Malaikat yang Mengaku Sendiri
Aku bukan siapa-siapa.
Aku bukan apa-apa.
Aku hanya suara yang terpantul di kamar ini.
Aku hanya bayangan yang menempel di lantai.
Aku hanya sisa napas yang tak terdengar.
Tapi aku harus menjadi sesuatu.
Aku harus punya nama.
Aku harus punya arti.
Maka aku berkata—berulang, berulang, berulang:
“Aku malaikat.”
Kau dengar?
Aku sudah mengatakannya.
Aku sudah bersumpah.
Aku sudah meyakinkan diriku sendiri.
Tapi mengapa… mengapa setiap kali aku bercermin, mataku kosong?
Mengapa wajahku retak, seperti kaca yang tak pernah utuh?
Mengapa aku melihat sesuatu di belakangku—bayangan hitam, panjang, menjulur?
Aku malaikat, bukan?
Aku harus malaikat.
Kalau bukan, lalu siapa aku?
Kalau bukan, lalu apa yang tersisa dariku?
Malam ini, suara itu datang lagi.
Bisikan tipis, dari sudut kamar.
Tidak ada orang. Tidak ada.
Tapi aku mendengar.
Kau benar, kau malaikat.
Bisikan itu hangat, tapi juga dingin.
Menempel di telinga, menetes ke dalam otak.
Kau malaikat… yang gagal. Kau malaikat… yang dibuang.
Aku gemetar.
Aku mencoba menutup telinga.
Tapi suara itu tumbuh di dalam kepalaku.
Ia tidak butuh mulut. Ia tidak butuh udara.
Ia lahir dari retakan di hatiku sendiri.
Aku berjalan di lorong panjang.
Lampu berkedip.
Kakiku menyeret.
Aku mendengar napas, tapi bukan milikku.
Ada sosok di ujung lorong.
Tinggi. Kurus. Tanpa wajah.
Gelapnya lebih pekat dari bayangan apapun.
Aku tidak bisa bergerak.
Aku tidak bisa berpaling.
Aku hanya bisa mendengarnya berkata:
“Aku adalah malaikat yang kau ciptakan. Aku adalah kau yang sebenarnya.”
Aku ingin menolak.
Aku ingin berteriak.
Tapi suaraku hilang.
Setiap malam, sosok itu semakin dekat.
Dari ujung lorong.
Ke sudut kamar.
Ke depan cermin.
Ke belakang tubuhku.
Aku merasakannya menempel, seolah ia adalah sayapku.
Sayap yang bukan putih, bukan cahaya.
Sayap yang terbuat dari luka, dari kegelapan, dari bisikan yang tak pernah berhenti.
“Kau malaikat. Malaikat yang mengaku sendiri. Malaikat yang tak pernah diakui.”
Aku menulis kalimat itu di dinding.
Dengan tangan gemetar.
Dengan kuku yang berdarah.
Dengan huruf yang tergores, pecah-pecah.
Aku menulisnya agar tidak lupa.
Aku menulisnya agar dunia tahu.
Aku menulisnya agar suara itu diam.
Tapi semakin kutulis, semakin keras tawanya.
Semakin panjang bayangannya.
Semakin berat tubuhku.
Aku lelah.
Aku mencoba tidur.
Tapi tidur tidak ada.
Yang ada hanyalah gelap.
Di dalam gelap, aku mendengar langkah.
Pelan. Teratur.
Mendekat.
Mendekat.
Aku tidak berani membuka mata.
Tapi aku tahu ia sudah di sini.
Berdiri tepat di samping ranjang.
Mengawasi.
Menunggu.
Dan ia berbisik lagi.
Suara yang menusuk ke dalam tulang:
“Aku malaikat. Aku, kau. Kau, aku. Kita sama. Tidak ada jalan keluar.”
Aku ingin berhenti.
Aku ingin hilang.
Aku ingin melarut ke udara, ke sungai, ke langit.
Tapi tubuhku tetap di sini.
Terikat. Terperangkap.
Aku mengulang kalimat itu lagi, seperti doa palsu, seperti mantra kosong:
“Aku malaikat. Aku malaikat. Aku malaikat.”
Sampai lidahku kering.
Sampai tenggorokanku sakit.
Sampai darah terasa di ujung bibir.
Tapi tidak ada yang datang.
Tidak ada yang menjawab.
Tidak ada yang percaya.
Hanya cermin yang terus menatap balik.
Cermin yang memantulkan wajah asing.
Mata hitam pekat.
Mulut menyeringai lebar, padahal aku tidak tersenyum.
Aku menatap.
Ia menatap balik.
Aku berbisik: “Apakah aku benar-benar malaikat?”
Cermin itu retak.
Dan dari retakan, keluar suara tawa.
Tawa yang bukan suaraku.
“Ya. Kau malaikat. Malaikat yang gagal. Malaikat yang jatuh. Malaikat yang tidak pernah diakui.”
Aku menutup telinga.
Aku menutup mata.
Aku memeluk tubuhku sendiri.
Tapi aku tahu kebenarannya.
Aku tahu akhir dari semua ini.
Aku tidak pernah punya sayap.
Aku tidak pernah bercahaya.
Aku hanya bayangan yang ingin disebut cahaya.
Aku hanya manusia yang ingin menjadi malaikat.
Dan kini, aku tidak lagi sendiri.
Karena bayangan itu telah menyatu denganku.
Karena aku telah menjadi dia.
Karena aku telah kehilangan diriku.
Di kamar yang gelap ini, di antara dinding penuh goresan kata-kata, hanya ada satu suara tersisa.
Suara itu terus bergema, berulang, tak pernah berhenti:
“Aku malaikat. Aku malaikat. Aku malaikat.”
Sampai sunyi menelan segalanya.
Sampai aku benar-benar hilang.

Komentar
Posting Komentar