Unnamed

Dia duduk di kursi reyot itu, memeluk dirinya sendiri seolah tubuhnya hanyalah cangkang kosong. Matanya menatap jendela, tapi bukan jendela yang ia lihat. Ada sesuatu lebih jauh dari kaca, lebih jauh dari cahaya. Aku berdiri di sudut ruangan, hanya menyaksikan, menyimpan catatan ini dalam kepalaku, seakan menuliskan sunyi.

Ada bisikan—samar, lalu tajam. Dia mengangkat kepala dan tersenyum kepada sesuatu yang tak terlihat. Senyum itu bukan miliknya. Senyum itu milik yang lain—Dia yang lain. Tubuh yang sama bergerak dengan dua jiwa: satu terjatuh ke dasar lumpur, satu lagi menariknya lebih dalam.

Dia berbicara. Bukan padaku, bukan pada dunia, melainkan pada dirinya sendiri, pada bayangan yang merayap setiap kali malam meneteskan detik. "Aku lelah," katanya, tapi suara lain menjawab, "Kau tidak lelah, kau kosong. Kosong harus diisi kegelapan. Biarkan aku."

Aku ingin menutup telinga, tapi aku juga ingin mendengar. Ada keindahan yang sakit dalam pertengkaran itu—suara-suara yang saling mencakar, juga saling merangkul. Dia berteriak, lalu tertawa, lalu menangis. Aku tetap berdiri, tidak mendekat.

Kegelapan itu nyata. Aku melihatnya seperti kabut hitam merembes dari celah kulitnya, seperti tangan-tangan tak berbentuk yang memegang tenggorokannya dengan kelembutan palsu. Dia meronta, tapi juga menyerahkan diri. Ada bagian dari dirinya yang ingin tenggelam, ada bagian lain yang diam-diam mendorong.

Aku tidak menolong. Aku tahu jika aku menyentuh, aku akan ikut terseret. Jadi aku hanya menulis dalam diam: Dia sedang dimakan dirinya sendiri. Jatuh dalam pelukan yang ia benci sekaligus rindukan.

Kadang Dia menoleh padaku, tersenyum dengan mata merah, lalu berkata tanpa suara, "Aku baik-baik saja." Tapi aku tahu itu bukan Dia. Itu Dia yang lain. Dia yang menutup semua celah cahaya.

Dan ketika akhirnya Dia rebah, tubuhnya diam, matanya menatap langit-langit kosong, aku tahu kegelapan telah menemukan rumahnya. Aku tetap berdiri, tetap menjadi saksi. Tidak lebih, tidak kurang.

Karena begitulah adanya: ada orang yang jatuh, dan ada orang yang hanya menonton.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah