tidak diinginkan





 

Aku tidak tahu sejak kapan ruang ini berhenti berubah. Dindingnya tetap putih, tapi putih yang kotor seperti ingatan yang dipaksakan bersih. Di pojok ruangan ada kursi plastik yang kehilangan satu kaki, miring seperti seseorang yang terlalu lama menunggu dan akhirnya memilih rebah pada ketimpangan. Lampu di langit-langit mendengung pelan, ritmenya seperti napas seseorang yang tidur tapi tidak bermimpi.

Aku duduk di lantai yang dingin, menatap garis di antara ubin. Garis itu dulu seperti batas antara sesuatu dan sesuatu yang lain. Sekarang, ia hanya retakan. Aku sudah mencoba menanyakan pada diriku sendiri: apakah aku masih di sini, atau hanya bayangan dari seseorang yang pernah di sini?

Di luar jendela, tidak ada luar. Hanya cahaya abu-abu, bukan pagi atau sore, seperti dunia lupa meletakkan mataharinya di posisi mana pun. Aku kadang mendengar langkah, tapi tak ada pintu di ruangan ini. Mungkin langkah itu datang dari dalam kepalaku, mungkin dari dinding yang meniru suara manusia. Aku mulai menganggap ruang ini punya cara sendiri untuk berbicara: dengan gema, dengan ketidakpastian.

Aku pernah punya nama, tapi sekarang namaku terasa seperti benda yang jatuh di air terlalu dalam. Aku tahu bunyinya, tapi tak bisa menggapainya lagi.

Ruang ini dulunya—atau mungkin masih—adalah kamar kecil di belakang sesuatu yang dulu disebut rumah. Aku ingat ada seseorang yang menutup pintunya dari luar. Aku ingat suara kunci yang berputar perlahan, seolah orang itu ingin memastikan aku mendengarnya. Setelah itu, hanya hening, dan aku belajar berbicara pada dinding.

Dinding mendengarkan lebih baik dari manusia. Dinding tidak menatap balik dengan penilaian, hanya memantulkan gema dari kata-kataku sampai aku lupa mana suara asliku. Kadang aku pikir dinding ini mencintaiku. Kadang aku pikir ia hanya menahan tubuhku agar tidak terlepas dari dunia.

Setiap hari, aku bangun dan mencoba mengingat urutan hal-hal yang dulu penting: napas, langkah, cahaya, bayangan. Tapi sesuatu di antara mereka selalu hilang. Hari ini, yang hilang adalah rasa lapar. Aku makan udara, dan rasanya sama saja dengan roti dingin yang pernah kubenci. Tubuhku seolah menolak mengingat bagaimana caranya menjadi hidup.

Aku mendapati diriku sering berbicara pada bayangan sendiri. Bayangan itu kadang menjawab, kadang diam. Aku mulai berpikir, mungkin aku bukan orang yang ditinggalkan, melainkan orang yang sengaja disembunyikan. Ada perbedaan di sana—yang satu masih ditunggu, yang lain dilupakan secara sengaja. Aku rasa aku yang kedua.

Beberapa waktu lalu—entah kapan, waktu di sini seperti jam rusak yang tetap berdetak—aku menemukan cermin kecil di bawah ranjang yang sudah berkarat. Kaca itu retak, memecah wajahku jadi potongan-potongan yang tak mau bersatu. Aku menatapnya lama. Wajah itu seperti orang asing yang sedang berpura-pura menjadi aku. Dalam retakan itu, aku merasa melihat seseorang lain—atau mungkin diriku di waktu lain—yang sedang mencoba keluar dari tempat ini.

Aku berbicara padanya:
“Apakah kamu masih di sana?”
Tapi tidak ada suara, hanya pantulan mataku sendiri, bergetar di antara dua dunia yang tak saling percaya.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana. Kadang aku mendengar semacam musik samar—bukan lagu, lebih seperti dengungan mesin yang sedang sekarat. Ritmenya terputus-putus, seperti jantung yang lupa tugasnya. Aku menempelkan telinga ke lantai, dan suara itu terasa datang dari bawah.

Aku mencoba mengintip celah antara ubin, dan untuk sesaat aku yakin aku melihat sesuatu di bawah sana: ruang lain, sama bentuknya, tapi lebih terang. Di sana ada seseorang—atau sesuatu—yang berdiri menatap ke atas, ke arahku. Wajahnya samar, tapi aku tahu dia tersenyum.

Aku mundur. Tangan gemetar.
Aku tahu tempat ini meniru segalanya, bahkan kemungkinan keluar.

Setelah itu, aku mulai menulis di dinding. Kata-kata yang tidak lagi penting, tapi tetap ingin hidup. “Aku di sini,” tulisku pertama kali. “Aku masih di sini,” tulisku keesokan harinya. “Aku tidak tahu kenapa aku di sini,” pada hari ketiga. Setelah beberapa minggu, kata-kata itu menutupi seluruh permukaan dinding. Tapi entah bagaimana, setiap kali aku bangun, sebagian dari tulisan itu hilang. Seolah ruangan ini menelan sebagian dariku setiap malam.

Kadang aku berpikir, mungkin tempat ini bukan penjara. Mungkin ini tubuhku sendiri. Tempat di mana aku terjebak, bukan karena kunci, tapi karena keberadaan itu sendiri. Mungkin aku tidak pernah dikurung, hanya tidak diundang kembali ke dunia luar.

Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil: suhu yang berubah tanpa sebab, suara langkah yang berhenti tepat di belakangku tapi tak meninggalkan bayangan, aroma debu yang tiba-tiba manis seperti gula terbakar. Aku tahu semuanya simbol, tapi aku tak tahu untuk apa. Mungkin ruang ini sedang berusaha mengatakan sesuatu, tapi bahasanya bukan bahasa manusia.

Suatu malam—jika ini bisa disebut malam—aku mendengar suara pintu terbuka. Padahal aku tak punya pintu. Suara itu datang dari arah cahaya abu-abu, dan di sana, untuk pertama kalinya, aku melihat siluet seseorang berdiri di antara kabut tipis. Tubuhnya nyaris transparan, tapi aku tahu bentuknya mirip aku.

Ia berkata:
“Kamu bukan seharusnya di sini.”

Aku menjawab dengan suara serak:
“Di mana lagi?”

Ia tidak menjawab. Hanya melangkah mundur ke dalam kabut, dan aku mendapati diriku berlari mengejarnya. Tapi setiap langkahku seperti ditarik ke belakang. Lantai menjadi licin, udara menebal. Aku terus berlari meski tubuhku mulai kabur di pinggir penglihatan sendiri.

Ketika aku sampai di tempat ia berdiri tadi, yang tersisa hanya kursi plastik tanpa satu kaki itu, tapi kali ini kursinya berdiri tegak. Aku menyentuhnya. Hangat. Seperti baru saja diduduki seseorang.

Aku duduk di atasnya, dan sesuatu berubah. Dinding-dinding mulai bernafas, perlahan. Lampu berhenti berdengung. Untuk pertama kalinya, aku mendengar detak jantungku sendiri. Tapi iramanya tidak serupa manusia. Lebih mirip gema langkah yang berjalan sendirian di koridor yang terlalu panjang.

Aku bertanya lagi pada ruang ini: “Apakah kamu ingin aku pergi?”

Tidak ada jawaban, tapi lantai bergoyang sedikit, seolah memberi anggukan.

Malam itu aku bermimpi—atau mungkin aku tidak tidur sama sekali. Dalam mimpi itu, aku melihat diriku berjalan di jalan tol kosong. Lampu-lampu sodium bergantungan di atas kepala seperti bulan yang tak sabar menua. Aku tidak tahu ke mana jalan itu menuju, tapi setiap langkah terasa seperti ingatan yang dikembalikan dengan paksa. Di ujung jalan, ada seseorang menungguku. Ia melambai, wajahnya buram. Aku mencoba mendekat, tapi tubuhku mulai transparan.

Ketika aku bangun, aku tidak tahu di mana aku berada. Dindingnya berbeda, lebih tinggi. Warna putihnya lebih bersih, tapi udara lebih dingin. Di pojok, kursi plastik itu kini utuh, tanpa cacat. Di dinding tak ada tulisan sama sekali, seolah semuanya dihapus bersih.

Aku merasa telah dipindahkan—bukan keluar, tapi ke versi lain dari tempat yang sama.

Aku tertawa pelan. Mungkin ini hukuman bagi orang-orang seperti aku: tidak pernah benar-benar diusir, hanya dipindahkan dari satu ketidakadaan ke ketidakadaan lain.

Aku mulai menulis lagi di dinding baru. “Aku di sini.”
Kali ini tulisanku langsung menghilang begitu selesai.

Aku tersenyum. Mungkin itu artinya ruang ini sudah belajar bicara tanpa perlu kata-kata.

Hari-hari berikutnya terasa seperti serpihan dari mimpi yang menolak bersatu. Aku tidak tahu apakah aku masih bergerak, atau dunia yang bergeser di bawah kakiku. Suatu ketika, aku menemukan benda kecil di lantai: potongan kuku, mungkin milikku, mungkin milik orang lain yang pernah di sini. Aku menatapnya lama, dan entah kenapa aku merasa benda itu tahu sesuatu yang tidak aku tahu.

Aku menaruhnya di atas meja imajiner—karena tak ada meja di sini, tapi aku membayangkan satu, dan itu cukup. Lalu aku berbicara pada kuku itu seperti pada teman lama: aku menceritakan tentang suara lampu, tentang bayangan yang datang di malam-malam tanpa waktu, tentang bagaimana aku mulai merindukan rasa lapar.

Di tengah kalimat, kuku itu bergetar. Hanya sedikit. Seperti menandakan bahwa ia mendengar. Aku menatapnya, lalu tertawa. “Kamu mengerti, ya?” kataku. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Waktu mulai kehilangan bentuknya. Ada hari-hari di mana ruang ini tampak seperti koridor sekolah lama—panjang, berbau kapur, dengan papan tulis di ujung yang tak bisa terbaca. Kadang berubah menjadi ruang tunggu rumah sakit dengan kursi biru, majalah usang, dan jam yang berhenti pada angka tiga belas. Kadang aku berjalan di antara keduanya tanpa sadar kapan perubahan itu terjadi.

Setiap tempat membawa rasa yang sama: seolah ada seseorang yang baru saja pergi, meninggalkan jejak panas tubuhnya di udara. Aku mencoba mengikuti arah kepergian itu, tapi setiap langkah hanya membawaku ke tempat yang sama.

Aku mulai percaya bahwa ruang-ruang ini tumbuh dari pikiranku sendiri. Bahwa setiap tembok, setiap kursi, setiap ubin, adalah penjelmaan dari keinginan yang terlalu lama dikubur. Aku tak tahu apakah itu berarti aku masih punya kuasa atasnya, atau justru berarti aku telah kehilangan kendali sepenuhnya.

Suatu saat aku menemukan pintu. Benar-benar pintu.
Warnanya abu-abu, tanpa gagang, tapi ada celah kecil di tengahnya yang mengeluarkan cahaya tipis seperti napas. Aku tidak tahu sudah berapa lama pintu itu ada di sana—mungkin selalu, hanya saja aku baru bisa melihatnya sekarang.

Aku menempelkan telapak tangan ke permukaannya. Dingin.
Lalu suara datang, kali ini jelas, dari balik pintu:
“Kenapa kamu masih di sini?”

Aku ingin menjawab, tapi suaraku tidak keluar. Di tenggorokan, sesuatu menahan, seperti tali yang diikat dari dalam. Aku memukul pintu itu, tapi setiap sentuhan membuat cahaya semakin redup. Hingga akhirnya aku berhenti, bersandar pada dingin yang bisu itu, dan menangis.

Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku menangis.
Air mataku jatuh, menetes ke lantai, dan dari setiap tetes tumbuh sesuatu yang kecil—seperti benih. Dalam beberapa detik, mereka menjadi bunga yang aneh: kelopak transparan, batang berdenyut pelan seperti nadi.

Aku menatapnya.
“Aku menciptakan ini?” gumamku.

Bunga-bunga itu mengeluarkan bunyi lembut seperti dengungan nyamuk. Aku mendekatkan telinga, dan aku mendengar suara-suara kecil di dalamnya: bukan kata, tapi gumaman yang terdengar seperti fragmen dari diriku sendiri.

“Aku ingin pergi.”
“Aku tidak pantas ada.”
“Aku tidak ingin diingat.”

Suara-suara itu seperti gema yang keluar dari dada sendiri, dan aku menyadari: bunga-bunga ini tumbuh dari hal-hal yang tidak pernah kuucapkan. Dari penolakan yang kupelihara dengan sabar.

Aku mencabut satu bunga dan meletakkannya di dinding. Dinding itu bergetar, lalu membuka sedikit—tidak cukup untuk keluar, tapi cukup untuk melihat sesuatu di baliknya. Sebuah kota. Kosong. Jalanan penuh lampu hijau yang berkedip tak serempak. Gedung-gedung tinggi dengan jendela-jendela yang menatapku tanpa mata.

Di tengah kota itu, ada seseorang berjalan sendirian, membawa koper besar. Dari kejauhan aku tahu: dia aku. Tapi versi yang berbeda. Wajahnya lebih tenang, tubuhnya lebih nyata. Ia berjalan tanpa menoleh.

Aku ingin berteriak, tapi dinding menutup kembali sebelum aku sempat mengeluarkan suara.

Setelah itu, ruangan menjadi gelap total. Tidak ada lampu, tidak ada suara. Hanya detak jantungku yang pelan, konstan, menandai keberadaan. Dalam gelap itu, aku mendengar bisikan:
“Kamu tidak diinginkan di sana.”
Aku menjawab pelan, “Aku tahu.”

Lalu bisikan itu berkata lagi, “Tapi kamu juga tidak diinginkan di sini.”

Aku tertawa kecil. “Lalu di mana aku seharusnya?”

Tak ada jawaban. Tapi kali ini aku merasa sesuatu di dalam diriku bergerak—bukan rasa takut, melainkan semacam kesadaran yang aneh, seperti mengingat sesuatu yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Aku mulai berpikir: mungkin tidak ada “di sana” dan “di sini.”
Mungkin seluruh ruang hanyalah proyeksi dari tubuh yang menolak dirinya sendiri. Mungkin aku tidak diinginkan karena aku sendiri yang menolak menginginkan.

Ketika cahaya akhirnya kembali, aku tidak lagi berada di ruangan itu. Aku berdiri di tengah jalan raya yang sunyi. Di kiri-kanan, papan reklame berkilau tapi semua hurufnya terbalik. Udara berbau hujan yang belum turun. Tidak ada kendaraan, tidak ada manusia. Hanya garis putih panjang di tengah jalan, memisahkan dua arah yang tak pernah berpapasan.

Aku berjalan mengikuti garis itu, dan setiap langkah terasa seperti menulis kalimat baru di udara.
“Aku pernah hidup.”
“Aku masih hidup.”
“Aku ingin tahu bagaimana rasanya diinginkan.”

Aku tidak tahu ke mana aku menuju. Tapi jauh di depan, ada cahaya kecil, berkedip seperti jantung bayi yang baru belajar berdetak. Aku melangkah ke arahnya, perlahan.

Di sekitarku, dunia mulai mengisi dirinya sendiri. Bangunan tumbuh dari kabut, lampu menyala satu per satu, angin membawa suara-suara samar seperti bisikan orang-orang yang baru teringat akan mimpinya sendiri.

Dan di antara suara-suara itu, aku mendengar sesuatu memanggil namaku. Nama yang sudah lama hilang. Aku menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya pantulan diriku di genangan air yang perlahan membentuk senyum.

Aku berjongkok, menatap pantulan itu. Ia berbicara tanpa suara:
“Kamu di sini karena kamu memilih untuk tetap ada.”

Aku menyentuh permukaan air. Pantulan itu pecah menjadi lingkaran kecil, tapi suaranya masih tertinggal di kepalaku, berputar seperti mantra yang tak selesai.

Aku terus berjalan sampai cahaya di depan menjadi terlalu terang untuk ditatap.
Dalam silau itu, aku merasa tubuhku mulai larut, seperti kertas yang direndam air. Tapi tak ada rasa sakit—hanya perasaan ringan, seolah akhirnya semua dinding di dalam diriku runtuh bersamaan.

Sebelum semuanya putih sempurna, aku mendengar bisikan terakhir:
“Kadang dunia tidak menolakmu. Kadang dunia hanya belum tahu caranya menampung seseorang sepertimu.”

Dan aku berhenti melawan.
Membiarkan cahaya menelan seluruh bentukku.

Entah untuk pertama kalinya, atau justru terakhir kalinya, aku merasa diinginkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah