Reboot Memori
“Waktu tidak berjalan. Waktu terjebak. Yang berjalan hanya kenangan, menabrak dinding ingatan yang mulai retak.”
Langit kota Neo-Tokyo 7 tak lagi biru. Ia bersinar dalam spektrum sintetis yang berubah-ubah tiap detik, seperti denyut nadi manusia yang kehilangan arah. Di bawah cahaya artifisial itu, seorang pria tua duduk di bangku logam berkarat, matanya kosong, tangannya menggenggam chip kecil yang berkilau lembut—sebuah MemKey, perangkat yang menyimpan kenangan digital.
Namanya Kael, usianya 74 tahun di waktu bumi, tapi pikirannya? Tersesat di antara ribuan fragmen masa lalu, tersebar seperti bintang-bintang mati di galaksi yang sunyi.
“Apa jadinya hidup jika semua kenangan bisa dihapus, ditulis ulang, dan dijalankan kembali?”
Tiga dekade lalu, manusia menciptakan teknologi pengubah hidup: Memory Reboot, sistem yang memungkinkan siapa pun menghapus, mengubah, bahkan menjalani ulang kenangan tertentu.
Bagi yang patah hati, ini penyembuh.
Bagi yang trauma, ini keselamatan.
Bagi pemerintah? Ini kontrol.
Dan bagi Kael, ini adalah penjara yang dibuat oleh tangannya sendiri.
Tahun 2042.
Kael muda, dengan mata penuh semangat dan jari-jari yang lincah, adalah salah satu arsitek sistem Memory Reboot. Ia percaya:
“Jika manusia bisa memilih apa yang ingin dikenang, maka mereka akhirnya bisa memilih bahagia.”
Tapi ia lupa satu hal:
Kenangan tak pernah netral. Mereka bukan file di komputer, melainkan luka yang belajar bicara.
Tahun 2071.
Kael duduk di ruang putih tak bernama. Di hadapannya, seorang teknisi muda dengan tatapan kasual menekan tombol-tombol holografik.
"Pak Kael, Anda ingin me-reboot memori yang mana hari ini?" tanya teknisi itu tanpa emosi.
Kael menunjuk chip MemKey yang ia genggam.
“Yang ini. Hari itu. Di taman hujan. Waktu dia bilang: ‘Jangan ubah apa-apa. Biarkan semuanya tetap sakit.’”
Teknisi mengangguk. “Peringatan: memutar kenangan ini bisa mengganggu kestabilan emosi Anda.”
Kael tersenyum tipis. “Itu kenangan terakhir yang belum pernah aku ulang. Biarkan aku kembali... satu kali saja.”
“Hujan tidak pernah benar-benar jatuh ke tanah. Ia hanya turun untuk mengingatkan kita bahwa langit pun bisa menangis.”
Tahun 2039.
Namanya Lyra, dan dia satu-satunya alasan Kael pernah percaya pada hal-hal yang tak logis—seperti cinta, pengorbanan, dan puisi.
Mereka bertemu di ruang uji coba awal Memory Reboot. Lyra adalah relawan pertama yang bersedia menyerahkan seluruh kenangannya, lalu mengambilnya kembali.
“Bagaimana rasanya melupakan semua?” tanya Kael setelah uji coba.
Lyra tersenyum, matanya masih basah.
“Aku baru sadar, beberapa luka tidak untuk disembuhkan. Hanya untuk diterima.”
Kael tak pernah lupa kalimat itu. Tapi ketika Lyra mati dalam kecelakaan sistem—disebabkan reboot kenangan yang gagal—Kael kehilangan segalanya.
Bukan hanya Lyra.
Tapi dirinya sendiri.
“Kematian bukanlah akhir dari hidup. Ia adalah akhir dari kemungkinan.”
Tahun 2071.
Kembali ke ruang pemutaran memori.
Kael menutup matanya. Satu sinyal dikirim ke otaknya melalui chip MemKey. Dan dalam sepersekian detik, ia tidak lagi tua. Tidak lagi sendiri.
Ia berada di taman, di bawah hujan sintetis yang turun seperti benang cahaya.
Lyra duduk di bangku, mengenakan jaket biru tua, memandang langit.
“Aku tahu kamu akan datang lagi,” katanya.
Kael, versi kenangan, tersenyum. “Ini terakhir kalinya. Aku janji.”
Lyra menoleh. “Kau selalu bilang begitu.”
Keheningan turun di antara mereka, seperti kabut tipis yang memisahkan masa lalu dan masa kini.
“Kenangan yang diputar ulang bukan untuk dikenang. Tapi untuk dilupakan dengan lebih pelan.”
Tahun 2075.
Kael kini tinggal di pusat perawatan bagi mereka yang kehilangan batas antara realitas dan memori. Para dokter menyebutnya “The Loop Syndrome”, sindrom ketika seseorang terlalu sering mengulang memori hingga tak tahu lagi dunia nyata.
“Kapan kamu terakhir keluar ruangan ini?” tanya seorang perawat.
Kael tak menjawab. Ia menatap langit-langit, membayangkan taman, hujan, dan Lyra yang duduk menunggunya.
“Cinta yang terlalu dalam tak perlu kuburan. Ia hanya perlu kenangan untuk terus hidup.”
Tahun 2080.
Dunia telah berubah. Teknologi Memory Reboot dilarang. Terlalu banyak yang hilang dalam pencarian akan "kenangan sempurna".
Tapi di pojok museum sejarah, sebuah chip MemKey dipajang dalam kaca. Di bawahnya, tertulis:
“Ini milik seorang pria yang mengulang kenangan cintanya hingga akhir hidup.
Ia tahu itu menyakitkan. Tapi ia percaya:
Lebih baik tersesat dalam kenangan,
daripada hidup di dunia tanpa dia.”
“Akhir dari segalanya bukanlah kematian. Tapi dilupakan.”
Dan Kael, dalam satu fragmen data terakhir yang tersimpan, berbisik dalam puisi:
“Jika suatu hari kau lupa namaku,
Dan dunia telah menggantiku,
Tolong, biarkan satu hujan saja
mengingatkanmu padaku.”
TAMAT.

Komentar
Posting Komentar