Di Antara Angin, dan Rasi Bintang


Di malam Arashiyama yang sunyi,
langit menggantung seperti surat tak terkirim—
biru tua, luka, dan cahaya yang jauh. 
Aku berdiri di jembatan kayu tua,
memandangi sungai yang mengalir seperti waktu,
dan bertanya:
di mana rindu pergi saat tak ada yang mendengar?
Bintang-bintang menggurat cerita di atas sana,
rasi Orion, Cassiopeia, dan anak-anak langit lainnya,
menyusun angan-angan yang tak pernah selesai kutulis.
Katamu dulu,
"Jika kita terpisah, lihat saja rasi yang sama."
Tapi malam ini,
langit terlalu luas,
dan aku terlalu kecil untuk menemukanmu.
Rindu, barangkali,
adalah hujan yang tak jatuh,
hanya menggantung di antara kelopak mata dan langit.
Dan angan-angan?
Ia adalah jembatan tipis antara 'seandainya' dan 'mustahil',
dibangun dari kenangan yang tak bisa mati,
dan harapan yang tak bisa tumbuh.
Kadang aku ingin menjadi bintang,
meski tak terang,
asal bisa terlihat dari tempatmu berdiri.
Karena setiap malam,
aku masih menatap ke atas,
bukan untuk mencari arah pulang,
tapi untuk merasa dekat denganmu
walau hanya sejauh cahaya
yang butuh ribuan tahun
untuk sampai ke mataku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah