Setan Dalam Penyamaran
London tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya beralih wajah, dari kesibukan siang
hari yang penuh jas dan kopi, ke malam yang dipenuhi kabut, neon, dan bayangan yang
lebih jujur dari orang-orangnya. Di balik bangunan-bangunan batu bergaya Victoria
yang masih berdiri kokoh, manusia modern berlarian dengan ambisi yang sama tuanya
dengan dosa: kekuasaan, uang, pengakuan.
Di situlah seorang pria berdiri, tampak lebih manusiawi daripada manusia lain.
Namanya Adrian Blackwell. Sosok yang digambarkan surat kabar sebagai “the
gentleman of the people”, calon pemimpin baru yang diyakini akan membersihkan kota
dari korupsi, kebusukan, dan kebohongan. Ironis, karena kebohongan itulah yang
menjadi napasnya.
Adrian bukanlah manusia. Ia adalah sesuatu yang lebih tua dari kabut Thames, lebih
gelap dari lorong-lorong Soho. Ia adalah setan dalam penyamaran, meski tidak ada
tanduk atau sayap. Yang ada hanya jas hitam buatan tangan, dasi sutra, sepatu kulit
mengilap, dan senyum yang bisa membuat seorang janda lupa anaknya sendiri.
Masyarakat Inggris, yang katanya kritis dan berpendidikan, justru menelannya bulat-
bulat. Mereka memuja. Mereka bersorak setiap kali Adrian melambaikan tangan.
Mereka percaya ketika ia berkata, “I stand for truth, for the common man, for a better
tomorrow.” Mereka tidak mendengar bisikan kecil di balik kata-kata itu—bisikan yang
berkata, “Aku berdiri demi jiwamu, dan aku akan menelannya dengan senyummu
sendiri.”
---
Alun-alun Trafalgar Square penuh sesak sore itu. Spanduk bertuliskan nama Adrian
Blackwell berkibar di udara, wajahnya yang dicetak sebesar bus kota menatap semua
arah dengan tatapan yang penuh wibawa. Orang-orang dari segala kelas berkumpul:
pekerja kantoran dengan jas longgar, ibu rumah tangga yang membawa anak,
mahasiswa yang haus idealisme, hingga para bangsawan tua yang pura-pura peduli
pada rakyat kecil.
Adrian berdiri di panggung, dikelilingi lampu sorot dan kamera. Ketika ia mengangkat
tangannya, kerumunan hening. Ia mulai bicara dengan suara dalam yang seakan dilatih
untuk menembus kabut.
“London,” ucapnya, “sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang kebohongan. Para
pemimpin sebelumnya gagal menjaga kepercayaan kalian. Tapi aku—” ia berhenti
sejenak, membiarkan kata-katanya menetes seperti racun manis, “—aku datang tidak
untuk menjanjikan, melainkan untuk membuktikan.”
Sorak-sorai meledak. Orang-orang berteriak namanya. Ada yang menangis, ada yang
saling berpelukan. Seakan mereka baru saja mendengar nubuat.
Adrian tersenyum. Ia tahu bagaimana memainkan nada. Setiap kata yang ia ucapkan
adalah alat musik, setiap jeda adalah simfoni. Ia tidak butuh sihir, karena manusia
memang lebih menyukai kebohongan yang indah daripada kebenaran yang pahit.
---
Di balik layar, di ruang-ruang gelap tempat para donor kaya minum anggur merah,
Adrian menunjukkan wajah yang berbeda. “Kau tak perlu khawatir soal kebijakan
lingkungan,” katanya pada seorang taipan minyak. “Itu hanya gimmick untuk kamera.
Kau tetap bisa meracuni sungai selama menyumbang kampanyeku.”
Kepada seorang bangsawan yang gemar pesta rahasia, ia berbisik, “Tak ada kamera
yang akan menyorot kegiatanmu, selama kau memastikan para wartawan tetap sibuk
membicarakan ‘kemajuan moral’ yang aku bawa.”
Dan kepada dirinya sendiri di cermin kamar hotel, ia berkata dengan suara rendah,
“Betapa mudahnya mereka menyerahkan jiwa hanya demi sepotong harapan. Betapa
murah harga kepercayaan manusia.”
Cermin tidak menjawab. Ia hanya memantulkan sepasang mata yang kadang tampak
manusiawi, kadang tampak seperti jurang tak berdasar.
---
Di kota, orang-orang mulai meniru gaya bicaranya. Remaja membuat meme dengan
wajah Adrian dan kata-katanya: “A better tomorrow starts today.” Para pendeta
mengutipnya di mimbar gereja, seakan ia nabi yang diturunkan dari langit. Iklan televisi
menampilkan suaranya, menenangkan bahkan ketika ia hanya mengatakan, “Minumlah
air yang sehat, hiduplah dengan hati bersih.”
Tak seorang pun bertanya kenapa setiap kali Adrian lewat, anjing-anjing menyalak
tanpa henti. Tak ada yang peduli mengapa anak kecil sering menangis saat
digendongnya. Orang dewasa sudah terlalu sibuk dengan kebutuhannya sendiri akan
simbol.
---
Namun di antara ribuan yang memuja, ada segelintir yang curiga. Seorang jurnalis
muda bernama Eleanor Hayes mulai menulis artikel yang meragukan keaslian
kampanye Adrian. “Blackwell menjanjikan transparansi,” tulisnya, “namun dana
kampanyenya justru lebih gelap daripada malam di Whitechapel.”
Artikel itu tidak mendapat banyak perhatian. Orang lebih suka membaca gosip selebriti
atau tips diet. Tapi Adrian membacanya, dan ia tersenyum. “Ah, selalu ada jiwa yang
masih ingin melawan. Mereka yang belum belajar bahwa kebenaran adalah komoditas
paling tak laku.”
Malam itu, Eleanor mendapat undangan makan malam eksklusif. Pengirimnya: Adrian
Blackwell.
---
Restoran itu terletak di tepi Thames, lampu gantung berkilau seperti bintang yang
dipaksa jatuh ke bumi. Adrian duduk menunggunya, dengan senyum ramah yang bisa
membuat siapa pun lupa alasan datang.
“Miss Hayes,” ucapnya, “saya membaca tulisanmu. Luar biasa tajam. Kau memang
punya bakat mempertanyakan segalanya.”
Eleanor gugup, tapi ia berusaha tegar. “Tugas jurnalis adalah mencari kebenaran, Tuan
Blackwell.”
Adrian menatapnya, dalam sekali, seakan matanya bisa menembus tulang.
“Kebenaran,” katanya pelan, “adalah ilusi paling berbahaya. Orang-orang tidak ingin
kebenaran, mereka ingin harapan. Dan aku memberikannya. Kau bisa ikut denganku,
Eleanor. Menjadi bagian dari sejarah.”
Sesaat, Eleanor merasa tubuhnya ringan. Kata-katanya seperti racun yang manis,
menggoda untuk diminum. Namun ia mengingat kembali air mata para buruh pabrik,
anak-anak jalanan, dan bau busuk di lorong kota. “Aku lebih memilih kebenaran pahit
daripada kebohongan indah,” jawabnya.
Adrian tidak marah. Ia hanya tertawa kecil, seakan mendengar lelucon. “Kau masih
muda. Kau akan belajar. Semua orang akhirnya menyerah.”
Malam itu, Eleanor pulang dengan kepala penuh pertanyaan. Tapi ia tahu satu hal: ada
sesuatu yang tidak manusiawi dari Adrian Blackwell.
---
Hari-hari berikutnya, kampanye Adrian semakin menggelora. Ia menjanjikan
kebebasan, keadilan, dan kemakmuran. Ia memeluk bayi, menyalami buruh,
menghadiri misa di gereja, bahkan membaca puisi di hadapan mahasiswa. Semua orang
percaya.
Kecuali segelintir yang melihat lebih dekat. Beberapa saksi mata mengatakan mata
Adrian terkadang berubah—terlalu hitam, terlalu dalam. Seorang pendeta mengaku
mimpi buruk tentangnya: Adrian duduk di tahta, sementara kota London terbakar di
sekelilingnya. Seorang anak kecil bahkan pernah berteriak, “Mummy, dia monster!”
ketika Adrian menyapanya di jalan.
Namun suara-suara kecil itu hilang ditelan teriakan massa yang lebih besar.
---
Malam sebelum pemilihan, Adrian berdiri di balkon hotelnya, memandang kota.
Lampu-lampu berkelip seperti ribuan lilin yang ia persiapkan untuk dimatikan. Ia
berbicara kepada dirinya sendiri—atau mungkin kepada sesuatu yang lebih tua dari
dirinya.
“Besok, mereka akan memilihku. Tidak karena aku yang terbaik, tetapi karena aku yang
paling bisa membuat mereka merasa aman dalam kebohongan. Dan ketika mereka
memberiku kekuasaan, mereka sebenarnya menyerahkan jiwa mereka. Setan tak perlu
memaksa; manusia sendiri yang berbaris masuk ke dalam mulut neraka.”
Bayangan di cermin kamar tertawa bersamanya.
---
Pemilihan digelar. Seperti sudah ditulis, Adrian menang telak. Rakyat bersorak,
kembang api meledak, lonceng gereja berdentang. “Seorang pemimpin baru!” teriak
headline koran. “Era harapan dimulai!”
Di depan parlemen, Adrian berpidato: “Aku berdiri di sini bukan untukku, melainkan
untuk kalian semua. Bersama, kita akan membangun masa depan yang lebih terang.”
Dan pada saat itulah, langit London yang biasanya kelabu tampak sedikit lebih gelap.
Anjing-anjing kembali menyalak, bayi-bayi menangis, tapi orang-orang tidak
mendengarnya. Mereka terlalu sibuk bertepuk tangan.
---
Eleanor berdiri di antara kerumunan, menatap ke panggung dengan wajah pucat. Ia
merasa dunia sedang jatuh ke jurang, namun semua orang bersorak gembira. Ia
membuka buku catatannya, menulis satu kalimat terakhir:
“Setan tidak lagi perlu menyamar di Inggris. Kita sendiri yang memakaikan topeng
manusia padanya.”
---
Eleanor menutup bukunya, tetapi rasa sesak di dadanya tak kunjung reda. Malam itu ia
berjalan melewati jalanan kota yang dipenuhi pesta kemenangan. Orang-orang mabuk
dengan bir, berteriak menyebut nama Adrian, menyalakan flare merah seolah
kemenangan itu adalah akhir dari segala penderitaan.
Di sebuah pub kecil di East End, ia masuk untuk mencari udara—ironis, karena pub
lebih pengap daripada jalanan. Di dalamnya, para buruh yang biasanya mengeluh
tentang hidup pahit kini bernyanyi riang, mengangkat gelas dan berteriak, “To
Blackwell!”
Eleanor mendekati meja mereka. “Kalian benar-benar percaya padanya?” tanyanya.
Seorang lelaki tua yang wajahnya keras akibat kerja tambang menatapnya dengan mata
berbinar. “Akhirnya ada seseorang yang mendengarkan kita, Miss. Ia membuat kami
percaya kita masih berarti.”
“Tapi tidakkah kalian curiga? Janjinya terlalu sempurna. Lihat siapa saja yang ada di
baliknya—taipan, bangsawan, politisi busuk. Ia bukan penyelamat, ia topeng.”
Lelaki itu tertawa. “Mungkin kau benar, mungkin juga tidak. Tapi apa peduliku pada
kebenaran? Aku hanya ingin percaya sekali saja dalam hidupku. Itu cukup.”
Kalimat itu menampar Eleanor lebih keras daripada argumen apa pun. Ia keluar dari
pub dengan kepala berputar.
---
Sementara itu, di balik pintu kayu besar sebuah mansion di Chelsea, Adrian duduk di
kursi empuk dengan segelas anggur. Sekelompok pengusaha, bangsawan, dan politisi
mengelilinginya. Mereka berbicara, menawar, meminta, menyembah.
“Tuan Blackwell,” kata seorang menteri, “kami percaya Anda akan menjaga
kepentingan industri baja kami.”
“Sudah tentu,” jawab Adrian sambil menyesap anggur. “Kesejahteraan rakyat ada di
tangan industri. Tanpa baja, tak ada masa depan. Dan tanpa kalian, tak ada rakyat yang
bisa bekerja.”
Mereka tertawa puas.
Namun di mata Adrian, mereka hanyalah pion. Ia tidak peduli pada baja, minyak, atau
saham. Ia hanya peduli pada satu hal: menanamkan kegelapan ke dalam setiap hati yang
menaruh harapan padanya.
---
Beberapa bulan pertama pemerintahannya tampak seperti mukjizat. Jalanan diperbaiki,
subsidi diumumkan, pidato penuh semangat disiarkan tiap minggu. Media
menggambarkannya sebagai the golden age of London.
Namun perlahan, retakan muncul. Subsidi hanya sampai pada kelompok tertentu. Pajak
dinaikkan diam-diam. Laporan kritis menghilang dari surat kabar. Beberapa jurnalis
dikabarkan mengundurkan diri, sebagian lain “kecelakaan” di jalan licin.
Eleanor tetap menulis, meski artikelnya dipublikasikan di situs kecil yang hampir tak
ada pembaca. Ia menerima ancaman, bahkan diikuti orang asing di malam hari. Namun
ia menolak menyerah.
“Jika aku berhenti,” gumamnya pada diri sendiri, “maka kita semua resmi menyerahkan
jiwa tanpa perlawanan.”
---
Suatu malam, ia menerima undangan lagi. Kali ini bukan makan malam, melainkan
konferensi pers di gedung parlemen. Adrian akan mengumumkan “visi besar” untuk
Inggris.
Ruang itu penuh wartawan. Adrian masuk, mengenakan setelan hitam sempurna, dasi
merah yang menyala seperti luka terbuka. Ia tersenyum, dan senyum itu lebih
mematikan daripada senjata api.
“Saudara-saudaraku,” katanya, “kita hidup di zaman kebohongan global. Media
memanipulasi, politikus berkhianat, rakyat kehilangan arah. Maka hari ini, aku
nyatakan: kita akan membersihkan semuanya. Kita akan satu suara, satu hati, satu
pemimpin.”
Kerumunan bersorak.
Eleanor mengangkat tangannya. “Tuan Blackwell, bukankah justru Anda yang paling
banyak bersekutu dengan kebohongan? Bagaimana bisa Anda klaim sebagai
penyelamat?”
Ruangan hening sejenak. Adrian menatapnya. Wajahnya tetap tersenyum, tapi matanya
seperti lubang hitam.
“Miss Hayes,” katanya lembut, “kau tahu, yang menarik dari kebohongan adalah—
bahkan ketika kau tahu itu kebohongan, kau tetap ingin mempercayainya. Karena tanpa
kebohongan, hidup ini terlalu telanjang. Aku hanya memberikan pakaian pada jiwa-
jiwa telanjang itu.”
Wartawan lain tertawa kecil, menganggap itu jawaban filosofis. Kamera menyorot,
headline besok pasti akan berbunyi: “Blackwell: Kebohongan adalah pakaian jiwa.”
Eleanor merasa mual.
---
Semakin lama, semakin jelas bahwa Adrian bukan sekadar politisi. Ia menjadi ikon.
Poster wajahnya dipasang di sekolah, kantor, bahkan gereja. Anak-anak diminta
menghafal kutipan-kutipannya. Lagu-lagu pop memasukkan namanya ke dalam lirik.
Di Hyde Park, sekelompok orang berkumpul tiap minggu hanya untuk menyanyikan
yel-yel memuji. Seorang pendeta bahkan menyebutnya sebagai “Anugerah Tuhan bagi
Inggris.”
Namun di sisi lain, pengangguran meningkat, rumah sakit kekurangan dana, dan protes
kecil dibubarkan dengan kekerasan.
Tetapi rakyat tetap bersorak. Mereka lebih memilih menutup mata, karena terlalu sakit
melihat kenyataan.
---
Eleanor akhirnya menemui sekelompok akademisi tua yang juga mulai curiga. Di
sebuah ruang bawah tanah perpustakaan tua, mereka berdiskusi.
“Dia bukan manusia,” kata seorang profesor filsafat. “Aku melihat matanya, itu bukan
mata pemimpin, itu mata jurang.”
“Kalau begitu kita harus membongkarnya,” kata Eleanor.
Namun yang lain ragu. “Bahkan jika kita membuktikan dia setan, apa bedanya? Orang-
orang tetap akan mengikutinya. Mereka akan bilang, ‘Setan lebih baik daripada
kebohongan manusia biasa.’”
Pernyataan itu membuat ruangan sunyi.
---
Malam itu, Eleanor menulis artikel panjang, judulnya: “Setan Dalam Penyamaran:
Mengapa Kita Memuja Kebohongan.” Ia menulis tentang semua janji palsu, semua
kontradiksi, semua korban. Ia kirimkan ke setiap media yang ia kenal.
Keesokan harinya, tak satu pun yang menerbitkannya.
Sebaliknya, televisi menyiarkan pidato Adrian: “Ada segelintir pengkhianat yang
mencoba merusak persatuan kita dengan fitnah. Jangan takut. Bersama kita kuat.”
Sorak-sorai lagi. Dan kali ini, sebagian rakyat mulai menganggap siapa pun yang
mengkritik Adrian adalah musuh bangsa.
---
Puncaknya datang pada peringatan satu tahun pemerintahannya. Adrian berdiri di
balkon Buckingham Palace—ia bahkan berhasil menguasai simbol kerajaan itu.
Ratusan ribu orang berkumpul di jalan, bendera berkibar, lagu baru diputar: “Blackwell
is our Light.”
Eleanor berada di antara massa, menyamar dengan mantel lusuh. Ia membawa kertas
selebaran berisi artikel yang ditolak semua media. Ia mencoba membagikannya.
Namun seorang pria menatapnya tajam. “Apa ini? Kau menuduh Blackwell penipu?”
“Ya,” jawab Eleanor tegas.
Pria itu merobek selebaran. “Diamlah, wanita gila. Kami akhirnya punya alasan untuk
percaya lagi. Jangan hancurkan itu.”
Orang-orang di sekitarnya ikut mencemooh. Eleanor terpaksa mundur, air mata
bercampur hujan.
Di atas, Adrian mengangkat tangannya. “Rakyat Inggris,” katanya, “hari ini kita bukan
lagi bangsa yang tercerai-berai. Kita adalah satu tubuh, satu jiwa, satu hati. Dan aku
adalah jantungnya.”
Massa bersorak.
Langit London semakin gelap.
---
Malam itu, Eleanor menulis kalimat terakhir dalam hidupnya:
“Setan tidak merebut kekuasaan. Kita sendiri yang menyerahkannya. Karena pada
akhirnya, kebohongan bukan disembunyikan oleh setan, melainkan dipeluk oleh
manusia.”
Ia mengirimkannya ke arsip daring, sebuah server kecil yang hampir tak ada
pengunjung.
Keesokan harinya, ia ditemukan hilang. Polisi menutup kasusnya dengan alasan “pergi
meninggalkan kota.” Tidak ada yang bertanya lebih jauh.
---
Bertahun-tahun kemudian, nama Adrian Blackwell masih disebut dalam buku sekolah.
Ia dikenang sebagai pemimpin terbesar, Father of Unity. Patungnya berdiri di tengah
kota, dengan senyum yang abadi.
Orang-orang menaruh bunga di kakinya, berdoa, berfoto. Tidak ada yang ingat Eleanor
Hayes, atau artikel terakhirnya.
Namun di tengah malam, ketika kabut menutupi sungai Thames, beberapa orang
bersumpah melihat patung itu bergerak sedikit. Senyumnya makin lebar, matanya
makin hitam.
Dan dari kejauhan, terdengar suara berbisik, begitu pelan tapi menusuk telinga:
“Setan tidak pernah menyamar. Kalian sendirilah yang memakaikan wajahku.”

Komentar
Posting Komentar