perasaan yang familiar.


Aku tiba di kota itu tanpa tahu bagaimana caranya. Tak ada tanda, tak ada terminal, tak ada sambutan selain bau logam lembap yang menempel di udara. Langit berwarna abu-biru, seperti layar komputer yang lupa menampilkan gambar. Saat aku turun dari bus—atau mungkin kereta, aku tak yakin—aku menyadari tak ada kendaraan di belakangku sama sekali, seolah aku satu-satunya penumpang yang menyeberang dari dunia lain.

Jalan-jalan itu kosong, tapi tidak mati. Ada dengungan halus yang tersisa, seperti mesin yang terkubur terus bekerja lama setelah tujuannya dilupakan. Di kejauhan, gedung-gedung berdiri tinggi, namun bentuknya bergetar, berubah setiap kali aku memalingkan pandang. Jumlah jendelanya tak pernah tetap.

Aku mulai berjalan tanpa arah. Sepatuku bergema di atas aspal, tapi gema itu tak seirama dengan langkahku—satu langkah dariku, dua langkah dari udara, seolah seseorang sedang meniruku beberapa detik di belakang.

Di sudut pertama berdiri sebuah kafe kecil dengan pintu kaca buram. Huruf-huruf di jendelanya sudah setengah terhapus, tapi aku masih bisa membaca satu frasa: “Selamat datang kembali.”
Bukan “selamat datang.”
Selamat datang kembali.

Aku tak ingat pernah ke sini sebelumnya.

Di dalam, sebuah lampu gantung bergoyang perlahan. Tak ada pelanggan. Hanya seorang barista yang wajahnya menolak untuk fokus. Aku tak bisa menebak usianya, bahkan jenis kelaminnya—wajahnya tampak seperti render digital yang belum selesai. Ia menatapku cukup lama, lalu berkata pelan, “Kau kembali.”

Aku ingin bertanya, Siapa kau?
Tapi mulutku memilih pertanyaan lain. “Apakah aku terlambat?”

Barista itu tersenyum—atau sesuatu yang menyerupainya. “Di sini tak ada kata terlambat. Hanya pengulangan.”

Aku duduk. Ia menaruh secangkir kopi di depanku, meski aku tak memesan apa pun. Uapnya naik dan berputar dalam bentuk-bentuk berulang yang membuat kepalaku nyeri. Dalam pantulan cairan hitam itu, aku melihat wajahku—sedikit lebih tua, sedikit lebih lelah.

“Sudah lama sejak kau kembali,” katanya, masih mengelap meja yang sudah bersih.

Aku mengangguk seolah mengerti. “Berapa lama aku pergi?”

Ia berhenti sejenak, lalu menjawab, “Tergantung dari mana kau mulai menghitung.”

Kopinya terasa pahit—pahit yang sudah kukenal sejak kecil, meski aku tak tahu dari mana. Lidahku mengingatnya sebelum pikiranku sempat melakukannya. Aku menatap keluar jendela. Jalan itu kosong, namun di kaca kulihat seseorang berjalan di belakangku—padahal aku menghadap ke arah sebaliknya.

Ketika aku menoleh, tak ada siapa pun.

Barista itu kembali bicara, tanpa menatapku.
“Kadang orang datang ke sini untuk mencari sesuatu yang sebenarnya sudah mereka temukan.”

Aku bertanya, “Apa yang kucari?”

“Kau belum siap mendengarnya lagi.”

Aku ingin marah, tapi tak ada tenaga tersisa untuk marah. Dunia di luar kafe terasa jauh, seolah kami berdua terlipat dalam lipatan waktu. Aku menyandarkan dahiku ke jendela, dan sejenak aku yakin melihat hujan turun—namun setiap tetesnya berhenti di udara, membeku.

Saat aku menoleh kembali, barista itu sudah menghilang. Cangkir di meja kosong, dan di dasar cangkir, tertulis dengan sisa hitam:
“Jangan lupa di mana kau pernah berada.”

Aku melangkah keluar, masih merasakan sisa rasa kopi di lidah. Jalan itu telah berubah. Kini ada lorong panjang diterangi lampu kuning redup. Ujungnya mengabur dalam kabut. Di dinding kanan, deretan poster menampilkan wajah yang terasa akrab, meski aku tak tahu dari mana.

Wajah itu—mungkin wajahku—tercetak dengan tulisan:
“Pernahkah Anda melihatnya?”

Aku menatapnya lama, merasakan rasa bersalah yang aneh. Saat kusentuh kertasnya, terasa hangat—seperti kulit manusia. Aku menarik tanganku cepat-cepat.

Dari ujung lorong terdengar langkah kaki. Ritmenya sama dengan gema ganda yang tadi mengikutiku. Aku tahu seseorang mendekat, meski kabut makin tebal setiap kali aku mencoba melihat. Akhirnya, tampak siluet: tinggi, kurus, bergerak perlahan tapi pasti.

Ia berhenti beberapa meter di depanku. Aku bisa mendengar napasnya, tapi wajahnya tetap dalam bayangan.
“Apakah kau mengingatku?” suaranya serak, lembut, seperti mimpi yang berusaha mengingat dirinya sendiri.

“Aku tidak tahu,” jawabku.

Ia mengulurkan tangan.
“Waktunya kembali.”

Aku menatap tangan itu—panjang, pucat, seperti akar pohon. Di balik rasa takut, ada ketenangan aneh, semacam pasrah sebelum menyerah. Aku ingin meraih tangannya, tapi kakiku terasa berat. Lantai mulai bergeser ke belakang, seperti konveyor yang menarikku menjauh.

“Kembali ke mana?” tanyaku.

Ia tersenyum samar. “Ke tempat asalmu, sebelum kau lupa.”

Lalu ia menghilang dalam kabut.

Aku berlari mengejarnya, tapi setiap kali sampai di ujung, lorong itu melipat dirinya sendiri, kembali ke awal. Dinding menutup di belakangku, dan aku mendapati diriku kembali di depan kafe. Huruf-huruf Selamat datang kembali tampak baru dicat.

Aku tertawa pelan—bukan karena lucu, tapi karena keanggunan absurditasnya. Mungkin aku memang pernah ke sini. Mungkin aku tak pernah pergi.

Aku masuk lagi. Kali ini, baristanya berbeda.
Baristanya adalah aku.

Ia menatapku dengan ekspresi yang kukenal—lelah tapi tenang sekaligus.
“Kau tepat waktu,” katanya.

“Jadi sekarang aku baristanya?”

Ia mengangguk. “Kita bergiliran. Satu menunggu. Satu pergi. Itulah siklusnya.”

Aku ingin membantah, tapi kursi di belakang meja bar sudah menarikku masuk. Aku duduk, dan lewat kaca kulihat sosok baru di luar, menatap tanda Selamat datang kembali dengan mata bingung.

Versi diriku yang sebelumnya merapikan celemeknya lalu melangkah keluar tanpa sepatah kata pun. Tubuhnya larut dalam cahaya senja yang tak pernah benar-benar ada.

Kini aku sendirian.
Namun ruangan itu terasa penuh—berat oleh hantu percakapan lama, oleh aroma kopi yang tak pernah dingin.

Aku melihat kalender di dinding belakang. Setiap tanggal bertuliskan hal yang sama: 12 Mei.
Aku merobek satu lembarnya, tapi di bawahnya tertulis tanggal yang sama lagi.

Aku menulis sesuatu di secarik kertas—mungkin kebiasaan lama: “Kalau aku lupa lagi, bacalah ini.”
Kuselipkan di bawah cangkir pertama di meja pertama.

Waktu di sini tidak mengalir; ia berputar malas. Sesekali, terdengar langkah kaki di luar. Setiap kali pintu terbuka, seseorang baru masuk, membawa ekspresi kehilangan yang sama seperti yang dulu kubawa. Aku menyambut mereka dengan senyum yang sudah kuhafal.

“Selamat datang kembali,” kataku.

Dan jauh di dalam diri, sesuatu bergetar—antara déjà vu dan kesedihan.

Aku tak tahu berapa lama aku duduk di balik meja sebelum cahaya di luar memudar jadi senja. Lampu gantung berkelip, dan di pantulannya di meja aku melihat sesuatu: bayangan berdiri di belakangku, terlalu dekat.

Aku menoleh.
Tak ada siapa pun.

Tapi di jendela, pantulannya masih ada. Wajahku—lebih tua kali ini. Ia menempelkan jari ke bibirnya, sebuah peringatan sunyi.

Aku tahu itu bukan ancaman, hanya pengingat. Karena beberapa detik kemudian, aku mendengar suara mesin di luar—bus mungkin—datang. Dalam cahaya jendela, aku melihat seseorang turun, menatap sekeliling, lalu menatap kafe ini dengan pengenalan yang ragu-ragu.

Aku tahu pintu itu akan terbuka sebentar lagi.
Dan benar.

Pendatang baru itu masuk, menatapku sebagaimana dulu aku menatap barista. Aku tersenyum. Ia ragu, lalu tersenyum kembali. Aku bisa melihat matanya menyapu ruangan—kursi yang akan ia duduki, cangkir yang sudah menunggunya.

“Pernah ke sini sebelumnya?” tanyaku.

Ia menggeleng. “Kurasa belum.”

“Ya,” jawabku pelan. “Itu juga yang dulu kukatakan.”

Ia mengernyit, bingung. Tapi aku sudah tahu naskahnya: ia akan minum, merasakan kenangan samar itu, menatap keluar dan melihat pantulan yang salah, lalu menanyakan pertanyaan yang sama seperti aku dulu.

Semuanya terasa akrab. Terlalu akrab hingga menyakitkan—seperti lagu lama dari kaset rusak, melodinya bengkok tapi masih bisa dikenali.

Malam datang perlahan. Lampu jalan menyala satu per satu, seperti nada dalam lagu nina bobo yang tak pernah selesai.

Kadang, bisikan samar muncul dari dinding—suara para barista sebelumnya, atau mungkin versi lain dari diriku. Mereka tak berbicara dalam bahasa yang kumengerti, tapi ritmenya seirama dengan napasku sendiri.

Ketika akhirnya pengunjung itu berdiri, ia berkata, “Aku harus pergi.”

Aku mengangguk. “Kau akan kembali.”

Ia mengerutkan kening. “Bagaimana kau tahu?”

“Karena aku pernah berdiri di tempatmu berdiri sekarang.”

Ia menatapku lama, lalu pergi. Pintu menutup pelan, dan setiap langkahnya yang menjauh membuat kafe ini semakin redup—seolah setiap kepergian menelan sedikit cahaya.

Di meja, cangkirnya masih hangat. Di dasar cangkir, sisa hitam membentuk satu kata. Aku menunduk lebih dekat.

Kata itu berubah setiap kali aku berkedip, tapi satu kata tetap sama: “Tinggallah.”

Aku tak tahu pesan itu untuk siapa. Untukku, atau untuk yang berikutnya.

Waktu terus berputar malas. Kadang aku berpikir, setiap orang yang datang ke kota ini hanyalah versi lain dari orang yang sama—seseorang yang tanpa henti mencoba mengingat siapa dirinya lewat rasa kopi pahit yang begitu akrab.

Kadang aku berpikir aku bukan barista sama sekali, melainkan penjaga ingatan. Setiap kali seseorang lupa, mereka datang ke sini, memesan hal yang sama tanpa tahu mengapa, dan pergi sedikit lebih kosong, sedikit lebih ringan.

Dan aku menunggu yang berikutnya.

Selalu ada yang berikutnya.

Kadang, di malam yang terlalu sunyi untuk bernapas, aku menatap ke luar jendela dan melihat diriku sendiri di seberang jalan—berdiri di bawah hujan yang tak bergerak, menatap kafe ini seperti rumah yang tak lagi menerimaku. Aku ingin melambaikan tangan, tapi pantulan itu hanya tersenyum sebelum lenyap ke dalam kabut.

Dan setiap kali itu terjadi, sesuatu di dadaku bergetar—seperti nada terakhir dari lagu yang tak pernah berakhir.

Sebuah rasa yang akrab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbang di Ujung Paru-paru

Langkah Kecil Menuju Rumah

Rindu Itu Bernama Ayah