Sebuah Cerita Tentang Ngengat

Malam selalu datang dengan wajah yang sama: pucat, rapuh, seakan hanya tinggal sehelai kain tipis yang menutupi kehampaan. Di dalam hutan tua yang tak lagi tahu nama musim, seekor ngengat hitam terbang dengan sayap berdebu, bergetar setiap kali menabrak hembusan angin dingin.

Ia tidak pernah tahu siapa dirinya. Yang ia tahu hanyalah sebuah suara samar yang terus memanggilnya dari kejauhan, suara yang terdengar seperti nyanyian api.

Ngengat itu bernama Nox.


---

Dulu, sebelum ia mengenal kegelapan, ia hanyalah selembar kepompong yang bermimpi. Di dalam tidurnya yang panjang, Nox bermimpi tentang cahaya. Cahaya yang bukan matahari, bukan bulan, melainkan api biru yang menari di atas tiang kayu. Api itu berbisik kepadanya:

"Datanglah padaku, hanya aku yang bisa memberimu arti."

Dan ketika ia terbangun dari kepompongnya, sayapnya memang tercetak dengan motif aneh: lingkaran-lingkaran seperti mata yang selalu menatap, seakan ada sesuatu yang lebih tua dari dunia berdiam di balik serat-serat sayapnya.


---

Nox terbang melewati pepohonan yang membusuk. Hutan itu aneh—pohon-pohonnya tumbuh terbalik dengan akar menggantung di udara, dan tanahnya berdenyut pelan seolah jantung raksasa. Bau besi memenuhi udara.

Di dalam hutan, hewan-hewan sudah lama kehilangan bentuk aslinya. Seekor kelinci berjalan dengan dua kepala, satu menangis, satu tertawa. Burung hantu dengan sayap robek menyanyikan doa yang tak berbahasa. Semua makhluk seakan dikutuk untuk terus mengulang penderitaan mereka.

Namun tak ada satu pun yang mengganggu Nox. Mereka tahu: ngengat itu ditandai oleh sesuatu yang lebih gelap dari malam.


---

Suatu kali, Nox hinggap di atas batu hitam yang retak. Dari retakan itu, keluar suara-suara. Bukan bisikan biasa, melainkan jeritan yang menyaru sebagai doa.

"Mengapa kau mencari api, wahai anak malam?" suara itu bertanya.

Nox tidak punya mulut, tapi pikirannya menjawab.
"Karena hanya di sana aku akan menemukan akhir."

Suara dari batu tertawa getir.
"Kau tahu, semua yang mencintai api akan berakhir menjadi abu. Apa kau ingin menjadi abu?"

Nox membuka sayapnya, menampakkan mata-mata yang berputar, seolah melihat lebih banyak daripada yang bisa dipahami.
"Aku tidak ingin menjadi abu. Aku ingin tahu mengapa aku diciptakan dengan sayap yang haus pada api."

Dan tanpa menunggu jawaban, ia kembali terbang, meninggalkan batu itu meneteskan darah hitam dari retakannya.


---

Di ujung hutan, Nox menemukan sebuah desa. Desa itu seperti lukisan yang setengah terhapus: rumah-rumah berdiri miring, jalanan terbuat dari pasir yang berdenyut, dan langit di atasnya penuh dengan bulan yang saling menabrak.

Manusia-manusia tinggal di sana, tapi wajah mereka kosong. Mata mereka hitam polos tanpa cahaya, dan bibir mereka bergerak meski tak ada suara yang keluar. Mereka hidup tanpa arah, sekadar berdiri dan berjalan dalam lingkaran.

Di tengah desa itu, berdirilah sebuah obor raksasa yang menyala dengan api biru—api yang sama yang menghantui mimpi Nox.

Begitu melihatnya, jantung ngengat itu berdetak cepat.


---

Ia mendekat, tapi langkah-langkah aneh mengikutinya. Manusia-manusia kosong itu berputar mengelilingi obor, menari tanpa musik. Tubuh mereka berayun seperti boneka yang digerakkan tali yang tak terlihat.

Mata mereka semua tiba-tiba menoleh pada Nox. Tanpa suara, tanpa bibir yang bergerak, sebuah bisikan bergema di kepalanya:

"Terbanglah. Terbanglah ke dalam cahaya. Hanya itu tujuanmu."

Nox tahu itu adalah perangkap, namun hatinya bergetar oleh kerinduan. Api itu seperti rumah yang tak pernah ia miliki.

Ia mengepakkan sayapnya, naik lebih tinggi, mendekati obor biru.


---

Semakin dekat, semakin ia melihat bahwa api itu bukan api biasa. Dari nyala birunya, wajah-wajah muncul—wajah hewan, wajah manusia, wajah-wajah yang menangis dan tertawa dalam siklus tanpa henti. Mereka semua berbisik:

"Kami juga pernah terbang. Kami juga pernah mencari arti. Dan kini kami terbakar di dalam keabadian."

Sayap Nox bergetar. Ia melihat refleksi dirinya di dalam api: seekor ngengat kecil, rapuh, tapi dengan mata di sayapnya yang berputar seperti pusaran tak berujung.

Api itu berkata padanya:
"Datanglah, Nox. Kau diciptakan untuk ini. Kau bukan makhluk bebas, kau hanyalah surat yang harus dibakar agar pesannya terbaca."


---

Nox berhenti di udara. Ia tahu: jika ia masuk, ia akan terbakar. Tapi jika ia pergi, ia akan selamanya tersesat.

Api itu semakin memanggil, dengan suara lembut seperti ibu yang merayu anaknya tidur.
"Kau takut? Semua makhluk takut pada akhir. Tapi akhir adalah satu-satunya kebenaran yang bisa kau miliki."

Dan untuk pertama kalinya, Nox berbicara bukan dengan pikirannya, tapi dengan seluruh dirinya.
"Jika aku hanya surat, maka biarlah pesanku dibaca."

Dengan kepakan terakhir, ia terjun ke dalam api.


---

Tubuhnya langsung meleleh. Sayapnya hancur menjadi serpihan cahaya. Tapi justru saat itu, matanya—mata di sayapnya—terbuka semua.

Ia melihat segalanya: hutan yang terbalik, desa yang kosong, wajah-wajah yang terbakar di dalam api. Semuanya hanyalah bagian dari lingkaran yang lebih besar. Dunia itu sendiri hanyalah lampu, dan makhluk-makhluk hanyalah ngengat yang ditarik untuk terbakar demi menjaga cahaya tetap hidup.

Dalam kehancuran tubuhnya, Nox tersenyum, meski tak punya mulut. Ia mengerti.


---

Api biru meletup, dan sekejap desa itu lenyap. Manusia tanpa wajah runtuh menjadi abu. Hutan terbalik itu runtuh bagai pasir. Dan di tengah kehampaan, hanya tersisa abu yang berputar menjadi bintang-bintang baru di langit.

Dari abu itu, seekor ngengat lain lahir. Tapi kali ini sayapnya bukan hitam, melainkan perak berkilau, dan di sayapnya tidak ada mata—hanya ruang kosong, putih, tenang.

Ia membuka sayapnya, menatap dunia baru yang tercipta dari kehancuran lama.

Dan suara samar berbisik padanya:
"Kau bukan Nox lagi. Kau adalah Cahaya yang tersisa dari kegelapan."


---

Namun, di jauh sana, di kedalaman yang tak pernah dijangkau cahaya, api biru kembali menyala. Ia menunggu, lagi, seperti mimpi yang tak pernah berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah