Catatan Terakhir di Kastil Altenberg


(Ditulis dengan tergesa-gesa, tahun 1903)


Aku, Ernst Vollmer, seorang notaris dari Leipzig, menulis ini sebagai catatan terakhir sebelum fajar menelan seluruh akal sehatku. Jikalau ada yang menemukannya, bacalah dengan hati-hati, sebab kata-kata yang kutuliskan bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan serpihan dari sesuatu yang lebih busuk daripada daging yang tersimpan dalam ruang bawah tanah.

Aku dikirim ke kastil Altenberg pada musim gugur 1903 untuk mengurus surat warisan keluarga von Reichen, sebuah dinasti bangsawan yang kabarnya telah punah. Aku tak pernah bertanya mengapa aku yang dipilih, atau mengapa dokumen itu harus diperiksa langsung di lokasi kastil yang terisolasi di tepi hutan Saxony. Aku hanyalah seorang pekerja patuh. Namun malam pertama di sini, aku sadar bahwa tugasku bukan sekadar urusan tanda tangan.


***


Kastil Altenberg berdiri muram, dinding batunya dipenuhi lumut dan jaring laba-laba. Ventilasi sempit di setiap kamar menjadi satu-satunya jalur udara. Celah itu, yang seharusnya membawa kesejukan, justru berembuskan aroma besi karat bercampur darah kering. Aku menutupinya dengan kain, tapi udara tetap lolos seperti napas seseorang yang mengintai dari sisi lain.

Aku tidak sendirian. Penjaga tua bernama Herr Klaus yang membuka pintu bagiku, nyaris tak berbicara selain menggumam doa-doa Latin. Ia memperingatkanku: “Jangan menatap terlalu lama ke arah ventilasi. Mereka suka menukar pandangan.”

Aku bertanya siapa mereka, namun Klaus hanya menutup mulut rapat-rapat.


***


Pada malam kedua aku mulai mendengar sesuatu dari balik dinding. Suara gemerisik, seperti kertas yang disobek-sobek perlahan. Ketika kudekatkan telinga ke ventilasi, ada bisikan asing, bukan bahasa Jerman, bukan pula Latin. Nada itu lirih, seperti doa yang dilafalkan mundur.

Aku menutup catatan inventaris warisan dengan gugup. Aku yakin itu semacam mantra—sihir kelam yang dikabarkan dulu digunakan oleh nenek moyang keluarga von Reichen. Di desa-desa sekitar, mereka menyebutnya die Schattenkunst—“seni bayangan”. Sebuah ilmu kutukan yang mampu menggerakkan tubuh orang mati, atau mengiris tubuh orang hidup tanpa pisau.

Kutukan itu, orang menyamakan dengan santet di negeri-negeri jauh.


***


Pagi berikutnya aku menemukan pintu ruang bawah tanah terbuka. Bau busuk menyergap, lebih tajam daripada bau bangkai binatang. Di dalamnya ada meja kayu penuh bercak gelap, dan di sampingnya, peti besi terbuka.

Isinya bukan emas atau dokumen, melainkan potongan tubuh manusia. Tangan tanpa jari, kepala tanpa mata, kaki terlipat. Mutilasi itu dilakukan dengan presisi, seolah bukan oleh manusia, melainkan oleh sesuatu yang tak mengenal rasa iba.

Aku ingin melarikan diri saat itu juga, namun gerbang besi kastil telah terkunci dari luar. Klaus hilang entah ke mana.


***


Malam ketiga. Aku mulai merasa dadaku sesak. Dari ventilasi kamarku terdengar suara erangan panjang. Aku berani bersumpah, ada mata yang menatap dari balik celah itu. Kelopak pucat, iris kelabu, bergerak mengikuti setiap langkahku.

Aku melempar kursi ke arah ventilasi, tapi hanya angin yang menjawab. Namun setelah itu kudapati kursi itu terbelah dua, kayunya seperti dipotong pisau bedah. Padahal aku tak pernah mendengar suara benda tajam.

Kutukan itu nyata. Seni bayangan keluarga von Reichen merayap ke udara melalui ventilasi.


***


Aku menemukan sebuah jurnal di perpustakaan, milik Wilhelm von Reichen, tuan terakhir kastil ini. Tulisannya terputus-putus, namun ada satu bagian yang jelas:

Mereka berkata aku bisa hidup abadi bila menyerahkan tubuh pada bayangan. Ventilasi adalah pintu. Biarkan udara mengalir, biarkan bayangan masuk. Mereka akan mengambil bagian tubuh, sedikit demi sedikit, tapi aku akan tetap ada, berlipat ganda, menyebar.”

Aku gemetar membacanya. Jadi mutilasi yang kutemukan di ruang bawah tanah itu bukan korban kejahatan biasa. Itu semacam upeti bagi bayangan.


***


Catatan mulai tercecer. Aku kehilangan waktu. Kadang aku menulis di malam hari, lalu bangun keesokan paginya dengan tangan penuh darah yang bukan milikku. Pena ini masih kugunakan, meski ujung jarinya seperti terus-menerus teriris.

Aku mendengar suara Klaus lagi, namun berbeda. Ia berbicara dari ventilasi, suaranya serak dan parau: “Jangan tolak, Ernst. Bayangan hanya ingin sebagian kecil. Dengan begitu kau bisa keluar dari kastil.”

Aku bertanya, “Sebagian kecil apa?”

Jawaban itu adalah tawa panjang, lalu suara daging disobek.


***


Hari keempat. Aku mencoba menutup semua ventilasi dengan papan dan paku, tapi setiap kali aku bangun, papan itu sudah terlepas, seolah tangan tak kasat mata mencabutnya dengan sabar.

Malamnya aku melihat sesuatu. Bayangan yang tak punya tubuh menelusup dari celah ventilasi, tipis seperti asap, namun hitam pekat. Ia merayap ke meja tulisku, lalu menjelma menjadi tangan. Tangan itu menunjuk ke dadaku.

Aku lari, menubruk pintu, tapi pintu itu mengatup rapat seolah diikat dari dalam. Saat kembali menoleh, tangan itu sudah lenyap. Yang tertinggal hanyalah bau besi, tajam, menusuk hidung.


***


Aku kehilangan hitungan malam. Kastil ini tak mengenal pagi. Matahari seperti enggan menembus jendela.

Dalam mimpi, aku melihat mutilasi demi mutilasi. Tubuh-tubuh tanpa wajah menari di ruang bawah tanah. Mereka bernyanyi dengan lidah yang tak lagi menempel di mulut. Dari ventilasi terdengar tepuk tangan mereka, ritmis, menggema di kepalaku.

Aku terbangun dengan satu jari hilang dari tangan kiriku. Luka itu rapi, tak ada darah. Hanya sisa bau besi di udara.

Aku tahu kini: mereka mulai menagih dari tubuhku.


***


Klaus muncul kembali, namun wajahnya tak lagi sama. Matanya cekung, kulitnya pucat, suaranya hanya bisikan. Ia berkata, “Jangan menolak. Semakin kau lawan, semakin banyak bagianmu yang hilang. Serahkan sedikit, dan kau akan bebas.”

Aku menjerit padanya, menanyakan ke mana semua bagian tubuh yang lain dibawa. Klaus menunjuk ke ventilasi, lalu pergi tanpa langkah, hanya menghilang.

Aku mencoba menulis doa, tapi pena ini hanya menghasilkan kalimat terputus:

“…ventilasi adalah mulut, mutilasi adalah bahasa…”


***


Sekarang aku mengerti. Seni bayangan ini bekerja dengan kesepakatan: tubuh untuk kebebasan. Bagian demi bagian dipersembahkan, lalu jiwa akan dilepaskan dari kastil.

Namun aku juga tahu, itu bohong. Wilhelm von Reichen menuliskan janji yang sama, tapi akhirnya ia hancur, tubuhnya terbelah dan disimpan di ruang bawah tanah.

Aku menulis cepat, sebelum tanganku berikutnya hilang. Aku tak tahu siapa yang akan membaca catatan ini. Jika kau menemukannya, jangan berlama-lama di dekat ventilasi. Tutup semua celah udara. Jangan dengarkan bisikan.


***


Aku sudah kehilangan dua jari lagi. Nafasku makin pendek, tapi aku merasa ringan, seolah sebagian dari diriku telah dihisap keluar.

Malam ini aku mendengar suara nyanyian lebih jelas daripada sebelumnya. Mereka menyebut namaku. “Ernst… Ernst…”

Ventilasi kini bergetar, seakan sesuatu mencoba keluar. Aku menaruh catatan ini di meja, di bawah lilin yang hampir padam.

Jika esok aku tak lagi ada, berarti tubuhku telah menjadi bagian dari mutilasi yang diwariskan keluarga von Reichen.


***


Tulisan ini terhenti di tengah kalimat, noda hitam memenuhi sisa halaman. Bau besi masih menempel pada kertas. Tidak diketahui siapa yang menyalin atau menemukan catatan ini. Namun kabar beredar, siapa pun yang membacanya terlalu keras di ruangan tertutup akan mendengar suara dari ventilasi—bisikan yang menawar kebebasan dengan harga tubuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah