Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Gema Yang Terlambat

Gambar
“Beberapa suara tak pernah hilang—ia hanya datang terlambat, membentur dinding waktu, dan pulang ke dada yang masih menunggu.” Di tengah kota Elyria-9, bangunan setinggi langit merangkak naik seperti jari-jari dewa, dan lampu-lampu neon berdenyut dalam bahasa yang hanya dipahami oleh mesin. Udara tak lagi berasal dari bumi—ia buatan, bersih tapi tanpa jiwa. Di jalanan, mobil-mobil melayang tanpa suara. Di langit, drone menari seperti burung-burung dari zaman yang tak dikenal. Dan di antara semua itu, ada satu manusia yang masih berjalan kaki. Namanya Ren. Ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang teknisi sinyal tua, bekerja untuk departemen Rekonstruksi Gema—sebuah divisi kecil yang bertugas melacak frekuensi suara yang hilang di waktu lalu. Ia menghabiskan hari-harinya mendengarkan fragmen-fragmen suara, mencoba menyambung kepingan percakapan yang pernah ada. Tapi malam ini berbeda. “Gema adalah kenangan yang tersesat. Ia tak ingin ditemukan, tapi selalu kembali.” Di terminal frekuensi 47B,...

Pak Soeharto = Pahlawan (?)

Gambar
So... Mungkin ini agak telat, tapi gak papa lah ya. Kemarin, tanggal 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menobatkan beberapa tokoh sebagai Pahlawan Nasional. Di antara nama-nama itu, ada satu yang langsung bikin ruang tamu ramai, warung kopi gaduh, dan Twitter (eh, X) mendidih: Pak Soeharto. Iya, that Soeharto. Presiden kedua Indonesia. Bapak pembangunan. Tapi juga, bagi sebagian orang, bapak kegelapan politik selama tiga dekade. Mari kita tarik napas dan bahas pelan-pelan. Pak Harto naik ke puncak kekuasaan setelah peristiwa berdarah 1965. Banyak versi, banyak kepentingan, dan banyak luka yang belum sembuh sampai sekarang. Dari sana, ia membangun pemerintahan yang stabil—setidaknya di permukaan. Indonesia yang dulu masih compang-camping pasca kemerdekaan, di tangannya jadi lebih rapi secara ekonomi. Jalan raya dibangun, harga-harga stabil, dan banyak keluarga di era ’80–’90an bisa sekolah dan makan cukup. Bagi mereka, Soeharto adalah figur bapak: tegas, melindungi, dan...

Manifestasi Babi Berwajah Manusia

Gambar
Babi berwajah manusia, berjalan di atas darah, Jubah hitam terbalut janji-janji palsu, Kaki-kaki kotor menjejak tanah yang retak, Menyulam kebohongan dalam setiap senyum busuk. Politik ini, seperti binatang berbulu manusia, Mengunyah harapan rakyat dalam mulutnya yang penuh darah, Mereka berlari, menari di atas kerangka demokrasi, Membangun istana dari puing-puing kebohongan. Babi itu, berwajah manusia, berbicara dengan lidah licin, Suaranya merdu, tapi menggetarkan hati yang rapuh, Dia bilang, "Akan ada perubahan," sambil menghisap uang rakyat, Meninggalkan tumpukan janji yang tak pernah ditepati. Kita terhimpit, tenggelam dalam arus dusta mereka, Berkorban dalam ketidakpastian, berharap esok lebih baik, Tapi babi itu kembali—menggerogoti hak-hak kita, Mempermainkan hukum, merampok masa depan kita. Di balik meja-meja megah mereka, ada konspirasi, Rakyat diperas, dipermainkan, dijadikan alat permainan, Setiap kata, setiap langkah, adalah ilusi besar, Mereka berkelahi, sementa...

【Fever Dreams】

Gambar
  Tubuhku terbakar tanpa api, namun salju tumbuh di belakang tenggorokanku. Setiap napas adalah kutub dan kawah sekaligus, setiap detak jantung— palu kecil yang menempa kesunyian di dalam darah. Aku melihat waktu mencair di telapak tanganku, mengalir seperti logam panas yang menulis takdir di pori-pori yang gemetar. Dari celah antara sadar dan deliria, ada suara memanggilku dengan nama yang bukan milikku, nama yang terbuat dari uap dan kehilangan. Seekor ikan bernafas di udara kamar, sisiknya memantulkan wajah-wajah yang tak pernah kulupakan: ayah, ibu, dan diriku di usia yang belum sempat jadi. Ikan itu berbisik dalam bahasa yang tidak kupahami, namun maknanya menempel di dahi: “Rasa sakit adalah cermin yang retak; tapi di retaknya, kau akan melihat wujud yang jujur.” Aku berjalan di antara jam-jam yang meleleh, jarum-jarumnya menunjuk ke arah dada— seakan waktu berputar hanya untuk menatap luka. Di ujung lorong mimpi, kulihat diriku sendiri, namun tubuhku da...

perasaan yang familiar.

Gambar
Aku tiba di kota itu tanpa tahu bagaimana caranya. Tak ada tanda, tak ada terminal, tak ada sambutan selain bau logam lembap yang menempel di udara. Langit berwarna abu-biru, seperti layar komputer yang lupa menampilkan gambar. Saat aku turun dari bus—atau mungkin kereta, aku tak yakin—aku menyadari tak ada kendaraan di belakangku sama sekali, seolah aku satu-satunya penumpang yang menyeberang dari dunia lain. Jalan-jalan itu kosong, tapi tidak mati. Ada dengungan halus yang tersisa, seperti mesin yang terkubur terus bekerja lama setelah tujuannya dilupakan. Di kejauhan, gedung-gedung berdiri tinggi, namun bentuknya bergetar, berubah setiap kali aku memalingkan pandang. Jumlah jendelanya tak pernah tetap. Aku mulai berjalan tanpa arah. Sepatuku bergema di atas aspal, tapi gema itu tak seirama dengan langkahku—satu langkah dariku, dua langkah dari udara, seolah seseorang sedang meniruku beberapa detik di belakang. Di sudut pertama berdiri sebuah kafe kecil dengan pintu kaca buram. Hu...

Tukang Ngekor

Gambar
Apa tuh Tukang Ngekor ? Yaaa, mereka tuh sekumpulan manusia useless yang kerjanya ngekor orang doang ya guys. Orang-orang yang suka ngikut orang lain, tapi ngibul gitu. Gimana tuh contohnya? Misal, gw bilang "Eh, gw pernah main Fanny 15 kabel lho!". Terus anomali ini ngomong "Eh iya! Gw juga pernah lho! 20 kabel malah!" Kalau kejadiannya sekali-sekali sih gapapa. Kalau setiap lu ngomong dia ngikut terus? Kenapa gw bilang mereka useless ? Karena, mereka tuh butuh validasi. Tapi ngibul gitu. Mereka tuh gamau ketinggalan, mereka mau mereka seperti orang lain. Padahal itu mah gak perlu gitu. Nah, kalau kalian ketemu orang kayak gini. Banyak-banyakin sabar aja, cukup jawab "Oh, gitu" or smth like that. Atau kalau bisa, lu tegur deh. Tapi orang kayak gini biasanya BATU. Pasti nge-BACOT untuk membenarkan pendapatnya. Gw dah muak.

Reboot Memori

Gambar
“Waktu tidak berjalan. Waktu terjebak. Yang berjalan hanya kenangan, menabrak dinding ingatan yang mulai retak.” Langit kota Neo-Tokyo 7 tak lagi biru. Ia bersinar dalam spektrum sintetis yang berubah-ubah tiap detik, seperti denyut nadi manusia yang kehilangan arah. Di bawah cahaya artifisial itu, seorang pria tua duduk di bangku logam berkarat, matanya kosong, tangannya menggenggam chip kecil yang berkilau lembut—sebuah MemKey, perangkat yang menyimpan kenangan digital. Namanya Kael, usianya 74 tahun di waktu bumi, tapi pikirannya? Tersesat di antara ribuan fragmen masa lalu, tersebar seperti bintang-bintang mati di galaksi yang sunyi. “Apa jadinya hidup jika semua kenangan bisa dihapus, ditulis ulang, dan dijalankan kembali?” Tiga dekade lalu, manusia menciptakan teknologi pengubah hidup: Memory Reboot, sistem yang memungkinkan siapa pun menghapus, mengubah, bahkan menjalani ulang kenangan tertentu. Bagi yang patah hati, ini penyembuh. Bagi yang trauma, ini keselamatan. Bagi pemerin...