku nggak sengaja kebuka ya?” tanyaku setengah bercanda, setengah menguji. Dia tersenyum tipis. “Itu cuma teman lama. Nggak penting.” Aku ingin percaya. Tapi malam itu, saat dia tertidur, aku melihatnya mengetik pesan cepat lalu menghapusnya. Tangannya sedikit gemetar.

Keesokan harinya dia membawaku ke penginapan kecil di luar kota. Semua keraguan menguap. Di tempat itu, dia membuatku merasa seperti satu-satunya hal yang berarti. Mungkin itu caranya bekerja: ketika jarak mulai terasa, dia menarikku kembali dengan ledakan perhatian. Dan aku, seperti pecandu yang baru saja mendapat dosis, kembali melupakan gejala racun.

Hari-hari berikutnya, aku mulai menata hidupku sesuai hidupnya. Pekerjaan, teman, keluarga, semuanya menyesuaikan waktunya. Dia datang dan pergi sesuka hati. Kadang muncul di depan pintu rumah pukul dua pagi, bilang dia rindu. Kadang menghilang tiga hari tanpa kabar, lalu kembali dengan alasan setengah bohong.

Setiap kali dia pergi, aku seperti kehilangan udara. Gelisah menatap layar ponsel, menunggu notifikasi yang tak kunjung datang. Saat akhirnya pesan itu masuk—sekadar “lagi sibuk, nanti kabarin ya”—rasanya seperti injeksi adrenalin. Teman-temanku mulai khawatir. “Lo sadar nggak sih, dia cuma dateng kalau mau sesuatu dari lo?” kata Nia suatu malam. Aku marah padanya. Bukan karena dia salah, tapi karena aku tahu dia benar.

Malam itu kami bertengkar. Aku menuduhnya berbohong, dia balik menuduhku posesif. Suaranya dingin saat berkata, “Kalau kamu nggak bisa terima aku apa adanya, ya sudah. Banyak orang yang mau sama aku.” Aku menangis. Dia diam saja, lalu pergi.

Beberapa jam kemudian dia kembali, membawakan makanan kesukaanku, memeluk dari belakang, dan berkata, “Maaf. Aku cuma takut kehilangan kamu.” Ironis, karena akulah yang takut kehilangan dia. Aku tahu hubungan ini merusak, tapi juga tahu jika melepaskannya aku akan hancur.

Waktu berjalan. Pertengkaran datang dan pergi. Tangis dan tawa berganti secepat kilat. Dia terus menjadi racunku—pahit, tapi membuatku ketagihan. Kadang aku membayangkan hidup tanpa dia: bangun pagi tanpa pesan darinya, malam tanpa suaranya. Terlalu kosong. Jadi setiap kali mencoba pergi, aku selalu kembali. Satu pelukan, satu ciuman, satu janji samar—itu cukup untuk membuatku bertahan.

Aku tahu aku pecandu. Dan yang lebih menyedihkan, aku tidak ingin sembuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah