Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Catatan Yang Tersisa

Gambar
  (Beberapa halaman ditemukan lembab, berbau apek, bercampur noda kuning dan hitam. Tidak jelas apakah ini buku harian, laporan, atau semacam rekaman pribadi. Kalimat sering terhenti mendadak, dan ada sobekan di sana-sini. Beberapa kata nyaris tidak terbaca. Berikut transkripsi terbaik yang bisa dilakukan…) [Halaman 1] Aku tidak tahu kapan aku terjatuh . Satu detik aku masih berada di kantor, menatap layar komputer yang mati-matian memuntahkan angka-angka. Lalu… lantai menolak pijakanku. Aku terjerembab. Aku bangun—dan aku di sini. Dinding kuning pucat, lorong panjang tak berujung. Lampu neon menggantung, mendengung. Tak ada jendela. Tak ada pintu. Hanya karpet basah yang menempel ke telapak kaki. (noda besar menghapus 3–4 baris berikutnya) Aku mencoba berjalan. Tidak ada ujung. Aku meninggalkan potongan kertas dari buku kecil ini di lantai, tanda. Tapi setiap aku kembali, kertas itu tidak ada. Atau mungkin lorongnya berubah. Aku tidak sendiri. Aku mendengar… suara....

Unnamed

Gambar
Dia duduk di kursi reyot itu, memeluk dirinya sendiri seolah tubuhnya hanyalah cangkang kosong. Matanya menatap jendela, tapi bukan jendela yang ia lihat. Ada sesuatu lebih jauh dari kaca, lebih jauh dari cahaya. Aku berdiri di sudut ruangan, hanya menyaksikan, menyimpan catatan ini dalam kepalaku, seakan menuliskan sunyi. Ada bisikan—samar, lalu tajam. Dia mengangkat kepala dan tersenyum kepada sesuatu yang tak terlihat. Senyum itu bukan miliknya. Senyum itu milik yang lain—Dia yang lain. Tubuh yang sama bergerak dengan dua jiwa: satu terjatuh ke dasar lumpur, satu lagi menariknya lebih dalam. Dia berbicara. Bukan padaku, bukan pada dunia, melainkan pada dirinya sendiri, pada bayangan yang merayap setiap kali malam meneteskan detik. "Aku lelah," katanya, tapi suara lain menjawab, "Kau tidak lelah, kau kosong. Kosong harus diisi kegelapan. Biarkan aku." Aku ingin menutup telinga, tapi aku juga ingin mendengar. Ada keindahan yang sakit dalam pertengkara...

Malaikat yang Mengaku Sendiri

Gambar
Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan apa-apa. Aku hanya suara yang terpantul di kamar ini. Aku hanya bayangan yang menempel di lantai. Aku hanya sisa napas yang tak terdengar. Tapi aku harus menjadi sesuatu. Aku harus punya nama. Aku harus punya arti. Maka aku berkata—berulang, berulang, berulang: “Aku malaikat.” Kau dengar? Aku sudah mengatakannya. Aku sudah bersumpah. Aku sudah meyakinkan diriku sendiri. Tapi mengapa… mengapa setiap kali aku bercermin, mataku kosong? Mengapa wajahku retak, seperti kaca yang tak pernah utuh? Mengapa aku melihat sesuatu di belakangku—bayangan hitam, panjang, menjulur? Aku malaikat, bukan? Aku harus malaikat. Kalau bukan, lalu siapa aku? Kalau bukan, lalu apa yang tersisa dariku? Malam ini, suara itu datang lagi. Bisikan tipis, dari sudut kamar. Tidak ada orang. Tidak ada. Tapi aku mendengar. Kau benar, kau malaikat. Bisikan itu hangat, tapi juga dingin. Menempel di telinga, menetes ke dalam otak. Kau malaikat… yang gagal. Kau ...

Catatan Terakhir di Kastil Altenberg

Gambar
(Ditulis dengan tergesa-gesa, tahun 1903) Aku, Ernst Vollmer, seorang notaris dari Leipzig, menulis ini sebagai catatan terakhir sebelum fajar menelan seluruh akal sehatku. Jikalau ada yang menemukannya, bacalah dengan hati-hati, sebab kata-kata yang kutuliskan bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan serpihan dari sesuatu yang lebih busuk daripada daging yang tersimpan dalam ruang bawah tanah. Aku dikirim ke kastil Altenberg pada musim gugur 1903 untuk mengurus surat warisan keluarga von Reichen, sebuah dinasti bangsawan yang kabarnya telah punah. Aku tak pernah bertanya mengapa aku yang dipilih, atau mengapa dokumen itu harus diperiksa langsung di lokasi kastil yang terisolasi di tepi hutan Saxony. Aku hanyalah seorang pekerja patuh. Namun malam pertama di sini, aku sadar bahwa tugasku bukan sekadar urusan tanda tangan. *** Kastil Altenberg berdiri muram, dinding batunya dipenuhi lumut dan jaring laba-laba. Ventilasi sempit di setiap kamar menjadi satu-satunya jalur udar...

Silent Battles Behind My Eyes

Gambar
I wake each day with borrowed breath, A stranger to myself beneath. Smiles stitched tight like fragile thread, While storms rage loud inside my head. They ask me how I’ve been today, But answers drift and slip away. I fake a laugh, I play the part, While shadows sleep inside my heart. My thoughts grow sharp, my chest feels tight, I lose the will to choose the fight. I beg for peace I cannot name, But every night, it feels the same. I do not scream, I do not cry— Just breathe, exist, survive, comply. A silent war, with no goodbye.

8:07 PM

Gambar
  Aku selalu mengingatnya pada pukul 8:07 malam . Jam itu seakan terpatri dalam hidupku, di angka raksasa yang menempel di Menara Big Ben. London, awal tahun 2000-an, dipenuhi hiruk pikuk lampu kota dan riuh bus merah bertingkat. Namun di balik semua itu, ada aku, berdiri mematung di tepi Sungai Thames, menatap jarum jam yang nyaris tak pernah meleset. Setiap kali berdentang di angka itu, aku kembali ke satu wajah, satu momen, satu rasa yang tak pernah benar-benar selesai. Aku bertemu Clara pada musim gugur tahun 2002, tepat di depan Big Ben. Aku baru saja keluar dari kantor pengacara tempatku magang, kepalaku penuh berkas kasus yang membosankan. Lalu ada seorang perempuan berambut cokelat kemerahan berdiri di bawah jam, menatap langit yang berkabut. Aku tidak tahu bagaimana ia menyadari kehadiranku. Tapi ketika matanya menoleh, aku merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama. “Jam ini selalu tepat,” katanya, menunjuk Big Ben. “Tapi aneh, hidup kita justru penuh keterlambatan...

Di Antara Angin, dan Rasi Bintang

Gambar
Di malam Arashiyama yang sunyi, langit menggantung seperti surat tak terkirim— biru tua, luka, dan cahaya yang jauh.  Aku berdiri di jembatan kayu tua, memandangi sungai yang mengalir seperti waktu, dan bertanya: di mana rindu pergi saat tak ada yang mendengar? Bintang-bintang menggurat cerita di atas sana, rasi Orion, Cassiopeia, dan anak-anak langit lainnya, menyusun angan-angan yang tak pernah selesai kutulis. Katamu dulu, "Jika kita terpisah, lihat saja rasi yang sama." Tapi malam ini, langit terlalu luas, dan aku terlalu kecil untuk menemukanmu. Rindu, barangkali, adalah hujan yang tak jatuh, hanya menggantung di antara kelopak mata dan langit. Dan angan-angan? Ia adalah jembatan tipis antara 'seandainya' dan 'mustahil', dibangun dari kenangan yang tak bisa mati, dan harapan yang tak bisa tumbuh. Kadang aku ingin menjadi bintang, meski tak terang, asal bisa terlihat dari tempatmu berdiri. Karena setiap malam, aku masih menatap ke atas, bukan untuk mencari...

Setan Dalam Penyamaran

Gambar
London tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya beralih wajah, dari kesibukan siang hari yang penuh jas dan kopi, ke malam yang dipenuhi kabut, neon, dan bayangan yang lebih jujur dari orang-orangnya. Di balik bangunan-bangunan batu bergaya Victoria yang masih berdiri kokoh, manusia modern berlarian dengan ambisi yang sama tuanya dengan dosa: kekuasaan, uang, pengakuan. Di situlah seorang pria berdiri, tampak lebih manusiawi daripada manusia lain. Namanya Adrian Blackwell. Sosok yang digambarkan surat kabar sebagai “the gentleman of the people”, calon pemimpin baru yang diyakini akan membersihkan kota dari korupsi, kebusukan, dan kebohongan. Ironis, karena kebohongan itulah yang menjadi napasnya. Adrian bukanlah manusia. Ia adalah sesuatu yang lebih tua dari kabut Thames, lebih gelap dari lorong-lorong Soho. Ia adalah setan dalam penyamaran, meski tidak ada tanduk atau sayap. Yang ada hanya jas hitam buatan tangan, dasi sutra, sepatu kulit mengilap, dan senyum yang bisa membuat seorang...