Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Tuan Tanah

Gambar
Ia duduk di atas kursi tua, di tanah luas yang bukan miliknya jua. Ladang digarap oleh tangan renta, tapi hasilnya masuk ke sakunya. Petani menunduk dalam debu, sementara ia bersulang di balik pintu. Tuan Tanah, pemilik segel dan kata, tapi tak pernah cicip peluh dan luka. Tanah subur, rakyat lapar, keadilan tertidur di ranjang sabar. Tuan Tanah tertawa lantang— di atas nyawa yang ia genggam.

3 AM

Gambar
Pukul tiga pagi. Lampu meja masih menyala redup, menyinari secarik foto usang di tangan Roman. Ia duduk di tepi ranjang, matanya sembab tapi tak menangis. Entah sudah berapa malam ia terbangun di jam yang sama, seakan tubuhnya tahu bahwa ada sesuatu yang belum selesai. Foto itu menampilkan dua anak remaja tertawa di bawah pohon flamboyan. Roman dan Aluna. Dulu. Dulu, sebelum mereka saling menjauh. Dulu, sebelum Roman memilih diam daripada kejujuran. Dulu, sebelum perpisahan jadi satu-satunya bahasa yang mereka mengerti. Tiga tahun berlalu. Aluna telah pergi tanpa pamit, membawa seluruh cahaya yang dulu Roman pikir akan abadi. Mereka tak pernah bertengkar hebat, tapi juga tak pernah menyelesaikan apa pun. Kata-kata yang seharusnya diucapkan mengendap jadi abu. Dan setiap pukul tiga pagi, abu itu mengendap di dada Roman. Ia bangkit pelan, menuju jendela yang berkeringat dingin. Kota tampak mati, sepi seperti hatinya. Di luar sana, lampu jalan berkedip malas, menyorot ba...

Tempat Persembunyian

Gambar
Di dunia yang tak pernah benar-benar terang atau gelap, ada sebuah tempat yang hanya muncul saat hujan turun. Orang-orang menyebutnya Tempat Persembunyian. Bukan karena tempat itu tersembunyi secara fisik, melainkan karena hanya mereka yang ingin bersembunyi yang bisa menemukannya. Eira pertama kali menemukan tempat itu saat berusia sembilan tahun. Saat itu, hujan mengguyur kota dengan muram yang sempurna. Ia berlari dari rumah, membawa selembar surat yang belum sempat ia kirimkan kepada ibunya yang telah pergi tiga bulan lalu. Ia tidak tahu ke mana hendak melangkah—hanya mengikuti suara hatinya yang lirih. Dan di persimpangan yang basah, di antara toko roti yang tutup dan gedung kosong yang berlumut, ia menemukannya—sebuah gang sempit yang sebelumnya tak ada, dengan cahaya temaram yang mengundang masuk. Di dalam gang itu, dunia berubah. Udara menjadi hangat. Suara hujan menghilang. Lantai yang ia injak bukan lagi aspal, tapi rumput halus yang membelai kaki. Di depannya ter...

Bahasa Yang Terlupa

Gambar
Kota itu tidak berdenyut, tidak bergerak, tidak berubah. Langitnya kelabu selamanya, dan kabut menggulung seperti napas dingin dari dunia yang menolak kehidupan. Mereka menyebutnya Necrovia—Kota Para Mati. Bukan karena penduduknya mayat, tapi karena siapa pun yang masuk ke sana akan kehilangan sesuatu. Identitas, suara, ingatan, atau lebih buruk: kemanusiaannya. Dan di sebuah ranjang logam di tengah rumah terbakar yang membusuk, seorang anak terbangun. Namanya—tidak dia tahu. Umurnya? Tidak penting. Yang dia tahu hanyalah panas. Api menjilat dari setiap sudut ruangan, dan dinding berderak seperti tulang patah. Namun tubuhnya tetap diam, terikat rantai tak kasatmata pada tempat tidur besi. Lidahnya kelu. Suaranya tertahan di tenggorokan. Ia mencoba berteriak, namun yang keluar hanyalah… lagu. Sebuah lagu yang aneh, bergema dari mulut-mulut yang tidak bergerak. Lagu yang tak dimengerti orang waras—bahasa yang terlupa, mungkin. Ia menghirup asap dan merasakan tubuhnya perlahan...

I Don't Belong In This Earth

Gambar
I don’t belong in this earth— Where hearts wear masks and words are worth Less than silence in a storm of lies, Where truth is traded, and hope just dies. I walk unseen on crowded streets, A ghost with flesh, with unheard beats. I speak, but echoes fade to gray, Like dreams that vanish with the day. The sky is wide but feels too low, Its stars too distant, faint in glow. The sun too harsh, the moon too pale, No wind to lift my broken sail. I touch the ground, but feel no root, The soil rejects my tender shoot. This body walks, this soul just waits Behind closed doors and rusted gates. I don’t belong in this cruel sphere, Where kindness starves, and hate draws near. Where every smile might hide a knife, And joy’s a myth dressed up as life. My voice was born in silent songs, My soul in skies where light belongs. I crave a world not carved by men, Where peace is more than ink and pen. So let me drift beyond this plane, Past noise, past fear, past grief and pain. For I’m a stra...

Rindu Itu Bernama Ayah

Gambar
Langit sore itu berwarna oranye lembut, seperti lukisan yang baru saja disapu kuas. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara burung-burung yang hendak pulang ke sarangnya. Di beranda kecil rumah kayu yang sederhana, seorang gadis berusia tujuh belas tahun duduk diam. Namanya Lila. Di tangannya tergenggam secarik foto yang warnanya mulai pudar. Seorang pria berkumis tipis tersenyum dalam foto itu, mengenakan seragam dinas kehutanan. Di sisinya, seorang gadis kecil duduk di pangkuannya, memeluk erat dengan mata berbinar. “Lila kecil yang dulu selalu tertawa di pangkuan Ayah,” gumamnya lirih, seakan berharap angin akan menyampaikan kalimat itu ke tempat di mana Ayah berada kini. Sudah enam tahun sejak kabar itu datang. Ayahnya, Pak Damar, hilang saat bertugas memadamkan kebakaran hutan di perbatasan Kalimantan. Tim SAR hanya menemukan sisa topi dinas dan ransel yang terbakar sebagian. Tidak ada jenazah. Tidak ada kepastian. Hanya satu kata: hilang. Sejak saat...

Tanah yang Menangis di Bawah Langit Yang Tertembus

Gambar
  Di tanah yang disiram darah setiap pagi, ada doa-doa yang tak sempat menjadi bisik. Langit retak oleh dentuman baja, dan bumi menelan anak-anak yang belum sempat dewasa. Gaza—kau bukan hanya nama di peta, kau luka yang menganga di hati manusia. Kota yang menahan nafas, di antara reruntuhan dan puing-puing cinta yang disayat paksa. Mereka tidak mati karena ajal, mereka dibunuh oleh diamnya dunia. Rumah-rumah berubah jadi abu dan serpih, lantai tidur digantikan debu dan tangis. Anak kecil bermain di kuburan ayahnya, menyebut nama yang dulu membacakan doa tidur. Ibu mengunyah rumput demi menyusui bayi, karena dapur kini hanya berisi kenangan pahit. Laut pun menjadi saksi, bagaimana nyawa lebih murah dari peluru. Langit Palestina tak lagi biru, ia kelabu oleh bom yang jatuh seperti hujan tak berbelas. Israel datang bukan sebagai musafir, tapi sebagai penjagal dengan seragam diplomasi. Mereka menanam bendera di atas jenazah, dan menyebutnya "hak warisan nenek m...

Makna Merdeka, Suara yang Tak Padam

Gambar
Merdeka bukan sekadar tiupan sangkakala, bukan pekik sorak di ujung senjata. Ia ruh yang hidup dalam dada, ia nurani yang jernih menolak dusta. Kebebasan bukan liarnya angkara, bukan berjalan sesukanya langkah kaki. Tetapi bebas memilih jalan yang mulia, meski sempit, meski sunyi. Keadilan bukan adil menurut lidah berkuasa, melainkan setimbang di timbangan langit. Ia memihak yang lemah tanpa suara, ia menegakkan hak yang sering dihimpit. Apa guna merdeka jika batin terjajah? Jika kata dibungkam, jika fikir dibelah? Apa arti bebas bila hati dibui tamak? Jika hukum tunduk pada harta dan gelap? Kemerdekaan adalah cahaya yang suci, dititipkan Tuhan pada bangsa yang mau mengerti. Ia lahir dari tetes darah dan air mata, bukan hadiah, bukan sekadar kata. Maka jagalah ia seperti engkau menjaga iman, dengan jujur, dengan sabar, dengan amal yang dalam. Karena kemerdekaan sejati bukan warisan nenek moyang, melainkan janji kita pada Tuhan: menjadi adil, berani, dan tetap ma...

Langit Yang Tak Bisa Mereka Rebut

Gambar
  Di antara puing-puing beton dan debu yang terus beterbangan, di suatu pagi yang tak membawa janji apa pun selain deru drone dan letusan mortir, Mariam bangun dari tidur-tidur ayamnya. Ia tidur di sudut ruangan yang setengah hancur—sebuah rumah sakit yang pernah berdiri megah di Khan Younis, kini hanya tinggal kerangka. Ibunya telah tiada. Ayahnya menghilang entah ke mana sejak serangan terakhir. Yang tersisa hanya adiknya, Nabil, bocah empat tahun yang belum sepenuhnya mengerti kenapa dunia seperti ini. “ Hari ini kita dapat roti, Kak?” tanya Nabil, mengucek mata kecilnya yang merah karena debu. Mariam menatap kantong plastik kosong di sudut. Ia menahan napas dan tersenyum kecil, meski senyum itu serupa luka terbuka. “Insya Allah. Kita coba ke barat, ke sekolah tua itu. Katanya hari ini ada distribusi bantuan.” “ Ada susu juga?” Senyum Mariam retak. Ia mengangguk pelan, “Iya. Mungkin.” Lalu mereka melangkah, menembus reruntuhan dan jalan-jalan penuh kawah bekas ...

Langkah Kecil Menuju Rumah

Gambar
  Aku tak tahu dari mana asalku, selain dari lorong-lorong basah dan tempat sampah yang selalu ramai di malam hari. Aku hanya tahu bahwa aku lahir di dunia yang dingin, keras, dan tidak pernah benar-benar menginginkanku. Sejak kecil, aku hidup di antara suara klakson dan langkah manusia yang terburu-buru. Tak satu pun dari mereka pernah menoleh ke arahku. Tak satu pun berhenti. Tanganku pernah diinjak tanpa sengaja, tubuhku pernah dilempar batu hanya karena aku mendekat saat lapar. Bahkan sesama kucing pun berebut makanan dan saling mencakar. Aku tumbuh dengan belajar diam, menjauh, dan tidak berharap. Aku tidak tahu apa itu rumah. Aku tidak tahu apa artinya dielus. Yang kutahu, hidup adalah bertahan. Tidur di bawah kontainer saat hujan. Mencuri ikan dari pasar saat lapar. Lari sebelum diseret pergi oleh manusia dengan suara keras dan benda panjang di tangannya. Kadang, aku berharap hari esok tidak datang. Kadang aku bertanya dalam diam—untuk apa aku ada? Lalu suatu sore, saat ...

Revolusi Tidak Disiarkan

Gambar
  Aku menulis surat wasiat bukan karena ingin didengar, tapi agar ketika kelak namaku jadi abu, ada yang bersedia membaca dengan kepala menunduk, bukan menertawakan dari balkon kekuasaan. Kepada Tuan yang Mulia, Aku mati hari ini. Tenang saja, bukan karena kau suruh. Bukan karena senapanmu. Bukan karena peraturanmu yang membungkus tirani dalam selimut demokrasi. Aku mati karena aku muak. Karena kalian terlalu sibuk berbicara tentang negara, hingga lupa kalau negara ini isinya manusia. Kota ini penuh dengan lampu dan doa-doa palsu. Gedung-gedung berdiri seperti dewa-dewa batu yang menatap ke bawah, menghakimi rakyat kecil yang tak bisa membayar sewa. Aku hidup di gang sempit, diapit oleh jendela yang tak pernah ditutup dan suara televisi yang selalu bicara tentang pemilu, sementara perut kami keroncongan tanpa undangan debat. Setiap malam aku bermimpi, bahwa dunia ini terbakar dan semua birokrat berubah jadi abu. Aku bangun dengan senyum. Tapi realita lebih pan...

Nafas Terakhir, di Jurang Dalam

Gambar
  Dalam kubangan jiwa yang membusuk, aku tenggelam, terjerat dalam sunyi pekat. Darah kering menetes dari luka yang tak terlihat, setiap helaan napas adalah jeritan tanpa suara. Mati saja—bisik angin yang menggila di relung kalbu, menghancurkan serpihan harap yang pernah tumbuh. Tubuh ini hanyalah mayat hidup, terperangkap dalam lorong gelap tanpa ujung. Keping jiwa terpecah, terlempar ke dasar jurang, berderai dalam dingin yang melumat nurani. Tiada cahaya, tiada belas kasihan, hanya kegelapan, memaksa aku menyatu dengan kehampaan. Luka ini bukan lagi rasa, melainkan neraka yang merayap perlahan, menjilat setiap inci harapan yang tersisa, hingga aku hanya ingin lenyap, tanpa jejak. Jiwa ini, makhluk yang terluka tanpa nama, menangis dalam diam, menjerit tanpa gema. Mati saja, kataku, lepaskan aku dari neraka tubuh ini, biarkan aku hanyut dalam sunyi yang paling abadi.  

Tumbang di Ujung Paru-paru

Gambar
Namanya Leman . Ia dilahirkan di tengah barisan pohon meranti dan ulin, di sebuah dusun kecil yang bahkan tak masuk peta. Sejak kecil, Leman tak mengenal kata “properti”—tanah adalah tubuh mereka, hutan adalah ibu mereka, dan sungai adalah tempat mereka mencuci luka dan cerita. Ayahnya seorang pembuat rakit. Ibunya memintal tikar dari daun pandan. Mereka hidup dari hasil hutan tanpa merusaknya. Ketika Leman tumbuh besar, ia mulai mengenali suara-suara hutan lebih akrab dari suara radio: burung rangkong di pagi hari, siamang yang bersahutan, dan ranting yang patah perlahan jika dipijak binatang besar. Namun semua itu tinggal kenangan. Kini, Leman berdiri di atas tanah yang dulu hutan—kini lapang, panas, dan berbau oli. Di belakangnya berdiri ekskavator kuning seperti hewan purba. Di depannya, terbentang kebun sawit yang baru saja ditanam. Lurus, steril, seperti barisan pasukan. Ia mengingat malam itu, saat mereka dibangunkan deru mesin. Sebuah perusahaan datang, mengantongi izin dar...

Karnaval Janji, dan Karung Kosong

Gambar
  Ketika matahari menyingsing di ufuk timur, Bapak Menteri Janji menggelar konferensi pers, sembari memamerkan senyum lebar—lebih cerah daripada lampu LED kota. Di depannya, para jurnalis siap dengan kamera dan mikrofon, wajah mereka terlihat senantiasa penuh harap—atau paling tidak, penuh kebutuhan akan headline. “Bapak‑Bapak, Ibu‑Ibu, rakyat yang aku cintai,” ujar Menteri Janji, mengawali jargon wajibnya, “kita telah mencapai pencapaian luar biasa…” Para jurnalis mencatat dengan penuh semangat, seolah sedang mendengar prophecy datang dari gunung. “Inflasi terkendali,” “lapangan kerja meningkat,” “infrastruktur merata”—dan seterusnya. Sepotong kalimat lagi, lalu klipnya diunggah ke media sosial, lengkap dengan caption motivasi. Di layar televisi, grafis bergerak mendukung narasi bak final Piala Dunia. Sementara itu, di pusat kota, Pak Dompo dengan sepetak warung kopi kecilnya sedang mencatat pengeluaran harian. Secangkir kopi hangat sudah membuat kantongnya bolong sepuluh ribu r...

Tidak Terlihat

Gambar
Ethan Carter tidak pernah benar-benar hadir di mata orang lain. Bukan karena dia pendiam, atau karena dia aneh, atau karena dia miskin. Tapi karena dia membuat orang lain tidak nyaman. Mereka tak tahu kenapa, hanya merasa bahwa kehadiran Ethan seperti kabut yang busuk dan dingin: pelan, melekat, dan menusuk hingga ke tulang. Ia duduk di paling belakang kelas 5B, SD Westbrook. Tak ada yang mau duduk dengannya. Tak ada yang bicara padanya, kecuali untuk menghinanya. Bahkan Mr. Reynolds, wali kelas mereka, seolah bersyukur karena Ethan tidak pernah mengangkat tangan, tidak pernah membuat keributan, dan tidak pernah "mengganggu". Tapi mereka semua tetap memperhatikannya. Bukan karena rasa peduli—melainkan karena rasa ingin menghancurkan. Ethan menggambar hal-hal yang membuat perut mual. Sosok-sosok manusia tanpa mata. Bayi dengan wajah meleleh. Sekolah mereka dalam kobaran api. Setiap gambar diberi judul kecil di bawahnya: “Yang Mereka Layak Dapatkan”. Suatu hari, saa...

Negeri Absurdisme

Gambar
  Katanya demokrasi, tapi kritik dibungkam, katanya kaya sumber daya, tapi rakyat makan harapan. Pejabat selfie di lokasi banjir, netizen sibuk klarifikasi sendiri, hukum tajam ke miskin, tumpul ke pemilik tambang dan menteri. Sekolah mahal, tapi lulusan ditanya: “Punya relasi?” Pajak naik, sementara koruptor senyum di podcast pagi. Oh, wahai negeri, kau indah di lagu kebangsaan, tapi nyata seperti lelucon murahan yang terlalu pahit untuk ditertawakan.   Depok, 30 Juni 2025