Manifestasi Babi Berwajah Manusia
Babi berwajah manusia, berjalan di atas darah,
Jubah hitam terbalut janji-janji palsu,
Kaki-kaki kotor menjejak tanah yang retak,
Menyulam kebohongan dalam setiap senyum busuk.
Politik ini, seperti binatang berbulu manusia,
Mengunyah harapan rakyat dalam mulutnya yang penuh darah,
Mereka berlari, menari di atas kerangka demokrasi,
Membangun istana dari puing-puing kebohongan.
Babi itu, berwajah manusia, berbicara dengan lidah licin,
Suaranya merdu, tapi menggetarkan hati yang rapuh,
Dia bilang, "Akan ada perubahan," sambil menghisap uang rakyat,
Meninggalkan tumpukan janji yang tak pernah ditepati.
Kita terhimpit, tenggelam dalam arus dusta mereka,
Berkorban dalam ketidakpastian, berharap esok lebih baik,
Tapi babi itu kembali—menggerogoti hak-hak kita,
Mempermainkan hukum, merampok masa depan kita.
Di balik meja-meja megah mereka, ada konspirasi,
Rakyat diperas, dipermainkan, dijadikan alat permainan,
Setiap kata, setiap langkah, adalah ilusi besar,
Mereka berkelahi, sementara kita hanya terperangkap dalam sangkar.
Dan di setiap kampanye, babi itu tersenyum manis,
Menawarkan harapan yang dibalut racun,
Rakyat pun terpikat, terbuai dengan slogan-slogan kosong,
Namun di balik layar, mereka saling berbagi hasil curian.
Ketika malam datang, babi itu kembali ke dalam kelam,
Berkumpul dengan sejenisnya, merayakan kemenangan licik,
Mereka tertawa di atas penderitaan kita,
Sementara kita, tercekik dalam jerat ketidakpastian.
Manifestasi dari kekuasaan yang rapuh,
Dimana harga diri terjual dengan mudah,
Babi berwajah manusia, ini negaraku,
Negeri yang mati suri di bawah bayang-bayang kebohongan.
Kalian ingin perubahan?
Tapi mereka tertawa, menghitung pundi-pundi mereka,
Kita hanya bisa berteriak dalam diam,
Karena di hadapan babi berwajah manusia,
Kebenaran adalah sesuatu yang tak pernah ada.

Komentar
Posting Komentar