Catatan Yang Tersisa
(Beberapa halaman ditemukan lembab, berbau apek, bercampur noda kuning dan hitam. Tidak jelas apakah ini buku harian, laporan, atau semacam rekaman pribadi. Kalimat sering terhenti mendadak, dan ada sobekan di sana-sini. Beberapa kata nyaris tidak terbaca. Berikut transkripsi terbaik yang bisa dilakukan…)
[Halaman 1]
Aku
tidak tahu kapan aku terjatuh.
Satu
detik aku masih berada di kantor, menatap layar komputer yang
mati-matian memuntahkan angka-angka. Lalu… lantai menolak
pijakanku.
Aku
terjerembab.
Aku bangun—dan aku di sini.
Dinding
kuning pucat, lorong panjang tak berujung. Lampu neon menggantung,
mendengung.
Tak ada jendela.
Tak ada pintu.
Hanya
karpet basah yang menempel ke telapak kaki.
(noda besar menghapus 3–4 baris berikutnya)
Aku mencoba berjalan. Tidak ada ujung. Aku meninggalkan potongan kertas dari buku kecil ini di lantai, tanda. Tapi setiap aku kembali, kertas itu tidak ada. Atau mungkin lorongnya berubah.
Aku tidak sendiri. Aku mendengar… suara.
[Halaman 3] (Halaman 2 hilang, hanya sobekan)
Aku
bertemu Donny.
Dia
bilang dia sudah terjebak lebih lama. Katanya ini “Level Nol”. Ia
menyebut tempat ini seperti labirin yang memakan ingatan. Katanya
kita tidak boleh berhenti.
Aku
ingin percaya padanya.
Tapi matanya… matanya terlalu kering,
seperti ia sudah lama tidak menangis, atau tidak bisa lagi.
Kami
berjalan bersama.
Di kejauhan, selalu ada bayangan hitam di
persimpangan.
Tidak mendekat, tapi juga tidak menjauh.
Aku
bertanya apakah itu “monster”.
Damar hanya tersenyum miring.
[Halaman 4]
Suara
lampu semakin keras.
Dengungnya seperti ribuan serangga di
telinga. Aku muntah.
Donny
menahanku.
Dia bilang jangan panik. Kalau panik, “mereka”
akan tahu.
Siapa
mereka?
Dia tidak menjawab.
Di
dinding, aku menemukan coretan kuku:
“JANGAN
PERCAYA SIAPA PUN.”
Aku
menoleh ke Donny.
Dia tidak berkata apa-apa.
[Halaman 6] (Halaman 5 tercabik)
Tadi
malam… kalau memang masih ada malam di sini… aku melihat
pintu.
Hitam,
kayu tua. Tidak sesuai dengan arsitektur.
Aku ingin membukanya.
Damar
melarang. Katanya itu jebakan.
Tapi
matanya berkilat aneh.
Aku
menunggu sampai ia tidur.
Aku coba gagangnya.
Dingin.
Seperti logam beku.
Saat aku membukanya, di baliknya hanya ada—
(tinta meleber, mustahil terbaca)
[Halaman 7]
Aku
yakin aku mendengar bisikan.
Seperti
suaraku sendiri, tapi dipelintir, dipanjangkan.
“Tinggalkan dia. Dia bukan manusia lagi.”
Aku
memejamkan mata, berusaha mengabaikan.
Saat kubuka mata, Donny
sudah menatapku.
“Dengan siapa kau bicara?” katanya.
Aku
jawab: tidak ada.
Dia tertawa.
Suara tawanya tidak cocok
dengan wajahnya.
[Halaman 9] (Halaman 8 sobek separuh, penuh bercak hitam)
Kami
menemukan bekas
sepatu di
karpet.
Artinya ada orang lain.
Aku berteriak, tapi suaraku
ditelan lorong.
Gemanya
terdengar salah.
Donny melarangku berteriak. Katanya mereka akan datang.
Siapa
mereka?
Dia masih tidak menjawab.
[Halaman 10]
Aku…
aku mulai tidak yakin.
Kadang aku pikir aku berjalan sendiri.
Tidak ada Donny.
Kadang aku menoleh, dia ada di sebelahku,
tersenyum, tangannya di pundakku.
Aku
tidak tahu mana yang nyata.
Mungkin dia sudah lama mati.
Mungkin
aku hanya membawa bayangannya.
[Halaman 12] (Halaman 11 hilang)
Kami
bertengkar.
Aku menuduhnya menyembunyikan sesuatu.
Dia
menuduhku mendengarkan bisikan.
Tangan
kami nyaris saling mencekik.
Lalu sesuatu bergerak di
lorong.
Sosok hitam, panjang, kakinya menyeret. Tidak ada wajah,
hanya rongga.
Kami
berlari.
Donny lebih cepat. Dia tidak menoleh padaku.
[Halaman 13]
Aku
sendirian.
Aku yakin dia meninggalkanku.
Tapi kadang aku
melihat siluetnya di ujung lorong, melambai.
Kalau aku kejar, ia
menghilang.
Aku tidak tahu apakah aku mengejarnya, atau dia yang memanduku pada sesuatu.
[Halaman 14]
Aku
temukan catatan lain.
Tulisannya mirip tulisanku sendiri, tapi
aku tidak ingat menulisnya.
“Donny bukan nama aslinya. Dia salah satu dari mereka. Jika kau terus bersamanya, kau akan hilang.”
Tulisan
itu bergetar. Seolah kertasnya masih basah.
Aku sobek catatan
itu, kubuang.
Tapi saat aku buka buku ini lagi, potongan itu
menempel kembali di antara halaman.
[Halaman 16] (Halaman 15 nyaris habis terbakar di tepi)
Aku
lapar.
Aku haus.
Dinding berdenyut.
Karpet seperti
bernapas.
Aku
menggigit tanganku sendiri.
Rasanya nyata.
Aku
dengar suara langkah—berat, terlalu banyak sendi.
Sosok hitam
muncul lagi.
Kali ini lebih dekat.
Kali ini… aku melihat
wajahnya.
Itu wajahku.
[Halaman 17]
Aku
berlari.
Aku terjatuh.
Aku bangun.
Aku tidak tahu apakah aku benar-benar berlari, atau hanya bermimpi.
Aku
mendengar tawa Donny di belakangku.
Kadang suaranya seperti
manusia.
Kadang seperti neon yang pecah.
[Halaman 18]
Ada
pintu lagi.
Aku tak mau percaya jebakan itu lagi.
Aku buka.
Di
baliknya hanya lorong lain.
Lorong yang sama.
Tapi…
Ada
cermin
di ujungnya.
Aku
mendekat.
Aku melihat diriku.
Tapi cermin itu tersenyum
lebih dulu.
[Halaman 19]
Aku
tidak tahu apakah aku menulis ini atau dia yang menulis melalui
tanganku.
Aku ingin percaya aku masih aku.
Tapi setiap kata
terasa dipaksakan.
“Kepercayaan
adalah racun.
Pengkhianatan adalah satu-satunya jalan.”
Tulisan
itu muncul sendiri di halaman.
Aku menutup buku.
[Halaman 21] (Halaman 20 sobek, seperti digigit)
Aku
melihat Donny lagi.
Dia berkata: “Aku sudah menunggumu.”
Aku
menjawab: “Kau meninggalkanku.”
Dia tersenyum: “Tidak. Kau
yang meninggalkan dirimu.”
Di
belakangnya, sosok-sosok hitam berkumpul.
Mereka semua memakai
wajahku.
Mereka membuka mulut serentak.
Aku
tidak bisa menulis suara itu.
Aku tidak bisa menuliskan rasa
hancur itu.
[Halaman 22]
Aku
tidak percaya lagi.
Tidak pada diriku.
Tidak pada
Damar.
Tidak pada dinding kuning, karpet basah, lampu yang
berisik.
Kalau
aku berhenti percaya, mungkin semuanya berhenti ada.
Mungkin aku
bisa kembali.
Aku
pejamkan mata.
Aku ulang-ulang: ini tidak nyata, ini tidak
nyata, ini tidak—
[Halaman 23] (Terakhir, penuh noda hitam di tepi)
Saat
kubuka mata, aku masih di sini.
Tapi tidak ada lorong.
Hanya
ruangan kosong.
Dinding hitam.
Ada
meja.
Ada buku ini di atasnya.
Aku
melihat ke halaman kosong.
Tulisan muncul:
“SELAMAT DATANG. SEKARANG GILIRANMU MENULIS.”
Tanganku
bergerak sendiri.
Aku menulis kalimat ini.
(tulisan berhenti di sini. Halaman terakhir basah, seperti berembun. Tidak ada lagi catatan.)

Komentar
Posting Komentar