Delapan Huruf
Hujan sore itu turun dengan malas, seakan setetes demi setetes ingin menunda perpisahan yang sudah ditentukan. Di sebuah café kecil di sudut kota, Arka duduk menghadap jendela. Matanya menatap keluar, pada butir air yang berlomba jatuh di kaca. Tangan kanannya menggenggam cangkir kopi yang sudah kehilangan panas, sementara di kepalanya berkecamuk ribuan kalimat yang tak pernah bisa ia ucapkan. Delapan huruf. Tiga kata. Satu makna. Tapi mengapa terasa lebih berat dari ribuan kalimat lain yang pernah ia lontarkan seumur hidupnya? --- Kenangan itu bermula setahun lalu. Arka dan Nadira bertemu di perpustakaan kampus, tempat yang sama-sama mereka anggap suci. Arka sedang mencari buku filsafat yang sudah lama tidak tersedia, sementara Nadira sibuk menata catatan kuliahnya dengan pulpen warna-warni. Entah bagaimana, percakapan kecil tentang buku yang tak ditemukan berubah menjadi diskusi panjang soal hidup, mimpi, hingga luka masa lalu. Hari berganti hari, kedekatan mereka tumbuh ...