Labirin Cermin


 

 

Aku kembali terbangun di tempat yang sama.

Sebuah lorong panjang membentang di hadapanku, begitu luas namun sempit pada saat yang sama. Dinding-dindingnya terbuat dari cermin, ratusan bahkan ribuan, berjajar rapat tanpa celah. Cahaya samar entah dari mana memantul-mantul di permukaan kaca itu, menciptakan kilatan yang berulang tanpa akhir. Seakan-akan labirin ini memiliki kehidupan sendiri, bernafas pelan, berdenyut di antara setiap pantulan.

Udara terasa dingin, dingin yang asing, bukan seperti hembusan AC atau malam yang berangin, tapi dingin yang menusuk langsung ke tulang. Aku bisa mencium aroma samar logam, bercampur dengan kelembapan yang membuat kulitku merinding. Setiap kali aku melangkah, gema langkahku terdengar lebih berat daripada semestinya, seperti ada ribuan versi diriku ikut melangkah bersama, berbaris dalam keheningan.

Aku menatap salah satu cermin.

Wajah di dalamnya adalah aku—tapi bukan aku yang sekarang. Anak kecil berusia tujuh tahun menatapku dari balik kaca, dengan senyum riang tanpa beban. Aku melihat ia berlarian di halaman rumah lama kami, berkejaran dengan seekor anjing tetangga, tertawa bersama ayah dan ibu. Suara tawa itu begitu jernih, begitu hidup, sampai aku hampir lupa kalau aku sedang bermimpi. Kenangan itu masih tersimpan jauh di memoriku, dan kini ia hidup kembali di dalam pantulan.

Aku melangkah lagi.

Cermin berikutnya menunjukkan diriku berdiri gagah di atas sebuah panggung, memakai jas rapi. Aku melihat sorak sorai ribuan orang, mendengarkan pidatoku dengan penuh khidmat. Aku bahkan bisa mendengar suara gemuruh tepuk tangan, membaui aroma bunga dari karangan ucapan selamat. Sebuah bayangan masa depan, mungkin. Sebuah diriku yang percaya diri, dihormati, tidak seperti aku yang sekarang.

Namun semakin jauh aku berjalan, semakin aneh pantulan yang kutemui.

Ada diriku yang duduk di ruang gelap, wajahnya kosong, matanya merah seperti habis menangis berhari-hari. Ada juga yang tertidur di meja, dikelilingi botol-botol minuman keras, ruangan berantakan dengan sisa makanan basi. Dan ada pula yang menggenggam pisau, menatapku dengan pandangan yang membuat dadaku sesak, senyum tipisnya mengerikan.

Aku berhenti.

Mengapa cermin ini terasa begitu nyata? Mengapa aku bisa merasakan emosi mereka seolah-olah itu adalah milikku sendiri? Dadaku ikut sakit ketika melihat diriku yang hancur, mataku ikut panas saat menatap versi diriku yang menangis. Seolah semua ini bukan sekadar pantulan, tapi fragmen-fragmen jiwaku yang tercerai-berai.

Aku menempelkan telapak tangan ke permukaan dingin kaca. Sejenak, sebuah arus listrik halus menjalar ke tubuhku, membuat jantungku berdegup kencang. Aku terkejut, mundur setapak, lalu sadar: ini bukan sekadar mimpi biasa. Aku sadar, aku sedang bermimpi, namun aku juga sadar sepenuhnya bahwa aku berada di sini.

Sebuah lucid dream.


Pagi itu aku terbangun di kasur tipis kamarku.

Matahari sudah tinggi, tapi aku hanya menatap kosong ke arah langit-langit. Rasa lelah menempel di kepalaku, padahal aku tidur cukup lama. Udara kamar pengap, dinding kusam, tirai tipis berdebu yang nyaris tak mampu menahan cahaya pagi. Seakan ruangan ini ikut menyerap semua keletihanku.

Aku menarik napas dalam, lalu bangkit. Rutinitas selalu sama: menyalakan ketel air yang mulai berkarat, menyeduh kopi pahit tanpa gula, lalu duduk menatap buku catatan yang tak pernah kusentuh lagi. Di meja, ada coretan-coretan gambar setengah jadi. Sketsa wajah, bangunan, bahkan beberapa desain karakter yang dulu kubuat saat SMA.

Sejak kecil aku suka menggambar. Pensil dan kertas selalu jadi pelarian. Tapi orang tuaku tak pernah melihatnya sebagai sesuatu yang layak.

Kamu bisanya cuma bikin coretan nggak jelas? Kuliah bisnis saja, biar ada masa depan.”
“Kamu bikin malu keluarga kalau terus-terusan main-main kayak gini.”
“Kenapa kamu nggak bisa jadi seperti anaknya Tante Mira, tuh? Ranking satu terus.”

Suara-suara itu masih jelas, seperti rekaman yang terus diputar ulang di kepalaku. Aku bisa menutup telinga, tapi gema mereka tetap menembus masuk.

Aku tak pernah benar-benar membenci orang tuaku. Mereka ingin aku aman, mapan, hidup terjamin. Tapi aku benci diriku sendiri karena tak pernah bisa memenuhi harapan mereka. Aku merasa seperti boneka kayu di atas panggung, digerakkan oleh tali yang diikat kuat. Setiap gerakanku ditentukan, setiap langkahku dipantau. Dan ketika pertunjukan gagal, bonekalah yang disalahkan.

Hari itu pun aku berangkat ke kampus.

Aku duduk di kelas tanpa benar-benar mendengarkan. Suara dosen terdengar seperti dengungan jauh yang tak bermakna. Aku melihat sekeliling: teman-temanku sibuk menulis, beberapa bercanda kecil, ada yang mengangguk-angguk sambil tersenyum pada layar laptop. Mereka tampak hidup. Mereka tampak tahu apa yang mereka lakukan.

Aku merasa seperti orang asing di tengah keramaian. Seperti bayangan yang menyusup tanpa diundang.

Kepalaku hanya dipenuhi satu hal: labirin itu. Mengapa ia begitu nyata?

Dan malamnya, seperti yang kuduga, aku kembali terjatuh ke sana.


Aku membuka mata, dan lorong itu menungguku.

Cermin-cermin masih berjajar, tetapi kali ini aku lebih berani. Aku tahu aku sedang bermimpi, aku sadar penuh bahwa aku bisa mengendalikan arahku. Tanganku menyentuh beberapa permukaan kaca, dan setiap kali aku mendekat, dunia di dalam cermin itu terasa menarikku masuk, seperti pusaran air yang menunggu untuk menyeretku.

Salah satunya menampilkan diriku dalam keluarga yang harmonis. Aku duduk bersama ayah dan ibu di meja makan, tertawa bersama, berbagi cerita ringan. Aroma sup panas menyeruak, senyum ibu menenangkan hatiku, ayah menepuk bahuku dengan bangga.

Hatiku nyaris pecah.

Aku tergoda. Apa salahnya mencoba masuk?

Aku meletakkan tangan ke permukaan kaca, dan kali ini aku tidak menahan diri. Tubuhku tersedot ke dalam, dan seketika aku berada di meja makan itu. Semua terasa nyata: rasa panas uap sup di wajahku, tekstur kursi kayu di bawah tanganku, suara tawa yang memenuhi ruang.

Namun, lama-kelamaan ada sesuatu yang ganjil. Gelas-gelas di meja mulai retak, dinding ruangan bergelombang seperti permukaan air, dan wajah ayah ibuku berubah kabur. Mereka tersenyum, tapi matanya kosong, pandangan hampa yang membuatku merinding.

Aku panik. Lalu—crash!—seluruh dunia di sekelilingku pecah seperti kaca yang dihantam palu.

Aku terhempas kembali ke lorong labirin.

Jantungku berdetak kencang.

Aku sudah memperingatkanmu.”

Sebuah suara berat muncul dari balik bayangan. Aku menoleh, melihat sosok samar berdiri di ujung lorong. Tubuhnya tinggi, wajahnya tertutup kabut, hanya sepasang mata redup yang terlihat.

Siapa kau?” tanyaku, suaraku gemetar.

Aku hanyalah penjaga.”
“Penjaga?”
“Tempat ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah ruang di antara kemungkinan—setiap cermin adalah versi dirimu yang bisa ada, atau bisa hilang. Jika kau terlalu lama terjebak, kau akan kehilangan jalan pulang.”

Aku terdiam. Nafasku tercekat.

Kenapa aku? Kenapa aku bisa ada di sini?”

Karena kau tidak tahu siapa dirimu. Karena kau terus menolak versi aslimu.”

Kata-katanya menusuk. Aku ingin membantah, tapi tak ada suara keluar dari mulutku.

Aku melangkah lagi, menjauh dari penjaga itu, menelusuri lorong-lorong baru. Setiap cermin memperlihatkan hal berbeda: ada Aku yang bahagia, Aku yang sukses, Aku yang menikah dengan seseorang yang bahkan belum kukenal. Tetapi ada juga Aku yang gagal, terbaring di ranjang rumah sakit, atau berlumuran darah dengan tatapan mengerikan.

Suatu saat aku menatap sebuah cermin, dan di dalamnya ada diriku sendiri—wajah pucat, mata cekung, tubuh penuh luka sayatan. Ia tersenyum, senyum yang dingin dan mengancam.

Kau tidak bisa lari dariku,” bisiknya dari balik kaca.

Tanganku gemetar. Aku mundur, tapi cermin itu bergetar hebat, seolah siap pecah kapan saja.

Aku berlari.

Namun lorong ini tak pernah berakhir. Setiap belokan hanya membawaku ke cermin-cermin baru. Dan di belakang, aku bisa mendengar suara langkah kaki mengikuti. Diriku yang gelap itu mengejarku. Nafasku memburu, tubuhku gemetar, tapi aku tak berani menoleh.


Suatu malam, aku kembali ke labirin dan menemui penjaga itu lagi.

“Kau bisa memilih,” katanya. Suaranya bergema, lebih berat dari sebelumnya. “Tinggal masuk ke salah satu cermin, dan itulah versi hidupmu selanjutnya. Tapi ingat, jika kau memilih, kau harus mengorbankan semua versi lain. Kau hanya bisa jadi satu.”

Aku menatap cermin-cermin yang berkilau.

Aku ingin memilih diriku yang bahagia. Aku ingin memilih keluarga harmonis, atau masa depan gemilang. Tapi… entah mengapa, setiap kali aku menyentuh kaca itu, hatiku merasa ragu.

Aku tidak siap,” bisikku.

Kalau begitu, kau akan terus tersesat.”


Labirin mulai bergetar.

Dinding-dinding kaca retak satu per satu, suara pecahannya menggema seperti ribuan lonceng yang dipukul bersamaan. Aku berlari, mencoba mencari jalan keluar. Namun dari balik cermin yang pecah, muncul sosok-sosok lain: diriku yang gagal, diriku yang putus asa, diriku yang menyeramkan. Mereka berhamburan, wajah-wajahku sendiri menatapku dari segala arah.

Dan di antara mereka, sosok gelap itu melompat keluar, kini lebih nyata daripada sebelumnya. Ia berlari mengejarku, wajahnya adalah wajahku sendiri tapi lebih bengis, lebih haus.

Kau tidak bisa lari dari sisi ini!” teriaknya.

Aku berlari sekuat tenaga, hingga tiba di sebuah persimpangan terakhir.

Di hadapanku hanya ada dua cermin yang tersisa.
Satu menunjukkan diriku yang bahagia sempurna—keluarga harmonis, karier cemerlang, segala hal yang selalu kuinginkan.
Yang satunya lagi kosong. Tidak ada apa-apa selain bayangan samar diriku sekarang: lelah, bingung, dan penuh luka.

Tanganku gemetar.

Aku hampir memilih cermin bahagia. Aku ingin sekali masuk, meninggalkan segalanya. Tapi di saat yang sama, aku teringat semua yang kukatakan pada diriku sendiri: bahwa aku pecundang, bahwa aku boneka. Dan aku sadar, jika aku masuk ke sana, aku hanya melarikan diri. Itu bukan aku. Itu hanyalah ilusi.

Aku menutup mata, menarik napas panjang, lalu menyentuh cermin kosong itu.

Sekejap, tubuhku tersedot, jatuh, lalu semuanya gelap.


Aku terbangun di kamarku.

Nafasku terengah-engah, keringat membasahi tubuhku. Namun kali ini aku merasa berbeda. Dada ini lebih ringan, seolah beban yang lama menempel kini perlahan terangkat.

Aku bangkit, berjalan ke cermin kecil di dinding kamar. Bayangan diriku menatap balik—wajah letih, mata yang masih menyimpan keraguan. Tapi aku tidak takut. Untuk pertama kalinya, aku tidak benci pada pantulan itu.

Aku tersenyum tipis.
“Ya,” bisikku, “aku masih hidup. Dan itu cukup.”

Aku mengambil jaket, melangkah keluar rumah. Matahari pagi terasa hangat di wajahku, lebih hangat dari biasanya. Burung-burung bercuit dari dahan pohon, angin membawa aroma tanah basah. Di jalan, aku melihat seorang ibu tua tersenyum sambil menuntun cucunya. Dunia ini masih sama, penuh tuntutan dan kekecewaan, tapi juga penuh hal-hal kecil yang nyata.

Dunia nyata ini tidak sempurna. Mungkin akan selalu seperti itu. Tapi di sinilah aku berada, dan di sinilah aku akan membangun diriku sendiri.

Bukan versi yang sempurna, bukan versi yang orang lain mau, tapi versi yang nyata.

Dan untuk pertama kalinya, aku percaya—itu sudah lebih dari cukup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah