Gema Yang Terlambat


“Beberapa suara tak pernah hilang—ia hanya datang terlambat, membentur dinding waktu, dan pulang ke dada yang masih menunggu.”

Di tengah kota Elyria-9, bangunan setinggi langit merangkak naik seperti jari-jari dewa, dan lampu-lampu neon berdenyut dalam bahasa yang hanya dipahami oleh mesin. Udara tak lagi berasal dari bumi—ia buatan, bersih tapi tanpa jiwa. Di jalanan, mobil-mobil melayang tanpa suara. Di langit, drone menari seperti burung-burung dari zaman yang tak dikenal.

Dan di antara semua itu, ada satu manusia yang masih berjalan kaki. Namanya Ren.

Ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang teknisi sinyal tua, bekerja untuk departemen Rekonstruksi Gema—sebuah divisi kecil yang bertugas melacak frekuensi suara yang hilang di waktu lalu. Ia menghabiskan hari-harinya mendengarkan fragmen-fragmen suara, mencoba menyambung kepingan percakapan yang pernah ada.

Tapi malam ini berbeda.


“Gema adalah kenangan yang tersesat. Ia tak ingin ditemukan, tapi selalu kembali.”

Di terminal frekuensi 47B, layar tiba-tiba menyala sendiri. Suara perempuan muncul—lirih, terpotong-potong. Seolah berasal dari masa yang nyaris tidak dikenang.

"Ren... kalau kamu dengar ini... berarti aku gagal pergi jauh darimu."

Suara itu membuat tubuh Ren membeku. Ia mengenal suara itu.

Sudah tiga belas tahun berlalu, namun nada suaranya tetap sama.

Elira.


Tahun 2121.

Ren dan Elira tinggal di distrik bawah tanah Elyria, saat sistem sosial masih membagi manusia menjadi dua: Langit dan Tanah.

Mereka berdua berasal dari Tanah. Dunia bawah. Kota bayangan. Tapi hati mereka terbang jauh lebih tinggi dari menara Langit mana pun.

Setiap malam, mereka duduk di tepi kanal neon, mendengarkan gema suara kota dari kejauhan.

“Kalau suatu saat aku hilang,” kata Elira, “rekam suaraku. Biarkan aku jadi gema yang datang terlambat.”

Ren tertawa. “Kalau kamu hilang, aku akan mencarimu hingga ke frekuensi terakhir.”

Tapi janji adalah makhluk yang ringkih. Dan waktu adalah pembunuhnya.


Tahun 2126.

Elira menghilang.

Sistem migrasi baru membuka jalur menuju Mars Prime, dan Elira, diam-diam, masuk dalam daftar pengangkut “kelas terpilih”.

Ren tidak tahu.

Yang ia temukan hanya surat singkat:

“Aku lelah jadi bayangan. Maafkan aku karena ingin jadi cahaya, meski harus meninggalkanmu.”

Itulah malam pertama Elyria turun hujan sintetis. Dan malam itu juga, Ren berhenti memercayai apa pun yang bisa berubah.


Kembali ke Tahun 2139.

Ren memutar ulang suara dari terminal.

"Aku pikir aku bisa lari... tapi gema hatimu terlalu kuat. Aku bisa mendengarnya bahkan di antara bintang."

Tangannya gemetar. Sistem menunjukkan bahwa suara ini berasal dari relay satelit lama, milik stasiun migrasi Mars Prime. Tapi lebih aneh lagi—sinyalnya baru sampai ke bumi malam ini, meski terekam tiga belas tahun lalu.

“Aku mencintaimu bahkan setelah semua ini jadi sunyi. Tapi aku tahu… kau mungkin sudah lupa.”


“Beberapa pesan memang tidak pernah sampai tepat waktu. Tapi cinta… selalu datang, meski terlambat.”


Ren memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Ia membuka frekuensi balasan. Hal yang ilegal bagi teknisi sepertinya. Tapi siapa peduli? Dunia ini dibangun dari pelanggaran yang dibungkus legalitas.

Dengan suara pelan, ia bicara ke mikrofon.

“Aku belum lupa. Aku mendengarmu, Elira. Bahkan di antara suara mesin dan kota, aku selalu mencarimu.”

Ia mengirim sinyal itu ke relay yang sama. Tapi ia tahu, tidak akan ada jawaban.


Tahun 2140.

Ren berhenti bekerja. Ia hanya duduk di balkon kecil apartemen reyotnya, menatap bintang-bintang yang tak bersinar seperti dulu.

Hingga suatu malam, terminal tua miliknya menyala. Bukan oleh sistem. Tapi oleh gema terakhir.

"Ren... ini terakhir kalinya aku bisa mengirimkan suara. Tubuhku tak sanggup lagi. Tapi kalau suatu saat kamu bisa mendengar ini... tolong... biarkan aku jadi kenangan. Jangan jadi penantian."

"Aku tidak ingin kamu hidup dalam gema. Aku ingin kamu hidup dalam sunyi yang damai. Tapi terima kasih... karena menjadikanku suara yang tak pernah hilang."


“Beberapa orang tak pernah benar-benar pergi. Mereka tinggal dalam ruang yang tak bersuara, tapi terus berbicara.”


Tahun 2142.

Ren meninggal dalam tidurnya. Tak ada sanak, tak ada kerabat.

Namun di sisinya ditemukan terminal kecil yang masih menyala. Tersimpan satu fragmen audio, tertulis:

"Dikirim ke Mars Prime. Untuk: Elira."

Isinya hanya satu kalimat:

“Kau adalah gema yang paling indah dari hatiku. Dan aku akan menunggumu, bahkan jika suara kita tak pernah lagi bertemu.”


Tahun 2155.

Satu tim arkeolog digital menemukan dua chip suara yang saling bersahut, berselang 13 tahun, dari dua planet berbeda. Mereka menamai proyek ini: “The Distant Echoes Project.”

Di pameran arsip kota Elyria, dua suara diputar terus-menerus. Tak pernah bertemu dalam waktu, tapi saling menyusul dalam ruang.

“Kau adalah gema yang datang terlambat. Tapi aku selalu di sini, mendengarkan.”


TAMAT

(Gema itu masih berjalan, di antara bintang, menunggu ditemukan lagi.) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah