【Fever Dreams】


 

Tubuhku terbakar tanpa api,

namun salju tumbuh di belakang tenggorokanku.
Setiap napas adalah kutub dan kawah sekaligus,
setiap detak jantung—
palu kecil yang menempa kesunyian di dalam darah.

Aku melihat waktu mencair di telapak tanganku,
mengalir seperti logam panas yang menulis takdir
di pori-pori yang gemetar.
Dari celah antara sadar dan deliria,
ada suara memanggilku dengan nama yang bukan milikku,
nama yang terbuat dari uap dan kehilangan.

Seekor ikan bernafas di udara kamar,
sisiknya memantulkan wajah-wajah yang tak pernah kulupakan:
ayah, ibu, dan diriku di usia yang belum sempat jadi.
Ikan itu berbisik dalam bahasa yang tidak kupahami,
namun maknanya menempel di dahi:
“Rasa sakit adalah cermin yang retak;
tapi di retaknya, kau akan melihat wujud yang jujur.”

Aku berjalan di antara jam-jam yang meleleh,
jarum-jarumnya menunjuk ke arah dada—
seakan waktu berputar hanya untuk menatap luka.
Di ujung lorong mimpi, kulihat diriku sendiri,
namun tubuhku dari kaca,
dan di dalamnya berenang makhluk kecil bernama “penyesalan.”

Langit demam; bintang-bintangnya seperti luka terbuka.
Aku ingin tidur, tapi tidur adalah api,
dan setiap kali aku mencoba,
aku terbakar menjadi doa yang setengah utuh.

Lalu datanglah sosok berkepala bulan,
memegang mangkuk berisi air mata dingin.
Ia berkata tanpa bibir:
“Setiap panas adalah cara Tuhan menguji jarak
antara dagingmu dan jiwamu.”

Aku meminum air itu—
dan tubuhku perlahan berubah jadi bayangan,
melayang di atas ranjang yang masih menahan tubuhku yang fana.
Dari atas, aku melihat diriku sendiri menggigil,
dan entah mengapa, di situ aku justru merasa sembuh.

Pagi datang tanpa warna.
Aku terbangun dengan rasa yang bukan rasa,
namun di tenggorokanku tersisa jejak asin dari doa yang belum selesai.
Mungkin itulah artinya:
bahwa mimpi di saat demam
adalah jendela yang hanya terbuka ketika kesadaran terbakar—
dan yang menatap dari baliknya
bukan dunia,
melainkan dirimu yang tak pernah sempat kau kenali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah