"HP" Bagi Anak-Anak Pondok


Kebanyakan ya, anak-anak pondok kalau ketemu sama orangtuanya, yang pertama kali dicari itu satu.


Yaa... apalagi kalau bukan "HP"?


Well... gw nggak mempersalahkan mereka memegang HP. Itu justru sangat wajar, mengingat mereka 24 jam, 7 hari, 4 pekan, 1 bulan, atau bahkan lebih tidak memegang HP. Sehari-hari mereka sudah stress dengan hafalan dan pelajaran yang ada disini (bagi mereka yang serius, of course)


Yang tidak wajar adalah ketika HP tersebut merusak pertemuan mereka sama orangtuanya. Membuat renggang hubungan.


Jadi, gini ya bro. Tolong diingat, tujuan orangtua kalian semua datang ke sini, itu bukan sekedar "Oh hai! Apa kabar? Sehat-sehat ya!". Atau bukan untuk sekedar menyerahkan HP, lalu mereka pergi lagi. Bukan, bukan untuk basa-basi macam itu.


Mereka ingin melepas rindu.


Gw belum pernah jadi orangtua (iyalah, nikah aja belum ya kan?). Tapi, tentu saja gw bisa memahami perasaan orangtua ke anaknya. Perasaan orangtua yang terpisah dari anaknya. Meski hanya sementara, tentu saja mereka rindu, baik secara fisik ataupun batin.


Sekarang, coba kalian bayangin. Kalian punya anak, terus waktu kalian jenguk anak kalian, hal yang pertama anak kalian cari adalah HP. Udah gitu, langsung main HP. Gak nyapa, gak ada nanya kabar, langsung sibuk dengan sosial media.


Sakit gak? Ya sakitlah!


Maka... tolong diingat, orangtua kalian pengen bertemu kalian. Kaliannya malah sibuk dengan HP. Hormati orangtua kalian. Sapa, tanya kabarnya, sesederhana itu. Masa' sesusah itu untuk sekedar menyapa.


And last, gw nggak ngelarang main HP ya (yaiyalah, gw juga main HP :P). Tapi atur waktunya, lihat waktu. Kalau orangtua kalian lagi kajian (KBO tentu saja), barulah kalian main. Gini lho ya, KBO tuh dari jam 9 sampai Dzuhur. Bayangin, 3 jam lho, lama banget itu. Masa' masih nggak cukup?


Dan yah, sebenernya gw mau protes sih. KENAPA SIH GAK BOLEH BAWA HP KE SAKAN???


> Kamis, 30 Oktober 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah