Pak Soeharto = Pahlawan (?)


So... Mungkin ini agak telat, tapi gak papa lah ya.

Kemarin, tanggal 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menobatkan beberapa tokoh sebagai Pahlawan Nasional. Di antara nama-nama itu, ada satu yang langsung bikin ruang tamu ramai, warung kopi gaduh, dan Twitter (eh, X) mendidih: Pak Soeharto.

Iya, that Soeharto. Presiden kedua Indonesia. Bapak pembangunan. Tapi juga, bagi sebagian orang, bapak kegelapan politik selama tiga dekade.

Mari kita tarik napas dan bahas pelan-pelan.

Pak Harto naik ke puncak kekuasaan setelah peristiwa berdarah 1965. Banyak versi, banyak kepentingan, dan banyak luka yang belum sembuh sampai sekarang. Dari sana, ia membangun pemerintahan yang stabil—setidaknya di permukaan. Indonesia yang dulu masih compang-camping pasca kemerdekaan, di tangannya jadi lebih rapi secara ekonomi.

Jalan raya dibangun, harga-harga stabil, dan banyak keluarga di era ’80–’90an bisa sekolah dan makan cukup. Bagi mereka, Soeharto adalah figur bapak: tegas, melindungi, dan cukup dermawan dengan subsidi.

Tapi di balik itu, ada cerita lain. Cerita yang jarang masuk buku pelajaran, tapi hidup di ingatan orang-orang. Pemberangusan kebebasan berpendapat, pembungkaman pers, penculikan aktivis, dan bayang-bayang militer di mana-mana. Zaman Orde Baru itu seperti rumah yang bersih dan wangi, tapi pintu belakangnya disegel supaya orang gak lihat sampah yang disembunyikan.

Jadi, wajar kalau banyak yang bingung ketika namanya tiba-tiba disematkan gelar pahlawan nasional.

Pahlawan, dalam imajinasi kita, adalah sosok yang berkorban demi bangsa tanpa pamrih. Ia memperjuangkan rakyat, bukan memperalat mereka. Tapi di Indonesia, makna “pahlawan” sering kali cair—bisa dimaknai lewat kacamata politik, nostalgia, atau bahkan rasa terima kasih pribadi.

Ada generasi yang tumbuh di masa Orde Baru dan merasa hidup mereka lebih baik waktu itu. Mereka mengingat masa depan yang pasti, harga beras yang murah, dan rasa aman yang stabil. Tapi generasi lain mengingat ketakutan: bicara terlalu keras bisa bikin hilang, organisasi mahasiswa diawasi, dan sejarah ditulis sepihak. Dua narasi itu bertabrakan, dan yang kita dapat adalah pertanyaan sederhana tapi tajam: apakah pembangunan bisa menebus pelanggaran hak asasi manusia?

Mungkin penobatan Soeharto sebagai pahlawan bukan tentang benar atau salah, tapi tentang siapa yang memegang pena sejarah saat ini. Karena sejarah, sayangnya, bukan catatan suci—ia seperti cermin kabur di ruang yang penuh asap: tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Apakah Soeharto pahlawan? Bagi sebagian, iya. Ia membangun fondasi ekonomi, membuka lapangan kerja, dan menstabilkan negara yang nyaris hancur. Tapi bagi yang lain, ia diktator dengan tangan besi, yang meninggalkan trauma panjang.

Dan mungkin, pada akhirnya, kita perlu mengakui keduanya. Bahwa Soeharto adalah pahlawan dan penindas; penyelamat dan penghancur. Ia adalah potret dari bangsa ini sendiri—penuh luka, tapi juga penuh ambisi untuk bangkit.

Sejarah Indonesia gak hitam putih. Ia abu-abu pekat. Dan di tengah kabut itu, kita masih berdebat: siapa sebenarnya pahlawan sejati?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah