Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Delapan Huruf

Gambar
Hujan sore itu turun dengan malas, seakan setetes demi setetes ingin menunda perpisahan yang sudah ditentukan. Di sebuah café kecil di sudut kota, Arka duduk menghadap jendela. Matanya menatap keluar, pada butir air yang berlomba jatuh di kaca. Tangan kanannya menggenggam cangkir kopi yang sudah kehilangan panas, sementara di kepalanya berkecamuk ribuan kalimat yang tak pernah bisa ia ucapkan. Delapan huruf. Tiga kata. Satu makna. Tapi mengapa terasa lebih berat dari ribuan kalimat lain yang pernah ia lontarkan seumur hidupnya? --- Kenangan itu bermula setahun lalu. Arka dan Nadira bertemu di perpustakaan kampus, tempat yang sama-sama mereka anggap suci. Arka sedang mencari buku filsafat yang sudah lama tidak tersedia, sementara Nadira sibuk menata catatan kuliahnya dengan pulpen warna-warni. Entah bagaimana, percakapan kecil tentang buku yang tak ditemukan berubah menjadi diskusi panjang soal hidup, mimpi, hingga luka masa lalu. Hari berganti hari, kedekatan mereka tumbuh ...

Aku Baik-Baik Saja

Gambar
Hujan masih turun di luar jendela ketika aku menatap pantulan wajahku sendiri di kaca yang berembun. Aku menarik napas panjang, berusaha mengusir sesak di dada. Kata-kata yang sama terus menggema di kepalaku: “Aku baik-baik saja.” Kalimat sederhana yang terdengar meyakinkan jika diucapkan, tetapi terasa rapuh saat bergema dalam pikiran. Aku sering melatih ekspresi itu di depan cermin. Senyum kecil, tatapan mata yang seolah penuh keyakinan, bahu yang tegak. Semua itu kulakukan agar orang lain percaya. Agar saat aku melangkah keluar, mereka tak akan melihat betapa retaknya diriku sebenarnya. Aku ingin dunia melihatku sebagai seseorang yang kuat, tidak terguncang, tidak rapuh. Tapi di dalam diriku, badai terus berputar, menelan sisa-sisa kepercayaan diri yang pernah kumiliki. Sejak ia pergi, rumah ini menjadi terlalu besar. Terlalu sunyi. Aku masih mengingat setiap langkahnya saat menutup pintu itu terakhir kali, suara ketukan sepatunya di lantai kayu, dinginnya udara yang tib...

Sebuah Cerita Tentang Ngengat

Gambar
Malam selalu datang dengan wajah yang sama: pucat, rapuh, seakan hanya tinggal sehelai kain tipis yang menutupi kehampaan. Di dalam hutan tua yang tak lagi tahu nama musim, seekor ngengat hitam terbang dengan sayap berdebu, bergetar setiap kali menabrak hembusan angin dingin. Ia tidak pernah tahu siapa dirinya. Yang ia tahu hanyalah sebuah suara samar yang terus memanggilnya dari kejauhan, suara yang terdengar seperti nyanyian api. Ngengat itu bernama Nox. --- Dulu, sebelum ia mengenal kegelapan, ia hanyalah selembar kepompong yang bermimpi. Di dalam tidurnya yang panjang, Nox bermimpi tentang cahaya. Cahaya yang bukan matahari, bukan bulan, melainkan api biru yang menari di atas tiang kayu. Api itu berbisik kepadanya: "Datanglah padaku, hanya aku yang bisa memberimu arti." Dan ketika ia terbangun dari kepompongnya, sayapnya memang tercetak dengan motif aneh: lingkaran-lingkaran seperti mata yang selalu menatap, seakan ada sesuatu yang lebih tua dari dunia berdiam...

Di Bawah Langit Merdeka

Gambar
Matahari pagi menembus celah dedaunan rambutan di pekarangan rumah tua itu. Di beranda, duduk seorang lelaki renta dengan sorban lusuh dan tongkat kayu cendana. Namanya Haji Ramlan, dahulu dikenal sebagai guru kampung, tetapi bagi sebagian orang tua di desa, ia lebih dari sekadar guru—ia penjaga kisah tentang arti merdeka yang tak bisa dilihat dari bendera semata. "Pak Haji," ujar seorang pemuda sambil menaruh baki berisi kopi, "hari ini upacara kemerdekaan di lapangan. Bapak tak ingin datang?" Haji Ramlan tersenyum, wajahnya keriput seperti peta sejarah. “Anak muda, tahukah engkau bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara dan bendera berkibar?” Pemuda itu—Rahman namanya—mengangguk ragu. "Merdeka itu bukan pula sekadar bebas bicara atau bebas memilih presiden. Ia lebih dalam dari itu, seperti sungai yang mengalir dari hulu pengorbanan." Hening sejenak. Rahman duduk di sampingnya. Ia tahu, ketika Pak Haji mulai berkata seperti itu, akan lahir kisa...

Pecandu

Gambar
Aku masih ingat jelas hari pertama bertemu Raka. Saat itu aku duduk di sebuah kafe kecil di pinggir kota, menatap layar laptop yang penuh revisi pekerjaan. Hujan turun rintik-rintik di luar, membuat suasana seperti adegan pembuka film. Dia datang bersama dua temannya, tertawa keras seperti dunia ini memang miliknya. Entah kenapa dia memilih duduk di meja tepat di depanku. “Boleh pinjam korek?” tanyanya sambil menunjuk rokok di tangannya. Aku bukan perokok, tapi tetap mengaduk-aduk tasku pura-pura mencari, lalu menggeleng. Dia tersenyum—senyum yang membuat pipi kirinya sedikit terangkat, ada lesung pipit yang nyaris tak terlihat. Seharusnya aku kembali menatap layar laptop, tapi ada sesuatu di matanya—campuran percaya diri dan misteri—yang membuatku ingin tahu lebih banyak. Kami mulai berbicara. Ringan saja. Tentang hujan, musik, dan alasan kenapa dia benci kopi tapi suka nongkrong di kafe. Aku tidak melihat tanda bahaya. Hanya ada daya tarik yang aneh. Dan tanpa sadar, aku ...

Kutukan Sang Pemimpi

Gambar
Di malam sunyi tanpa bintang, ia berjalan dalam bayang bayang. Matanya terbuka, hatinya tertutup, memburu harapan yang selalu luput. Ia pemimpi di negeri siaga, bermimpi tinggi tapi tak pernah tiba. Kata-katanya bagai doa yang patah, terbang ke langit, jatuh di tanah. Setiap langkah adalah luka, setiap harapan jadi tanya. “Mengapa mimpi terasa nyata, hanya saat dunia terlelap sepenuhnya?” Ia membangun istana dari debu, menulis takdir di atas peluh. Namun pagi selalu menghapusnya, menyisakan getir di ujung dada. Dibilang gila karena percaya, padahal yang waras pun pura-pura. Ia tersenyum pada kehancuran, karena di situ kadang mimpi bersembunyi diam-diam. Mereka menertawakan langkahnya yang pincang, tak tahu luka itu pemberian bintang. Mereka menyebutnya terkutuk, padahal ia hanya terlalu jujur pada takdir yang pelik. Wahai pemimpi yang malang, kutukanmu adalah berkah yang jarang. Meski tak sampai ke ujung dunia, kaulah yang mengingatkan dunia untuk bermimpi semestinya.

Di Tepi Dunia

Gambar
Di tepi sunyi gedung yang tak bernama, Kupandang dunia dalam warna luka. Langit terbakar, jingga menyala, Seakan bumi pun tak ingin bicara. Sendiri di ujung batas dan bayang, Angin menggugurkan ingatan yang hilang. Tak ada suara, hanya desah resah, Mengendap di dada, menolak pasrah. Gedung menjulang seperti nisan, Menandai jiwa yang kehilangan tujuan. Kota sunyi, tak sudi menjawab, Mengapa aku merasa begitu gelap? Burung-burung kecil melintasi hampa, Seperti kenangan yang tak lagi punya nama. Waktu membeku di pinggir senja, Meninggalkan aku dan luka yang sama. Barangkali ini bukan akhir, Tapi permulaan dari sunyi yang mahir. Dan jika jatuh adalah bentuk pulang, Maka biarlah aku jatuh dengan tenang.